SURAU.CO – Malam itu hujan turun perlahan membasahi atap rumah kecil di ujung kampung. Angin dingin menyelinap lewat celah jendela kayu yang mulai rapuh dimakan usia. Di dalam rumah sederhana itu, seorang ibu masih terjaga dalam sunyi.
Namanya Siti Rahma.
Tangannya yang mulai keriput menggenggam tasbih kecil berwarna cokelat tua. Bibirnya bergetar lirih melantunkan doa. Sesekali matanya menatap foto seorang pemuda yang tergantung di dinding ruang tamu.
“Ya Alloh… jagalah anakku…” bisiknya pelan.
Anaknya, Ardi, sudah hampir dua tahun merantau ke kota. Sejak ayahnya meninggal karena sakit paru-paru, Ardi menjadi harapan satu-satunya keluarga. Ia pergi dengan mimpi besar: ingin mengubah nasib ibunya.
Namun kota tidak seindah yang dibayangkan.
Ardi bekerja serabutan. Kadang menjadi pengantar barang, kadang buruh proyek, kadang bahkan tidur di emperan toko karena tak mampu membayar kontrakan. Tetapi semua penderitaan itu tak pernah ia ceritakan kepada ibunya.
Setiap kali menelepon, Ardi selalu berkata bahagia
“Ardi sehat, Bu.”
“Kerjaan lancar.”
“Nanti kalau sudah berhasil, Ibu tidak usah capek jualan lagi.”
Padahal di balik kata-kata itu, tubuhnya lelah dan hatinya hampir menyerah.
Suatu malam di kota, Ardi duduk sendiri di halte yang sepi. Hujan deras mengguyur jalanan. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.
Dompetnya tinggal beberapa lembar uang lusuh.
Perutnya lapar.
Pikirannya kacau.
Ardi menunduk sambil memegang wajahnya sendiri.
“Aku gagal…” gumamnya.
Untuk pertama kalinya, air mata lelaki itu jatuh.
Ia teringat ibunya di kampung. Teringat tangan tua yang selalu mengusap kepalanya ketika kecil. Teringat suara lembut yang selalu berkata:
“Jangan takut miskin, Nak… takutlah kalau kehilangan iman dan harapan.”
Ardi mengambil ponselnya. Tangannya gemetar saat melihat ada pesan masuk dari ibunya.
“Nak, ibu tadi mimpi kamu menangis. Kamu tidak apa-apa kan? Ibu selalu mendoakanmu setelah salat malam.”
Mata Ardi membesar.
Dadanya sesak.
Ia menangis semakin keras di tengah hujan.
Di saat yang sama, jauh di kampung, Siti Rahma sedang bersujud panjang di atas sajadah lusuhnya. Air matanya jatuh membasahi mukena putih yang mulai pudar warnanya.
“Ya Alloh… jika anakku sedang sedih, kuatkanlah dia… jika anakku lapar, kenyangkanlah dia… jika anakku hampir menyerah, peluklah hatinya dengan kasih-Mu…”
Tangisan ibu itu pecah dalam doa.
Bukan tangisan karena kelemahan.
Tetapi tangisan cinta yang tak pernah meminta balasan.
Keesokan paginya, Ardi mendapat telepon dari seorang teman lama yang menawarkan pekerjaan di sebuah bengkel besar. Awalnya ia ragu, tetapi ia datang juga.
Tak disangka, pemilik bengkel menyukainya karena Ardi dikenal jujur dan pekerja keras. Hari itu juga ia diterima bekerja.
Ardi menatap langit sore dengan mata berkaca-kaca.
Dalam hatinya ia tahu…
Bukan karena dirinya hebat.
Tetapi karena ada doa seorang ibu yang menembus langit.
Beberapa bulan kemudian, sebuah mobil travel berhenti di depan rumah kecil Siti Rahma.
Seorang pemuda turun sambil membawa tas besar.
“Ibu…”
Siti Rahma yang sedang menyapu halaman terdiam.
Sapunya jatuh.
“Ardi…?”
Pemuda itu langsung memeluk ibunya erat: Tangis keduanya pecah
“Ibu… maafkan Ardi…”
“Kenapa minta maaf, Nak?”
“Karena selama ini Ardi hampir menyerah…”
Siti Rahma mengusap kepala anaknya sambil tersenyum di antara air mata.
“Selama kamu masih ingat Alloh dan pulang kepada ibu… kamu tidak pernah gagal, Nak…”
Hujan kecil kembali turun sore itu.
Namun kali ini bukan hujan kesedihan.
Melainkan hujan rindu yang telah lama dipeluk oleh doa seorang ibu.
Pesan Moral:
Kasih sayang seorang ibu tidak selalu terlihat dari harta atau kata-kata. Kadang ia hadir dalam sujud panjang dan air mata yang diam-diam jatuh demi keselamatan anaknya. Doa ibu adalah kekuatan yang mampu menghidupkan harapan ketika dunia terasa gelap. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
