SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan
Beranda » Berita » Rindu kepada Ibu dalam Perspektif Islam: Kajian tentang Birrul Walidain dan Tanggung Jawab Anak

Rindu kepada Ibu dalam Perspektif Islam: Kajian tentang Birrul Walidain dan Tanggung Jawab Anak

Rindu kepada Ibu dalam Perspektif Islam: Kajian tentang Birrul Walidain dan Tanggung Jawab Anak
Rindu kepada Ibu dalam Perspektif Islam: Kajian tentang Birrul Walidain dan Tanggung Jawab Anak

 

SURAU.CO – Abstrak: Ibu merupakan sosok yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Pengorbanan, kasih sayang, serta perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak tidak dapat diukur dengan materi maupun balasan duniawi. Artikel ini membahas makna kerinduan kepada ibu dalam perspektif Islam, pentingnya berbakti kepada orang tua (birrul walidain), serta relevansi doa dan perhatian anak terhadap ibu yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Kajian ini menggunakan pendekatan normatif berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerinduan kepada ibu bukan sekadar perasaan emosional, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata berupa penghormatan, pelayanan, doa, dan kepedulian terhadap kesejahteraannya. Kata Kunci: Ibu, Birrul Walidain, Doa, Kasih Sayang, Pendidikan Islam.

Pendahuluan

“Dulu kita menangis di tengah malam, ibu terbangun walau ia lelah untuk menenangkan kita. Kini, pernahkah kita bangun tengah malam untuk mendoakannya?”.

mengandung pesan moral yang sangat mendalam. Kalimat tersebut mengingatkan manusia tentang jasa seorang ibu yang sering kali terlupakan seiring bertambahnya usia dan kesibukan kehidupan.

Kisah Keputusan Hakim “Ramalan dan Prediksi Keilmuan Dasar Qolbu dan Akal, Ramalan dan Prediksi Dukun Dasar Keghoiban”

Dalam kehidupan modern, banyak anak yang mengaku mencintai ibunya, tetapi jarang meluangkan waktu untuk berkomunikasi, membantu, atau mendoakannya. Padahal Islam menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan setelah Allah memerintahkan manusia untuk bertauhid, perintah berikutnya adalah berbuat baik kepada kedua orang tua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

> وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23).¹

Ayat ini menunjukkan bahwa birrul walidain memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.

Kedudukan Ibu dalam Islam

Islam memberikan penghormatan luar biasa kepada ibu karena pengorbanannya yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui, mendidik, serta membesarkan anak dengan penuh kasih sayang.

Keikhlasan Dalam Amal: Kebaikan Kecil Yang Menghapus Dosa Besar

Allah berfirman:

> وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” (QS. Luqman: 14).²

Ayat ini secara khusus menyebut perjuangan ibu sebagai alasan mengapa anak harus bersyukur dan berbakti kepadanya.

Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan ibu dalam sebuah hadis:

> عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ». قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ». _قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ». _قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أَبُوكَ».³
Artinya: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ: ‘Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi: ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi: ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi: ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ayahmu’.”</em>

Berdoa dan Tidak, Beragama dan Tidak, Allah Tetap Pengasih; Bagaimana dengan Sikap Kita?

Pengulangan kata “ibumu” sebanyak tiga kali menunjukkan besarnya hak seorang ibu atas anaknya.

Kerinduan kepada Ibu sebagai Fitrah Manusia

Kerinduan kepada ibu merupakan bagian dari fitrah manusia. Sejak lahir, seorang anak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ibunya. Hubungan tersebut dibangun melalui kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan yang terus-menerus.

Dalam psikologi perkembangan, figur ibu dikenal sebagai primary attachment figure, yaitu sosok utama yang membentuk rasa aman dan kenyamanan seorang anak. Oleh karena itu, kehilangan atau berpisah dengan ibu sering menimbulkan rasa rindu yang mendalam.

Namun dalam Islam, kerinduan bukan hanya diwujudkan melalui perasaan, melainkan juga melalui tindakan nyata. Rindu kepada ibu harus mendorong anak untuk lebih sering menghubunginya, mengunjunginya, membantunya, dan mendoakannya.

Doa Anak untuk Ibu

Salah satu bentuk bakti yang paling agung adalah mendoakan ibu, terutama pada waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir.

Allah mengajarkan doa:
> رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika aku kecil.” (QS. Al-Isra’: 24).⁴

Doa ini mengandung makna yang sangat mendalam. Anak diminta mengingat bagaimana kedua orang tuanya merawat dan membesarkannya sejak kecil, lalu memohon agar Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ… أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ⁵
“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara… salah satunya anak saleh yang mendoakannya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa doa anak merupakan hadiah terbaik bagi orang tua, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat.

Fenomena Anak yang Melupakan Orang Tuanya

Di era digital, hubungan keluarga menghadapi tantangan baru. Banyak anak yang lebih sering berinteraksi melalui media sosial daripada berbicara dengan orang tuanya. Kesibukan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas pribadi sering dijadikan alasan untuk mengurangi perhatian kepada ibu.

Padahal Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar.

Beliau bersabda:
> أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟
“…yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Bentuk kedurhakaan tidak selalu berupa tindakan kasar. Mengabaikan kebutuhan ibu, jarang menghubunginya, tidak menghormatinya, atau membuatnya sedih juga termasuk perilaku yang bertentangan dengan semangat birrul walidain.

Implementasi Birrul Walidain dalam Kehidupan Modern

Berbakti kepada ibu dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:

  1. Menghormati dan Memuliakannya

Anak wajib berbicara dengan lembut, tidak membentak, dan tidak menunjukkan sikap meremehkan.

  1. Membantu Kebutuhannya

Ketika ibu telah lanjut usia, anak berkewajiban memenuhi kebutuhan fisik maupun finansialnya sesuai kemampuan.

  1. Menjalin Komunikasi yang Baik

Telepon sederhana, pesan singkat, atau kunjungan rutin dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi seorang ibu.

  1. Mendoakannya

Doa merupakan bentuk kasih sayang yang tidak mengenal jarak dan waktu.

  1. Melanjutkan Amal Kebaikannya

Jika ibu telah wafat, anak dapat bersedekah, berwakaf, dan melakukan amal saleh dengan niat menghadiahkan pahalanya kepada ibu.

Refleksi Spiritual

Kalimat dalam gambar tersebut sesungguhnya mengandung pertanyaan yang menggugah hati nurani: ketika kita kecil, ibu rela mengorbankan tidurnya demi kenyamanan kita. Namun setelah dewasa, apakah kita masih mengingatnya dalam doa-doa malam kita?

Banyak orang baru merasakan kehilangan setelah ibunya wafat. Saat itu, pelukan yang dulu tersedia kapan saja sudah tidak ada lagi. Nasihat yang dulu sering diabaikan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Karena itu, selama ibu masih hidup, manfaatkan kesempatan untuk berbakti. Jangan menunggu hingga penyesalan datang.

Kesimpulan

Ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam karena pengorbanan dan kasih sayangnya yang luar biasa. Kerinduan kepada ibu seharusnya tidak berhenti pada perasaan emosional, tetapi diwujudkan dalam bentuk penghormatan, pelayanan, perhatian, dan doa. Berbakti kepada ibu merupakan salah satu amal yang paling dicintai Allah dan menjadi jalan menuju surga. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya menjadikan birrul walidain sebagai bagian penting dalam kehidupannya, baik ketika orang tua masih hidup maupun setelah mereka wafat.

Footnote

  1. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Isra’: 23.
  2. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Luqman: 14.

  3. Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, No. 5971; Imam Muslim, Shahih Muslim, No. 2548.

  4. Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Isra’: 24.

  5. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Washiyyah, No. 1631.

  6. Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, No. 5976; Imam Muslim, No. 87.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.

Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Riyadhus Shalihin. Beirut: Dar Al-Fikr.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Beirut: Dar Thayyibah.
Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar Al-Ma’rifah. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.