SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Misionaris

Misionaris

Misionaris
Misionaris

 

SURAU.CO – 1. Asal-usul kata misionaris
Kata misionaris berasal dari bahasa Latin missio, yang berarti pengutusan/pengiriman, dari kata mittere yang berarti “mengutus” atau “mengirim”. Dalam bahasa Eropa, missionary kemudian digunakan untuk menyebut orang yang diutus untuk menjalankan misi keagamaan, khususnya dalam tradisi Kristen. Istilah missionary sebagai kata benda tercatat dalam bahasa Inggris sejak abad ke-17.

Secara bahasa

missio → mission → missionary → misionaris

Makna dasarnya sebenarnya bukan “orang Kristen”, tetapi orang yang diutus untuk suatu misi.

Dalam sejarah penggunaannya, istilah tersebut menjadi sangat kuat kaitannya dengan penyebaran agama Kristen.

Merajut Rumah Tangga Yang Bahagia: Cinta, Komunikasi, dan Kesabaran dalam Membangun Keluarga Sakinah

  1. Siapa pendiri misionaris?

Di sini perlu dibedakan antara istilah “misionaris” dan gerakan misionaris Kristen.

Tidak tepat mengatakan bahwa ada satu orang yang “mendirikan misionaris”. Aktivitas mengutus pembawa ajaran sudah muncul sejak masa awal Kekristenan. Sumber sejarah Kristen menyebut para rasul sebagai orang-orang yang diutus untuk menyebarkan ajaran mereka.

Dalam tradisi Kristen, Yesus dipandang mengutus para muridnya. Dua belas rasul menjadi kelompok awal dalam misi tersebut. Setelah itu muncul tokoh-tokoh seperti Stefanus, Filipus, Barnabas, dan terutama Paulus.

Karena itu, kalau pertanyaannya:
“Siapa misionaris pertama?”
Jawabannya tergantung definisinya.
Secara konsep: para rasul awal.

Dalam sejarah penyebaran Kekristenan kepada bangsa non-Yahudi: Paulus merupakan tokoh yang sangat menonjol dan sering disebut sebagai misionaris Kristen besar pertama.

Amanah

Sebagai istilah “missionary” modern: istilah tersebut baru berkembang jauh kemudian, sehingga tidak tepat menyebut Paulus sebagai “pendiri istilah misionaris”.

  1. Bagaimana Islam memandang aktivitas penyebaran agama?

Islam juga mengenal dakwah, yaitu mengajak manusia kepada Alloh.

Tetapi metode dakwah Islam mempunyai prinsip yang sangat jelas:

اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik…”
QS. An-Nahl 16:125.

Metode Syar’i Membasmi Korupsi

Ada tiga prinsip penting:

  1. Bil-ḥikmah — dengan hikmah
    Tidak asal menyerang, menghina, atau memprovokasi.

  2. Al-mau‘iẓah al-ḥasanah — nasihat yang baik

Menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

  1. Jādilhum billatī hiya aḥsan — berdialog dengan cara yang terbaik

Perbedaan keyakinan tidak menjadi alasan untuk melakukan penghinaan

  1. Islam tidak membenarkan pemaksaan agama

Alloh berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.”
QS. Al-Baqarah 2:256.

Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa Islam tidak membutuhkan pemaksaan karena kebenaran dan argumentasinya harus disampaikan secara jelas; seseorang tidak dipaksa untuk masuk Islam.

Maka menghadapi aktivitas misionaris bukan dengan kebencian kepada orangnya, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan keteguhan iman.

  1. Bagaimana seorang Muslim menghadapi misionaris?

Menurut prinsip Al-Qur’an, responsnya dapat dirumuskan:

Kenali → Pahami → Jawab → Jangan Memaksa

Kenali:

Pahami apa yang sebenarnya diajarkan, jangan melawan sesuatu yang belum dipahami.

Pahami:
Pelajari Al-Qur’an, hadis, tauhid, dan sejarah agama dengan benar.

Jawab:
Jika terjadi dialog, gunakan argumentasi yang baik.

Alloh berfirman:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, kecuali dengan cara yang paling baik…”
QS. Al-‘Ankabut 29:46.

Jangan memaksa

Tugas seorang Muslim adalah menyampaikan, bukan menguasai hati orang lain.

  1. Hadis Nabi SAW

Rosululloh SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
HR. Bukhari.

Ini menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Tetapi “menyampaikan” tidak sama dengan memaksa.

Bahkan Nabi SAW mengingatkan:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”

Prinsip ini sangat relevan dalam menghadapi perbedaan agama.

  1. Pandangan ulama: dakwah harus disertai ilmu dan akhlak

Para ulama menjelaskan bahwa dakwah bukan sekadar menang debat, tetapi membawa manusia kepada kebenaran dengan cara yang benar.

Karena itu, seorang Muslim yang menghadapi misionaris jangan sampai:
membalas kebencian dengan kebencian,
membalas penghinaan dengan penghinaan,
atau membalas pemaksaan dengan pemaksaan.

Justru kualitas Islam ditunjukkan melalui ilmu + hikmah + akhlak + keteguhan tauhid.

Renungan

“Misionaris adalah orang yang merasa dirinya diutus untuk menyampaikan misi.

Muslim pun memiliki tugas dakwah, tetapi dakwah Islam tidak dibangun dengan pemaksaan.

Kebenaran disampaikan dengan hikmah, dibela dengan ilmu, dan ditampilkan melalui akhlak.”

Dengan demikian, menghadapi misionaris bukan berarti memusuhi manusia karena agamanya. Yang dilakukan seorang Muslim adalah menjaga akidah, memahami agamanya sendiri, berdialog secara santun, dan menyerahkan hidayah kepada Alloh.

Dakwah bukan perlombaan untuk mengalahkan manusia; dakwah adalah usaha menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan akhlak. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.