SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Kiblat

Kiblat

Kiblat
Kiblat
DAFTAR ISI

 

SURAU.CO – Dapat dikembangkan dengan membedakan antara kiblat secara fisik dan kiblat secara batin/qolbu, tetapi perlu hati-hati: dalam fikih, keduanya bukan dua kiblat yang saling menggantikan.

  1. Kiblat fisik: Ka’bah
    Alloh menetapkan arah kiblat dalam sholat:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” QS. Al-Baqarah: 144

Juga:

Empat Penghalang Datangnya Rezeki dalam Perspektif Islam: Telaah Ilmiah Populer Berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Penjelasan Imam Ibnul Qayyim

“Dan dari mana saja engkau keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…” QS. Al-Baqarah: 149–150

Karena itu, Ka’bah adalah kiblat lahiriah dalam pelaksanaan sholat. Nabi SAW juga melaksanakan sholat menghadap Ka’bah setelah turunnya perintah tersebut.

  1. Kiblat qalbu: Alloh
    Adapun istilah “kiblat qolbu” lebih tepat dipahami sebagai arah perhatian, ketundukan, cinta, dan keikhlasan hati kepada Alloh, bukan arah geografis pengganti Ka’bah.

Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
“Milik Alloh timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Alloh…” QS. Al-Baqarah: 115

Ayat ini tidak berarti manusia bebas mengganti kiblat sholat sesuka hati.

Rebo Wekasan, Apa dan Bagaimana Sejarahnnya

Para mufasir menjelaskan bahwa ayat tersebut mempunyai konteks tertentu, sedangkan perintah menghadap Masjidil Haram dalam sholat ditegaskan pada QS. Al-Baqarah 144, 149, dan 150.

  1. Hadis tentang hati
    Nabi SAW bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, di dalam jasad terdapat segumpal daging… ketahuilah, ia adalah hati.” HR. Bukhari dan Muslim

Hadis ini menjadi dasar penting bahwa keadaan batin mempunyai kedudukan besar dalam amal.

Bahkan Nabi SAW bersabda:

Papua Tanah Injil, Lalu Islam Masuk Dari Mana, Pace?

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat.” HR. Bukhari dan Muslim

Maka seseorang dapat menghadap Ka’bah secara jasmani, tetapi hatinya belum tentu benar-benar tertuju kepada Alloh.

  1. Pandangan ulama tasawuf
    Dalam tradisi tasawuf, perhatian terhadap qolbu sangat ditekankan. Para ulama seperti Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah bukan sekadar gerakan anggota badan, tetapi juga berkaitan dengan niat, kehadiran hati, ikhlas, dan pengenalan kepada Alloh.

Jadi dapat dirumuskan:

Kiblat fisik → Ka’bah
Kiblat qalbu → Alloh

Sholat yang sempurna → tubuh menghadap Ka’bah dan hati tunduk kepada Alloh.

Dengan demikian, istilah “dua kiblat” sebaiknya tidak dipahami sebagai dua pilihan dalam hukum sholat, melainkan dua dimensi penghadapan manusia kepada Alloh: lahir dan batin.

Renungan

Kiblat bukan hanya ke mana wajah diarahkan, tetapi juga ke mana hati dipertautkan.

Wajah menghadap Ka’bah adalah ketaatan kepada perintah Alloh.

Hati menghadap Alloh adalah kesadaran kepada siapa kita beribadah.

Jangan sampai tubuh telah menghadap kiblat, tetapi hati masih menghadap dunia.

Jangan pula seseorang mengaku hatinya menghadap Alloh, lalu meninggalkan kiblat yang telah ditetapkan-Nya.

Ka’bah adalah arah sholat; Alloh adalah tujuan pengabdian.

Di sinilah kiblat lahir bertemu dengan kiblat batin.

 

 

 

 

 


NASĪTU

Nasītu (نَسِيتُ) berarti “aku lupa”. Kata ini berasal dari akar kata Arab ن س ي (n-s-y) yang berkaitan dengan lupa atau terlupakan.

Namun, lupa tidak selalu sekadar kehilangan ingatan. Dalam kehidupan spiritual, nasītu dapat menjadi bahan perenungan:

«Aku lupa kepada sesuatu, tetapi apakah aku juga lupa kepada Alloh?»

Al-Qur’an mengingatkan:

«وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ

“Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Alloh, sehingga Alloh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” QS. Al-Hasyr: 19»

Ada dua macam lupa yang dapat direnungkan.

Pertama, lupa sebagai sifat manusia.
Manusia dapat lupa karena keterbatasan ingatan. Karena itu, Islam mengajarkan untuk saling mengingatkan, mencatat, mengulang, dan berdzikir.

Kedua, lupa sebagai kelalaian hati.
Ketika manusia terlalu sibuk mengejar dunia, ia dapat melupakan tujuan hidupnya. Yang lebih berbahaya bukan lupa terhadap nama atau peristiwa, tetapi lupa terhadap siapa yang memberi kehidupan.

Menariknya, Al-Qur’an juga menyebut manusia dengan sifat lupa dalam konteks tertentu:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ

“Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa…”
QS. Ṭāhā: 115

Maka nasītu dapat menjadi pelajaran:

Lupa mengajarkan manusia untuk mengingat.
Khilaf mengajarkan manusia untuk kembali.
Kelalaian mengajarkan manusia untuk sadar.

Karena itu, ketika berkata “nasītu” — aku lupa, jangan berhenti pada pengakuan bahwa ingatan kita terbatas. Jadikanlah ia pertanyaan kepada diri:

“Apa yang telah aku lupakan, dan apa yang seharusnya selalu aku ingat?”

Sebab manusia boleh lupa terhadap banyak perkara, tetapi jangan sampai lupa kepada Alloh, lupa kepada amanah, dan lupa kepada tujuan hidup. (Bambang JB.)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.