SURAU.CO – Abstrak; Ilmu merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Al-Qur’an dan As-Sunnah menempatkan ilmu sebagai cahaya yang membimbing manusia menuju kebenaran dan sebagai benteng dari penyimpangan. Sebaliknya, kebodohan menjadi salah satu pintu terbesar yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia melalui syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat (dorongan hawa nafsu). Artikel ini bertujuan menjelaskan hubungan antara ilmu syar’i dan perlindungan dari tipu daya setan berdasarkan Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, serta pandangan para ulama.
Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa semakin dalam pemahaman seseorang terhadap agama, semakin kuat pula kemampuannya membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah, serta petunjuk dan kesesatan. Kata Kunci: Ilmu syar’i, setan, kebodohan, akidah, hidayah.
Pendahuluan
Salah satu musuh terbesar manusia adalah setan. Permusuhannya telah dimulai sejak penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam dan akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Berbeda dengan musuh yang tampak, setan bekerja secara halus melalui bisikan, syubhat, dan syahwat. Senjata paling ampuh untuk menghadapi tipu dayanya bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan ilmu agama yang benar.
Allah Ta’ala berfirman:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ»
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir [35]: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa setan adalah musuh nyata. Karena itu, seorang Muslim wajib memiliki bekal ilmu agar tidak mudah diperdaya.
Hakikat Ilmu dalam Islam
Islam adalah agama yang dibangun di atas ilmu. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dimulai dengan perintah membaca.
Allah berfirman:
«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ»
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)
Selain itu Allah berfirman:
«قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ»
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu merupakan pembeda antara kemuliaan dan kehinaan. Orang yang berilmu mampu menimbang segala sesuatu berdasarkan petunjuk Allah, sedangkan orang yang jahil mudah terombang-ambing oleh hawa nafsu dan tipu daya setan.
Kebodohan sebagai Celah Masuk Setan
Setan tidak selalu mengajak manusia kepada kekafiran secara langsung. Ia menyesatkan secara bertahap dengan memanfaatkan ketidaktahuan.
Allah berfirman:
«فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ»
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad [47]: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu didahulukan sebelum ucapan dan amal. Karena itu, para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa setiap ibadah harus dibangun di atas ilmu.
menjelaskan bahwa ilmu tentang tauhid merupakan landasan seluruh amal. Amal tanpa ilmu berpotensi menyimpang dari tuntunan syariat.
Strategi Setan dalam Menyesatkan Manusia
Al-Qur’an menggambarkan bahwa setan bersumpah akan menyesatkan manusia dari segala arah.
«ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ»
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 17)
Menurut , setan menggunakan dua jalan utama: syubhat yang merusak keyakinan dan syahwat yang merusak perilaku. Penangkal syubhat adalah ilmu yang benar, sedangkan penangkal syahwat adalah kesabaran dan ketakwaan.
Keutamaan Menuntut Ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memberinya pemahaman tentang agama.”
Hadis ini menunjukkan bahwa pemahaman agama merupakan salah satu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.”
Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad hadis ini, maknanya didukung oleh banyak dalil yang mewajibkan setiap Muslim mempelajari ilmu yang diperlukan untuk menjalankan agamanya.
Implementasi dalam Kehidupan
Beberapa langkah praktis agar tidak mudah diperdaya setan adalah:
- Memurnikan akidah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
- Belajar agama kepada guru yang memiliki sanad keilmuan dan pemahaman yang lurus.
- Membiasakan membaca Al-Qur’an disertai tadabbur.
- Memperbanyak zikir pagi dan petang sebagai perlindungan dari godaan setan.
- Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, karena ilmu tanpa amal dapat menjadi hujah atas pelakunya.
- Menjauhi sumber-sumber informasi keagamaan yang tidak jelas dasar ilmiahnya.
Kesimpulan
Kebodohan merupakan salah satu sebab terbesar manusia mudah diperdaya oleh setan. Sebaliknya, ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi cahaya yang membimbing seorang Muslim menuju jalan yang lurus. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menjadikan belajar agama sebagai kebutuhan sepanjang hayat. Dengan ilmu yang benar, seorang mukmin mampu mengenali tipu daya setan, menjaga akidahnya, memperbaiki ibadahnya, dan mengarungi kehidupan dengan penuh keyakinan kepada Allah.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim.
- . Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
- . Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an.
- . Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.
- . Majmu’ al-Fatawa.
- . Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan.
- . Syarh Shahih Muslim.Artikel ini telah disusun dengan format ilmiah yang mencakup abstrak, pendahuluan, pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka, serta berlandaskan dalil Al-Qur’an, hadis, dan rujukan ulama. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
