SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Rebo Wekasan, Apa dan Bagaimana Sejarahnnya

Rebo Wekasan, Apa dan Bagaimana Sejarahnnya

SURAU.CO. Tradisi tidak pernah lahir dalam ruang yang hampa. Setiap kebiasaan merupakan hasil interaksi manusia dengan zamannya. Berbagai pengalaman, keyakinan, dan lingkungan membentuk identitas sebuah masyarakat. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Rebo Wekasan.

Rebo Wekasan memiliki beberapa sebutan lain. Orang sering menyebutnya Rebo Kasan atau Rebo Pungkasan. Istilah “wekasan” dalam bahasa Jawa berarti akhir. Jadi, Rebo Wekasan secara sederhana berarti hari Rabu terakhir pada bulan Safar.

Sejarah Bulan Safar dan Meluruskan Mitos Kesialan

Kita perlu menengok sejarah untuk memahami tradisi ini secara utuh. Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Dalam sejarahnya, masyarakat Arab pra-Islam memiliki pandangan unik terhadap bulan ini. Mereka menganggap Safar sebagai bulan yang penuh kesialan.

Namun, Rasulullah Saw datang membawa pesan pencerahan. Beliau meluruskan pandangan keliru tersebut melalui sabdanya. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Saw menegaskan:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Malam ini Rebo Wekasan: Inilah Amalannya

Artinya: “Tidak ada kesialan dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”

Pesan hadis ini memiliki makna yang sangat mendalam bahwa Islam melarang manusia menggantungkan nasib pada putaran waktu. Waktu hanyalah makhluk ciptaan Allah Swt semata yang tidak memiliki kekuatan untuk menentukan nasib buruk seseorang dan semua peristiwa terjadi atas kehendak dan ilmu Allah Swt.

Jejak Rebo Wekasan dalam Literatur Ulama

Meskipun Hadis menolak mitos kesialan, pembahasan Rabu terakhir Safar muncul dalam sejarah. Beberapa ulama menuliskan amalan khusus terkait hari tersebut. Pembahasan ini tertuang dalam berbagai kitab klasik yang menjadi rujukan.

Kita bisa menemukan catatan ini dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur. Penulisnya adalah ulama besar Abdul Hamid Quds al-Makki. Syekh Nawawi al-Bantani bahkan membahasnya dalam kitab Nihayat al-Zain. Selain itu, kitab Mujarrabat al-Dayrabi juga mengulas hal serupa.

Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairabi (w.1151 H) dalam kitab Fathul Malik al-Majid al-Muallaf li Naf’il ‘Abid wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut Mujarrabat ad-Dairabi) menyatakan bahwa “Sebagian orang arif dari kalangan ahli kasyf (penyingkapan) dan tamkin (keteguhan rohani) menyebutkan bahwa setiap tahun turun 320 ribu bencana, dan semuanya turun pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Maka hari itu menjadi hari yang paling berat di sepanjang tahun”. (ad-Dairabi, Mujarrabat ad-Dairabi, [Beirut: Maktabah Tsaqafiyyah, tt.] h. 79). Selanjutnya beliau memberikan amalan untuk shalat, membaca al-Quran dan berdoa agar Allah menjaganya dari marabahaya.

Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim

Literatur lain seperti Na’t al-Bidayah dan Al-Jawahir al-Khams turut memperkaya referensi ini. Hal ini menunjukkan bahwa Rebo Wekasan memiliki akar dalam khazanah keislaman. Tradisi ini bukan sekadar dongeng masyarakat modern. Ada dasar literatur yang membicarakan doa dan amalan tertentu di akhir Safar.

Akulturasi Budaya dan Tradisi di Nusantara

Islam menyebar ke berbagai daerah dan bertemu dengan budaya masyarakat setempat. Di Nusantara, pertemuan itu melahirkan banyak tradisi keislaman yang khas, termasuk Rebo Wekasan. Karena itu, cara masyarakat menjalankannya pun berbeda-beda. Setiap daerah memiliki kebiasaan sendiri sesuai dengan tradisi yang sudah hidup di masyarakat.

Ada yang mengisinya dengan doa bersama, membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, dan bersedekah. Ada pula yang mengadakan pengajian atau selamatan. Di beberapa desa, masyarakat menggelar kenduri dengan berbagi makanan kepada tetangga. Selain sebagai ungkapan syukur, kegiatan itu juga menjadi cara masyarakat memohon keselamatan dan keberkahan kepada Allah Swt.

Keragaman Bentuk Perayaan di Berbagai Daerah

Cara masyarakat merayakan Rebo Wekasan berbeda-beda. Ada yang sederhana dengan doa dan ibadah, ada pula yang menggabungkannya dengan tradisi setempat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi bisa berubah mengikuti zaman dan kebiasaan masyarakat.

Perbedaan itu justru membuat tradisi semakin beragam. Rebo Wekasan bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang agama, budaya, dan kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kemerdekaan dan Keikhlasan

Memandang Tradisi dengan Kacamata Sejarah

Sejarah membantu kita memahami Rebo Wekasan dengan lebih tenang. Kita tidak harus menerima semua tradisi, tetapi juga tidak perlu langsung menolaknya. Rebo Wekasan sudah melewati perjalanan yang panjang. Berawal dari pemaknaan terhadap bulan Safar, kemudian dibahas oleh para ulama, hingga akhirnya dikenal dan berkembang di masyarakat Nusantara.

Rabu terakhir bulan Safar sebenarnya sama seperti hari lainnya. Hari tidak membawa kesialan dan bulan tidak menentukan nasib seseorang. Masyarakat memberi makna pada hari itu dengan doa, pengajian, sedekah, dan berkumpul bersama. Semua dilakukan sebagai bentuk syukur dan doa agar mendapat keselamatan dari Allah.

Pada akhirnya, Rebo Wekasan mengingatkan kita bahwa hidup penuh dengan hal yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Karena itu, kita berusaha, berdoa, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt. Safar akan berlalu, hari akan berganti, tetapi harapan kepada Allah Swt semoga selalu ada. (kareemustofa)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.