SURAU.CO – Pendidikan bukan sekadar membuat anak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia agar memiliki iman, ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan dengan baik. Karena itu, mendidik membutuhkan hati yang lembut sekaligus sikap yang tegas.
Kelembutan tanpa ketegasan dapat membuat anak kehilangan batas. Sebaliknya, ketegasan tanpa kelembutan dapat membuat anak tumbuh dalam ketakutan. Di antara keduanya terdapat jalan pendidikan yang seimbang: tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam cara menyampaikan.
Al-Qur’an memberikan pelajaran penting tentang kelembutan dalam mendidik. Allah Swt. berfirman:
«فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ»
“Disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).
Ayat ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan. Kelembutan justru menjadi kekuatan yang membuat manusia mau mendekat, mendengar, dan menerima nasihat.
Kelembutan Membuka Hati
Anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan formal, dan fasilitas. Mereka juga membutuhkan rasa aman secara emosional. Seorang anak yang merasa dicintai akan lebih mudah menerima arahan dibandingkan anak yang setiap hari hanya mendengar bentakan dan celaan.
Rasulullah saw. adalah teladan utama dalam mendidik. Beliau tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk mempermalukannya. Bahkan dalam banyak keadaan, Nabi memilih cara yang mendidik hati.
Rasulullah saw. bersabda:
«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”¹
Hadis tersebut memberikan prinsip penting bahwa kelembutan merupakan bagian dari keindahan akhlak. Dalam keluarga, kelembutan dapat diwujudkan melalui tutur kata yang baik, kesediaan mendengar, pelukan, senyuman, penghargaan, dan nasihat yang tidak merendahkan.
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua tidak harus langsung meledak dalam kemarahan. Pertanyaan sederhana seperti, “Mengapa kamu melakukan itu?” sering kali lebih mendidik daripada bentakan, “Kamu memang tidak pernah bisa diatur!”
Kalimat pertama membuka pintu dialog. Kalimat kedua dapat menutup hati.
Mendidik Tidak Cukup dengan Lembut
Kelembutan tidak berarti membiarkan semua perilaku anak. Di sinilah pentingnya ketegasan.
Anak membutuhkan aturan. Mereka perlu mengetahui bahwa setiap kebebasan memiliki tanggung jawab dan setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Orang tua yang selalu berkata “tidak apa-apa” terhadap kesalahan anak sebenarnya sedang mengajarkan bahwa aturan boleh dilanggar. Kasih sayang yang tidak disertai batas dapat berubah menjadi pola pengasuhan yang permisif.
Ketegasan berarti berani mengatakan “tidak” ketika memang harus mengatakan tidak.
Misalnya, anak tidak boleh mengambil barang milik orang lain. Anak harus belajar meminta izin. Anak harus dibiasakan salat. Dan Anak perlu memiliki batas penggunaan gawai. Anak harus belajar menghormati orang tua, guru, dan orang lain.
Dalam perkara prinsip, orang tua tidak boleh ragu-ragu.
Allah Swt. berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا»
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat tersebut mengandung tanggung jawab pendidikan keluarga. Menjaga keluarga bukan hanya menyediakan kebutuhan duniawi, tetapi juga membimbing mereka agar memiliki iman dan ketaatan.
Tegas Bukan Berarti Kasar
Salah satu kekeliruan dalam pendidikan adalah menyamakan ketegasan dengan kekerasan.
Padahal keduanya berbeda.
Ketegasan berbicara tentang prinsip, sedangkan kekerasan berbicara tentang cara yang menyakiti.
Seorang ayah dapat berkata kepada anaknya, “Ayah tidak mengizinkan kamu pulang larut malam karena keselamatanmu adalah tanggung jawab Ayah.”
Itu tegas.
Tetapi jika disampaikan dengan penghinaan, ancaman berlebihan, atau tindakan yang menyakiti, maka pesan pendidikan dapat berubah menjadi pengalaman traumatis.
Ketegasan seharusnya membuat anak memahami batas, bukan membuat anak membenci orang yang menetapkan batas.
Karena itu, ketika memberikan aturan, orang tua perlu menjelaskan alasan di balik aturan tersebut. Anak yang memahami alasan akan lebih mudah belajar bertanggung jawab daripada anak yang hanya takut terhadap hukuman.
Rasulullah sebagai Teladan Pendidikan
Rasulullah saw. mendidik dengan berbagai pendekatan. Beliau berbicara sesuai keadaan orang yang dihadapinya. Kepada sebagian orang beliau memberi nasihat singkat, kepada yang lain memberikan penjelasan panjang. Beliau menggunakan dialog, keteladanan, motivasi, peringatan, bahkan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahannya.
Dalam sebuah hadis, Nabi saw. bersabda:
«يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا»
“Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.”²
Prinsip ini sangat relevan dalam pendidikan anak.
Jika setiap kesalahan dibalas dengan kemarahan, anak mungkin belajar satu hal: menyembunyikan kesalahan. Tetapi jika kesalahan dihadapi dengan kelembutan sekaligus aturan yang jelas, anak dapat belajar: mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan tidak mengulanginya.
Inilah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Jangan Mendidik dengan Kemarahan
Kemarahan orang tua kadang muncul karena kelelahan, tekanan pekerjaan, atau masalah pribadi. Namun anak sering menjadi tempat pelampiasan.
Di sinilah orang tua perlu berhati-hati.
Kesalahan anak seharusnya menjadi objek pendidikan, bukan alasan untuk melampiaskan emosi.
Rasulullah saw. pernah memberikan nasihat yang sangat singkat tetapi mendalam kepada seseorang:
«لَا تَغْضَبْ»
“Jangan marah.”³
Nasihat tersebut diulang oleh Nabi ketika orang itu meminta nasihat.
Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki emosi marah. Marah merupakan bagian dari tabiat manusia. Namun pendidikan menuntut kemampuan mengendalikan kemarahan agar tidak berubah menjadi tindakan yang merusak.
Orang tua boleh tidak menyetujui perilaku anak. Tetapi ketidaksetujuan terhadap perilaku tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi anak.
Katakan, “Perbuatan itu salah,” bukan, “Kamu anak yang tidak berguna.”
Perbedaannya sangat besar.
Kalimat pertama mengoreksi perilaku. Kalimat kedua menyerang harga diri.
Disiplin Dimulai dari Keteladanan
Anak adalah peniru yang sangat kuat. Mereka bukan hanya mendengar apa yang dikatakan orang tua, tetapi mengamati apa yang dilakukan.
Jika orang tua melarang anak menggunakan telepon berlebihan tetapi dirinya sendiri terus-menerus menggunakan telepon, pesan pendidikan menjadi lemah.
Jika orang tua meminta anak berbicara sopan tetapi sering berkata kasar, anak akan belajar dari perilaku, bukan dari nasihat.
Karena itu, pendidikan paling efektif dimulai dari keteladanan.
Allah Swt. berfirman:
«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ»
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Rasulullah tidak hanya mengajarkan akhlak melalui kata-kata, tetapi memperlihatkannya melalui kehidupan nyata.
Begitu pula orang tua. Anak akan lebih mudah belajar disiplin dari orang tua yang disiplin, kejujuran dari orang tua yang jujur, kesabaran dari orang tua yang sabar, dan kasih sayang dari orang tua yang penuh kasih sayang.
Ketegasan Harus Konsisten
Salah satu masalah dalam pengasuhan adalah aturan yang berubah-ubah.
Hari ini anak dilarang bermain gawai setelah pukul sembilan malam. Besok orang tua membiarkannya sampai tengah malam. Hari berikutnya aturan berubah lagi.
Anak akhirnya tidak memahami batas.
Karena itu, aturan keluarga harus jelas, realistis, dan konsisten.
Misalnya:
- Ada waktu khusus untuk belajar.
- Ada batas penggunaan gawai.
- Ada kewajiban membantu pekerjaan rumah.
- Ada waktu untuk ibadah bersama.
- Ada aturan berbicara sopan.
- Ada konsekuensi yang wajar ketika aturan dilanggar.
Konsekuensi bukan balas dendam. Konsekuensi adalah bagian dari pembelajaran tanggung jawab.
Jika anak melanggar aturan penggunaan gawai, misalnya, orang tua dapat mengurangi waktu penggunaan pada hari berikutnya sesuai kesepakatan. Anak belajar bahwa kebebasan harus diiringi tanggung jawab.
Dengarkan Sebelum Menasihati
Kelembutan juga berarti memberikan ruang kepada anak untuk berbicara.
Tidak semua perilaku anak yang dianggap “nakal” lahir dari niat buruk. Bisa saja anak sedang mencari perhatian, mengalami kesulitan belajar, menghadapi konflik dengan teman, atau belum mampu mengendalikan emosinya.
Karena itu, sebelum memberikan hukuman atau nasihat, orang tua sebaiknya mencari tahu sebabnya.
Dengarkan dahulu, pahami kemudian, baru berikan arahan.
Dengan demikian, pendidikan menjadi proses dialog, bukan monolog.
Anak yang terbiasa didengar di rumah akan lebih mungkin menjadikan orang tuanya sebagai tempat bercerita ketika menghadapi persoalan besar di masa remaja.
Pendidikan Adalah Investasi Jangka Panjang
Mendidik anak bukan proyek satu malam. Hasilnya tidak selalu terlihat segera.
Hari ini kita mengajarkan kejujuran. Bertahun-tahun kemudian nilai itu mungkin menjadi prinsip hidupnya.
Hari ini kita membiasakan salat. Kelak kebiasaan itu dapat menjadi penopang kehidupannya.
Hari ini kita mengajarkan menghormati orang lain. Suatu saat ia akan menjadi pribadi yang dihormati karena akhlaknya.
Karena itu, orang tua tidak boleh mudah menyerah.
Imam Al-Ghazali dalam pembahasannya tentang pendidikan anak menekankan pentingnya membiasakan anak kepada kebajikan sejak dini.⁴ Pendidikan karakter memang membutuhkan proses pembiasaan. Anak tidak menjadi baik hanya karena sekali dinasihati.
Ia membutuhkan contoh yang berulang, arahan yang konsisten, lingkungan yang baik, dan doa orang tua.
Menjadi Orang Tua yang Tegas tetapi Dicintai
Ada orang tua yang ditakuti anak, tetapi tidak dipercaya. Ada pula orang tua yang dicintai anak, tetapi tidak dihormati karena tidak memiliki batas.
Pendidikan yang sehat mengusahakan keduanya: anak mencintai orang tuanya sekaligus memahami otoritas dan batas yang diberikan.
Kuncinya adalah keseimbangan.
Kelembutan membuat anak merasa dicintai.
Ketegasan membuat anak memahami batas.
Keteladanan membuat anak memiliki contoh.
Konsistensi membuat anak belajar tanggung jawab.
Doa membuat orang tua menyadari bahwa hidayah dan pertumbuhan anak pada akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Maka, jangan memilih antara lembut atau tegas. Jadilah lembut dalam menyampaikan, tegas dalam prinsip, adil dalam memberikan konsekuensi, dan sabar dalam proses.
Pendidikan yang berhasil bukan pendidikan yang membuat anak selalu takut kepada orang tua. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat anak mampu melakukan kebaikan bahkan ketika tidak ada orang tua yang melihatnya.
Di situlah keberhasilan sebuah keluarga: ketika nilai-nilai yang ditanamkan di rumah berubah menjadi suara hati yang membimbing anak sepanjang kehidupannya.
Catatan Kaki
- Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Shilah wa al-Adab, hadis no. 2594.
- Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, hadis no. 69; Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Jihad wa al-Siyar, hadis no. 1734.
- Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6116.
- Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), pembahasan tentang Riyadhah al-Nafs wa Tahdhib al-Akhlaq.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kairo: Dar Hajr, 2001.
Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir, 2002.
Ibn Kathir, Isma‘il ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah, 1999.
Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, t.t.
Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
