SURAU.CO – Di tangan manusia,
dunia kini tDergenggam
dalam sebuah layar kecil.
Jarak telah lenyap,
waktu seakan tak berbatas,
balita hingga renta
berjalan di lorong yang sama:
media sosial.
Namun,
bersamaan dengan cepatnya teknologi bertumbuh,
adab perlahan tertinggal.
Yang dekat menjadi jauh,
yang jauh terasa lebih dekat.
Antara azan dan shalat,
mata lebih dahulu menatap layar
daripada menghadap Alloh.
Antara mushaf dan telepon genggam,
sering kali jari lebih sibuk menggulir
daripada membaca firman-Nya.
Serta Antara murid dan pengajar,
pandangan tak lagi bertemu,
karena kepala tertunduk
kepada cahaya yang bukan cahaya hidayah.
Antara anak dan orang tua,
percakapan digantikan notifikasi,
kasih sayang dikalahkan kesibukan maya.
Bahkan ketika khatib
mengingatkan tentang akhirat,
sebagian jamaah
lebih khusyuk kepada layar
daripada mendengar nasihat.
Seakan-akan
meninggalkan telepon genggam
adalah runtuhnya dunia.
Juga Seakan-akan
kehabisan kuota
lebih menakutkan
daripada habisnya umur.
Seakan-akan
tidak membuka media sosial
adalah kemiskinan,
padahal miskin yang paling nyata
ialah miskin adab,
miskin ilmu,
dan miskin hati.
Alloh berfirman:
«﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴾
“Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)»
Rosululloh SAW bersabda:
««إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ»
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”»
Imam Malik رحمه الله berkata:
«تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”»
Teknologi bukan musuh
Telepon genggam bukan lawan.
Yang menjadi musuh
adalah hawa nafsu
yang menjadikan alat
sebagai penguasa hati.
Ilmu tanpa adab
melahirkan kesombongan.
Teknologi tanpa iman
melahirkan kelalaian.
Ibadah tanpa penghayatan
hanya menggugurkan kewajiban,
belum tentu menghidupkan hati.
Betapa ironis,
semakin canggih alat,
semakin banyak informasi,
namun kebijaksanaan semakin langka.
Semakin luas jaringan,
semakin sempit hubungan antarmanusia.
Semakin cepat berita menyebar,
semakin lambat hati menerima nasihat.
Wahai diri,
kembalilah kepada adab.
Karena adab adalah mahkota ilmu,
penjaga iman,
dan jalan menuju ridha Alloh.
Jika adab hilang,
ilmu kehilangan cahaya.
Jika iman terkikis,
teknologi hanya akan
mempercepat langkah manusia
menuju kehampaan.
Semoga Alloh menjadikan kita
pengguna teknologi yang bijaksana,
penjaga adab,
dan hamba yang tetap khusyuk
meski dunia berada
di dalam genggaman.
“Mengalahkan Tuhan” Refleksi Diri
Bukan sepak bola yang salah. Bukan pula permainan yang harus dipersalahkan. Olahraga dapat menjadi sarana kesehatan, persaudaraan, dan kegembiraan. Namun, ketika kecintaan kepada suatu hiburan membuat manusia melupakan Alloh, di situlah bahaya bermula.
Hari ini banyak orang menyebutnya demam sepak bola. Akan tetapi, jika dicermati, yang terjadi sering kali bukan sekadar demam, melainkan panas sepak bola. Panas yang membakar akal, emosi, bahkan hati nurani.
Pertama, ada yang begitu larut menonton hingga melupakan waktu sholat dan zikir. Bahkan ada yang meninggal dunia ketika atau setelah menyaksikan pertandingan. Kematian adalah rahasia Alloh; karena itu setiap peristiwa menjadi pengingat bahwa manusia tidak mengetahui kapan ajal datang. Maka, jangan sampai kesenangan membuat kita lupa mempersiapkan diri menghadap-Nya.
Kedua, sebagian orang berinteraksi dengan penuh semangat, tetapi nama Alloh tidak lagi hadir dalam percakapan maupun perilaku. Sorak-sorai menggema, sementara syukur dan doa semakin jarang terdengar.
Ketiga, adab mulai tersisih. Demi kemenangan, orang rela mencaci, menghina, memutus persaudaraan, bahkan bertengkar. Taruhan yang kalah memicu kemarahan, dendam, dan permusuhan. Padahal kegembiraan yang sejati tidak boleh menghilangkan akhlak.
Alloh berfirman:
«”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Alloh.”
(QS. Al-Munafiqun: 9)»
Alloh juga mengingatkan:
«”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)»
Rosululloh SAW bersabda:
«”Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).»
Olahraga adalah nikmat. Hiburan adalah bagian dari kehidupan. Namun, semuanya harus tetap berada di bawah tuntunan iman dan adab. Jangan sampai sorak kemenangan di dunia membuat hati kalah di hadapan Alloh.
Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Tuhan. Yang sesungguhnya terjadi adalah manusia membiarkan hawa nafsunya mengalahkan kesadaran dirinya untuk mengingat Tuhan.
Marilah bergembira dengan sewajarnya, bertanding dengan sportif, mendukung dengan santun, dan tetap menjaga sholat, zikir, akhlak, serta persaudaraan. Sebab kemenangan terbesar bukanlah mengangkat piala, melainkan ketika hati tetap tunduk kepada Alloh dalam setiap keadaan. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
