SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah
Beranda » Berita » Kisah Keputusan Hakim “Ramalan dan Prediksi Keilmuan Dasar Qolbu dan Akal, Ramalan dan Prediksi Dukun Dasar Keghoiban”

Kisah Keputusan Hakim “Ramalan dan Prediksi Keilmuan Dasar Qolbu dan Akal, Ramalan dan Prediksi Dukun Dasar Keghoiban”

Kisah Keputusan Hakim "Ramalan dan Prediksi Keilmuan Dasar Qolbu dan Akal, Ramalan dan Prediksi Dukun Dasar Keghoiban"
Kisah Keputusan Hakim "Ramalan dan Prediksi Keilmuan Dasar Qolbu dan Akal, Ramalan dan Prediksi Dukun Dasar Keghoiban"

 

SURAU.CO – Di sebuah negeri yang menjunjung tinggi ilmu dan kebijaksanaan, hiduplah seorang hakim tua yang terkenal adil.

Namanya Ki Wijaksono. Ia dikenal tidak hanya cerdas dalam hukum, tetapi juga mampu mendengarkan dengan hati yang jernih.

Suatu hari datang dua orang ke balai pengadilan.

Orang pertama adalah seorang cendekiawan bernama Ki Akal Budi. Ia sering membuat perkiraan tentang hasil panen, perdagangan, dan keadaan masyarakat berdasarkan pengamatan serta pengalaman.

Keikhlasan Dalam Amal: Kebaikan Kecil Yang Menghapus Dosa Besar

Orang kedua adalah seorang peramal yang dikenal dengan nama Ki Ghoib. Ia mengaku dapat mengetahui masa depan seseorang secara pasti melalui berbagai tanda yang hanya ia pahami sendiri.

Keduanya berselisih

Masing-masing mengaku bahwa caranya paling benar dalam melihat masa depan.

Hakim Ki Wijaksono lalu mempersilakan mereka menyampaikan pendapat.

Ki Akal Budi berkata,
“Yang saya lakukan bukanlah memastikan masa depan. Saya hanya membaca tanda-tanda yang tampak. Jika awan gelap berkumpul, kemungkinan hujan akan turun. Jika petani rajin merawat sawahnya, kemungkinan panennya baik. Semua itu adalah hasil pengamatan, ilmu, dan pengalaman.”

Kemudian Ki Ghoib berkata, “Saya dapat mengetahui apa yang akan terjadi minggu depan, bulan depan, bahkan tahun depan. Saya dapat memastikan nasib seseorang.”

Berdoa dan Tidak, Beragama dan Tidak, Allah Tetap Pengasih; Bagaimana dengan Sikap Kita?

Hakim mendengarkan dengan saksama.

Setelah itu ia memanggil beberapa warga.

Seorang petani maju ke depan

“Wahai Hakim,” katanya, “saat Ki Akal Budi memperkirakan panen akan baik, ia selalu menjelaskan alasannya.

Kadang benar, kadang meleset karena cuaca berubah.”

Lalu seorang pedagang berkata, “Ki Akal Budi mengajarkan kami memperhitungkan risiko. Ia tidak pernah mengaku pasti.”

RUPIAH TUMBAL GEOPOLITIK GLOBAL

Kemudian beberapa warga lain bercerita bahwa ramalan Ki Ghoib sering berubah-ubah, tetapi selalu dicocokkan dengan kejadian setelah peristiwa terjadi.

Setelah mendengar semua kesaksian, Hakim Ki Wijaksono mengetukkan palunya.

“Wahai hadirin,” katanya, “terdapat perbedaan antara prediksi dan ramalan.”

“Prediksi lahir dari akal yang mengolah pengetahuan dan pengalaman. Qolbu yang jernih membantu manusia melihat hikmah, memahami watak manusia, dan menimbang akibat suatu perbuatan.

Prediksi berbicara tentang kemungkinan.”
“Sedangkan ramalan yang mengaku mengetahui masa depan secara pasti berbicara tentang kepastian yang belum tentu dapat dibuktikan.”

Hakim melanjutkan,
“Ilmu mengajarkan manusia untuk berpikir. Qolbu mengajarkan manusia untuk bijaksana. Namun keduanya tetap memiliki batas. Tidak semua yang akan terjadi dapat diketahui manusia.”

Seluruh ruang sidang menjadi hening

Ki Akal Budi menundukkan kepala sebagai tanda syukur. Ki Ghoib pun terdiam dan mulai merenungkan ucapannya.

Sebelum menutup sidang, Hakim Ki Wijaksono berkata,
“Gunakan akal untuk membaca tanda-tanda. Gunakan qolbu untuk menjaga kebijaksanaan.

Jangan mengaku mengetahui seluruh rahasia masa depan, karena manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari apa yang ada.”

Sejak hari itu, masyarakat negeri tersebut lebih menghargai ilmu, pengamatan, dan kebijaksanaan. Mereka belajar membuat perencanaan berdasarkan pengetahuan, tetapi tetap rendah hati terhadap hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia.

Pesan kata
“Akal membaca sebab, qolbu menimbang akibat. Dari keduanya lahir prediksi yang membantu langkah kehidupan. Namun kepastian masa depan tetap menjadi rahasia yang tidak sepenuhnya berada dalam genggaman manusia.”

 

 

 


Mengukur Kedalaman Neraka dan Luasnya Surga

Manusia sering ingin mengukur segala sesuatu. Laut diukur kedalamannya, gunung diukur ketinggiannya, bumi diukur luasnya, dan bintang dihitung jaraknya. Namun ketika berbicara tentang neraka dan surga, ukuran yang sesungguhnya bukanlah dengan meter, kilometer, atau angka-angka duniawi, melainkan dengan ukuran amal, iman, dan rahmat Alloh SWT.

Kedalaman Neraka

Dalam jalan hikmah, kedalaman neraka dapat direnungkan sebagai kedalaman akibat dari perbuatan manusia. Semakin jauh seseorang dari kebenaran, semakin dalam ia tenggelam dalam kesesatan.

Kesombongan, kedengkian, kebohongan, dan kezaliman menjadi jurang yang menjerumuskan hati sebelum menjerumuskan jasad.

Maka, mengukur kedalaman neraka bukanlah menghitung lapisan-lapisannya, tetapi mengukur sejauh mana hati manusia menjauh dari cahaya petunjuk Alloh.

Luasnya Surga

Surga adalah lambang rahmat, kasih sayang, dan karunia Alloh yang tidak terbatas. Luasnya surga tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Dalam hikmah kehidupan, luasnya surga dapat direnungkan sebagai luasnya kesempatan untuk berbuat baik, memaafkan, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada Alloh.

Semakin luas hati seseorang dalam menerima kebaikan, semakin luas pula jalan menuju rahmat-Nya.
Antara Neraka dan Surga

Perjalanan manusia berada di antara dua peringatan:

Neraka mengajarkan tanggung jawab.
Surga mengajarkan harapan.

Jika hanya mengingat neraka, manusia dapat tenggelam dalam ketakutan. Jika hanya mengingat surga, manusia dapat terlena oleh harapan. Keseimbangan keduanya melahirkan kebijaksanaan dalam beribadah dan bermuamalah.

Hikmah Kehidupan

Jangan sibuk mengukur kedalaman neraka hingga lupa memperbaiki diri.

Jangan hanya membayangkan luasnya surga tanpa menempuh jalannya.

Karena pada akhirnya, ukuran yang paling penting bukanlah seberapa dalam neraka atau seberapa luas surga, melainkan seberapa dekat hati kepada Alloh SWT, dan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan untuk sesama.

“Orang bijak bukanlah yang mampu menghitung luasnya surga dan dalamnya neraka, melainkan yang mampu menghitung kekurangan dirinya sebelum menghitung kekurangan orang lain.” (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.