SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beranda » Berita » Merajut Rumah Tangga Yang Bahagia: Cinta, Komunikasi, dan Kesabaran dalam Membangun Keluarga Sakinah

Merajut Rumah Tangga Yang Bahagia: Cinta, Komunikasi, dan Kesabaran dalam Membangun Keluarga Sakinah

Cinta, Komunikasi, dan Kesabaran dalam Membangun Keluarga Sakinah
Cinta, Komunikasi, dan Kesabaran dalam Membangun Keluarga Sakinah

SURAU.CO – Pendahuluan; Rumah tangga bukan sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan. Rumah adalah tempat hati menemukan ketenangan, tempat cinta dipelihara, tempat anak-anak belajar tentang kehidupan, sekaligus tempat suami dan istri saling menguatkan dalam perjalanan menuju ridha Allah.

Setiap pasangan tentu mendambakan keluarga yang bahagia. Namun, kebahagiaan rumah tangga tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus dirajut dengan iman, cinta, komunikasi, kesetiaan, kesabaran, saling menghargai, dan kesediaan untuk memaafkan.

Allah Swt. berfirman:

«وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً»

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. al-Rum [30]: 21).

Amanah

Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang tujuan pernikahan. Pernikahan bukan hanya hubungan biologis atau ikatan administratif, melainkan sebuah ikatan yang menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Sakinah: Rumah sebagai Tempat Pulang

Sakinah berarti ketenteraman dan ketenangan. Rumah tangga yang sakinah adalah rumah yang membuat suami dan istri merasa aman secara lahir maupun batin.

Ada orang yang memiliki rumah megah, tetapi tidak menemukan ketenangan di dalamnya. Sebaliknya, ada keluarga yang hidup sederhana, tetapi setiap anggota keluarga merasa nyaman ketika berada di rumah.

Ukuran kebahagiaan keluarga tidak selalu ditentukan oleh banyaknya harta. Kekayaan memang penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi ia bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.

Rumah yang bahagia adalah rumah tempat suami tidak takut pulang, istri tidak merasa sendirian, dan anak-anak merasa dicintai.

Metode Syar’i Membasmi Korupsi

Karena itu, rumah hendaknya menjadi tempat pertama untuk menanamkan nilai-nilai keimanan.

Rasulullah saw. bersabda:

«“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”¹»

Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak cukup dilihat dari bagaimana ia berinteraksi dengan masyarakat. Kebaikan yang sesungguhnya juga terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan keluarganya.

Seseorang mungkin terlihat ramah di luar rumah, tetapi mudah marah kepada istri dan anak-anaknya. Padahal, keluarga adalah orang-orang yang paling berhak mendapatkan akhlak terbaik.

Ancaman Deepfake Mengintai Pemilu, Bawaslu Siapkan Pengawasan Digital Berbasis Risiko

Mawaddah: Memelihara Cinta

Cinta dalam rumah tangga bukan sekadar perasaan yang muncul ketika pertama kali menikah. Cinta harus dirawat sepanjang kehidupan.

Pada awal pernikahan, perhatian kecil mungkin terasa sangat istimewa. Setelah bertahun-tahun menikah, perhatian yang sama bisa dianggap biasa. Di sinilah pentingnya menjaga mawaddah.

Cinta perlu diungkapkan melalui tindakan sederhana: mengucapkan terima kasih, meminta maaf, menanyakan keadaan pasangan, membantu pekerjaan rumah, memberikan perhatian, dan meluangkan waktu untuk berbicara.

Kadang-kadang keretakan rumah tangga bukan karena masalah besar, melainkan karena terlalu banyak masalah kecil yang dibiarkan menumpuk.

Kalimat sederhana seperti “terima kasih”, “maaf”, “aku memahami perasaanmu”, dan “mari kita selesaikan bersama” dapat menjadi jembatan ketika hubungan mulai renggang.

Cinta juga berarti menerima pasangan sebagai manusia yang memiliki kekurangan.

Allah berfirman:

«وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ»

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. al-Nisa’ [4]: 19).

Ayat tersebut mengajarkan agar hubungan suami istri dibangun dengan ma‘ruf, yaitu perlakuan yang baik, patut, dan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan.

Rahmah: Belajar Memahami Kekurangan

Jika mawaddah adalah cinta, maka rahmah adalah kasih sayang yang membuat pasangan mampu bertahan ketika cinta sedang diuji.

Dalam perjalanan rumah tangga, tidak selamanya pasangan berada dalam keadaan sehat, lapang, dan menyenangkan. Ada masa sakit, kesulitan ekonomi, kelelahan, perbedaan pendapat, dan berbagai persoalan kehidupan. Pada saat itulah rahmah diperlukan.

Ketika pasangan melakukan kesalahan, jangan langsung menghakimi. Ketika pasangan sedang lelah, jangan menambah beban. Dan Ketika terjadi perbedaan pendapat, jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.

Rumah tangga membutuhkan dua orang yang bersedia berkata, “Kita hadapi masalah ini bersama,” bukan dua orang yang sibuk mencari siapa yang paling salah.

Komunikasi: Jembatan dalam Rumah Tangga

Banyak persoalan keluarga sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Sayangnya, tidak sedikit pasangan yang tinggal dalam satu rumah tetapi jarang berbicara dari hati ke hati.

Komunikasi bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan.

Suami perlu belajar mendengarkan cerita istrinya. Istri juga perlu memberikan ruang bagi suami untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.

Jangan membiasakan menyelesaikan masalah ketika emosi sedang memuncak. Dalam keadaan marah, seseorang sering mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin ia katakan. Luka akibat ucapan terkadang jauh lebih lama sembuh daripada luka fisik.

Rasulullah saw. mengingatkan:

«لَا تَغْضَبْ»

“Jangan marah.”²

Pesan ini sangat singkat, tetapi memiliki makna yang dalam. Mengendalikan amarah adalah salah satu kunci menjaga keharmonisan rumah tangga.

Ketika emosi meningkat, diam sejenak. Berwudu, mengambil waktu untuk menenangkan diri, kemudian membicarakan persoalan dengan kepala dingin.

Jangan Membandingkan Pasangan

Salah satu kebiasaan yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga adalah membandingkan pasangan dengan orang lain.

“Suami orang lain lebih perhatian.”

“Istri orang lain lebih pandai mengurus rumah.”

“Lihat tetangga kita, ekonominya lebih baik.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin dianggap ringan, tetapi dapat menumbuhkan rasa rendah diri dan kekecewaan.

Setiap keluarga memiliki perjalanan masing-masing. Jangan mengukur rumah tangga sendiri dengan tampilan keluarga lain yang kita lihat dari luar.

Bisa jadi kita melihat kebahagiaan mereka, tetapi tidak mengetahui perjuangan mereka.

Karena itu, belajarlah mensyukuri pasangan. Fokuslah memperbaiki apa yang ada dalam rumah sendiri.

Membangun Rumah Tangga dengan Ibadah

Keluarga Muslim tidak cukup hanya harmonis secara sosial. Rumah tangga juga harus menjadi tempat tumbuhnya ketakwaan.

Allah Swt. berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا»

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. al-Tahrim [66]: 6).

Ayat ini memberikan tanggung jawab besar kepada setiap kepala keluarga dan seluruh anggota keluarga untuk menjaga diri dan keluarganya dari keburukan.

Rumah tangga yang bahagia semestinya memiliki tradisi ibadah: salat berjamaah jika memungkinkan, membaca Al-Qur’an, berdoa bersama, saling mengingatkan untuk berbuat baik, serta membiasakan anak-anak mencintai masjid dan ilmu agama.

Kebahagiaan yang dibangun hanya dengan harta akan mudah goyah. Namun, kebahagiaan yang dibangun di atas iman memiliki fondasi yang lebih kokoh.

Anak Belajar dari Rumah

Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat orang tua. Mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.

Jika orang tua membiasakan berkata lembut, anak akan belajar kelembutan. Jika orang tua saling menghormati, anak belajar menghormati. Serta Jika orang tua mudah bertengkar dan saling menghina, anak pun dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Karena itu, pendidikan keluarga dimulai dari keteladanan.

Jangan hanya menyuruh anak rajin salat sementara orang tua meninggalkan salat. Jangan hanya meminta anak berbicara sopan sementara orang tua sering berkata kasar.

Rumah adalah madrasah pertama. Ayah dan ibu adalah guru pertama. Maka, suasana rumah sangat menentukan pembentukan karakter anak.

Belajar Memaafkan

Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Selama dua manusia hidup bersama, perbedaan akan selalu ada.

Karena itu, pasangan suami istri harus memiliki kemampuan untuk memaafkan.

Allah Swt. berfirman:

«وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ»

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. al-Nur [24]: 22).

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan masa lalu menghancurkan masa depan.

Rumah tangga akan terasa berat jika setiap kesalahan pasangan disimpan sebagai “arsip” untuk digunakan kembali ketika terjadi pertengkaran.

Jangan jadikan kesalahan masa lalu sebagai senjata.

Jika sudah saling meminta maaf dan berdamai, belajarlah menutup lembaran tersebut.

Bersyukur atas Pasangan

Salah satu rahasia kebahagiaan adalah kemampuan melihat kebaikan pasangan.

Rasulullah saw. bersabda:

«“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai suatu perangainya, ia akan menyukai perangainya yang lain.”³»

Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam melihat pasangan. Jangan sampai satu kekurangan membuat kita melupakan puluhan kebaikan yang telah diberikan.

Suami mungkin memiliki kekurangan, tetapi ia juga telah berjuang mencari nafkah. Istri mungkin memiliki kekurangan, tetapi ia juga telah mencurahkan tenaga untuk keluarga.

Ketika hati mulai kecewa, ingatlah kembali kebaikan pasangan.

Rumah Tangga adalah Perjalanan Bersama

Pernikahan bukan perlombaan mencari siapa yang paling benar. Pernikahan adalah perjalanan bersama menuju tujuan yang sama.

Ada masa seseorang harus mengalah. Ada masa pasangan membutuhkan dukungan. Serta Ada saatnya suami menjadi penguat bagi istri, dan ada saatnya istri menjadi tempat suami mendapatkan ketenangan.

Keluarga yang bahagia bukan keluarga yang tidak pernah memiliki masalah. Keluarga bahagia adalah keluarga yang memiliki cara yang sehat dan Islami dalam menghadapi masalah.

Mereka tidak membiarkan persoalan kecil menjadi besar. Mereka tidak membawa masalah rumah tangga ke media sosial. Dan mereka tidak menjadikan anak sebagai korban pertengkaran. Mereka belajar berdialog, bermusyawarah, dan jika diperlukan meminta bantuan orang yang bijaksana.

Penutup

Merajut rumah tangga bahagia membutuhkan proses yang panjang. Ia tidak cukup dengan cinta pada hari pernikahan, tetapi membutuhkan cinta yang diperbarui setiap hari.

Sakinah membutuhkan ketenangan. Mawaddah membutuhkan cinta yang dipelihara. Rahmah membutuhkan kasih sayang dan kesediaan memahami kekurangan.

Rumah tangga yang bahagia bukan rumah tanpa masalah, melainkan rumah yang ketika masalah datang, suami dan istri memilih untuk berdiri di sisi yang sama.

Jangan melawan pasangan ketika menghadapi masalah. Lawanlah masalah bersama pasangan.

Jangan bertanya, “Siapa yang salah?” sebelum bertanya, “Apa yang bisa kita perbaiki?”

Dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya seseorang yang selama ini berada di samping kita.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, keluarga yang saling mencintai karena Allah, saling menguatkan dalam kebaikan, dan bersama-sama menuju surga-Nya.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا لِلسَّكِينَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ

“Ya Allah, berkahilah keluarga kami dan jadikanlah rumah-rumah kami sebagai rumah yang dipenuhi ketenangan, cinta, dan kasih sayang.”

Catatan Kaki

  1. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6039.
  2. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6116.
  3. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Rada‘, hadis no. 1469.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn Kathir, Isma‘il ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
Wahbah al-Zuhayli. Al-Tafsir al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.