SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah
Beranda » Berita » Mencari Cahaya di Tengah Dunia Hitam dengan Dzikir Lisan dan Qolbu

Mencari Cahaya di Tengah Dunia Hitam dengan Dzikir Lisan dan Qolbu

Mencari Cahaya di Tengah Dunia Hitam dengan Dzikir Lisan dan Qolbu
Mencari Cahaya di Tengah Dunia Hitam dengan Dzikir Lisan dan Qolbu

 

SURAU.CO – Di sebuah zaman yang penuh debu pikiran, hiruk-pikuk suara, dan manusia yang sibuk mengejar bayangan, hiduplah seorang pencari makna. Ia berjalan di tengah dunia yang tampak terang oleh lampu, namun gelap oleh hati yang lupa arah.

Ia melihat gedung menjulang, layar bercahaya, kendaraan berkilau, namun banyak jiwa di dalamnya merasa kosong.

Tertawa di bibir, tetapi menangis di dalam dada. Ramai di keramaian, namun sepi di dalam jiwa.

Lalu ia bertanya,
“Mengapa dunia penuh warna, tetapi hati terasa hitam?”

Toleransi yang Keliru: Ketika Batas Kebenaran Dikaburkan

Seorang tua bijak menjawab:
“Karena mata melihat cahaya benda, tetapi qolbu hanya hidup dengan cahaya dzikir.”

Maka sang pencari mulai belajar dzikir.

Awalnya lisannya bergerak, namun hatinya masih diam. Ia mengucap:
Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohu Akbar.

Namun pikirannya masih ke pasar, ke hutang, ke pujian, ke luka lama, dan ke takut masa depan.
Ia kembali kepada sang tua.

“Mengapa lisanku berdzikir, tapi gelapku belum pergi?”

Tasawuf Ngaku Salah dalam Persepsi, Persuasi, serta Persekusi dalam Dialog Waqaf Modern

Sang tua tersenyum:
“Karena dzikir lisan adalah mengetuk pintu.

Dzikir qolbu adalah masuk ke dalam rumah.”

Sejak itu ia belajar menundukkan nafas, merendahkan ego, memaafkan manusia, dan menghadirkan nama Alloh bukan hanya di lidah, tetapi di rasa.

Saat ia berkata Alloh, ia merasa diawasi.

Dan Saat ia berkata Rahman, ia merasa disayangi.

Izin Keluar Rumah Bagi Wanita: Antara Adab, Hak, dan Kewajiban

Saat ia berkata Rahim, ia belajar menyayangi.

Saat ia berkata Astaghfirulloh, ia runtuh dari kesombongan.

Hari demi hari, dunia masih sama:
masih ada fitnah, iri, tipu daya, kebencian, dan keserakahan.

Tetapi kini ia berbeda.
Ia membawa lampu di dalam dada.

Orang lain melihat malam, ia melihat kesempatan sujud.

Orang lain melihat hinaan, ia melihat latihan sabar.

Juga Orang lain melihat kehilangan, ia melihat ruang tawakal.

Orang lain melihat gelap, ia melihat tempat cahaya diuji.

Lalu ia paham:
Dunia tidak harus berubah dulu agar kita tenang.

Qolbu yang bercahaya mampu berjalan di tengah gelap.

Dan pada suatu malam sunyi, ia menangis dalam sujudnya seraya berkata:
“Ya Alloh, dahulu aku mencari cahaya di luar diriku. Kini aku tahu, cahaya itu Engkau tanam saat aku mengingat-Mu.”

Hikmah Ilmu:
Dzikir lisan membersihkan telinga jiwa.

Dzikir qolbu menyalakan ruang batin.

Dunia gelap bukan karena kurang lampu, tetapi kurang ingat kepada Alloh.

Cahaya sejati bukan di mata, tetapi di hati.

Orang yang berdzikir benar akan tenang meski hidup di tengah badai.

Rumus Hikmah:
Lisan berdzikir + Qolbu hadir = Cahaya batin

Akhir kata:
Jangan menunggu dunia terang untuk berdzikir.

Berdzikirlah, maka engkau akan mampu melihat jalan di tengah gelap.

 

 

 


Kisah Humor “Pertempuran Katak dan Kodok Memperebutkan Bulan”

 

Di sebuah rawa yang tenang, saat malam purnama datang, bulan tampak bulat besar memantul di permukaan air.

Para katak berkumpul sambil berseru, “Lihat! Bulan jatuh ke rawa kita! Itu milik bangsa katak!”
Tak lama kemudian, rombongan kodok datang dengan langkah berat dan suara serak.

“Tidak bisa! Kami yang pertama melihat pantulannya sore tadi. Bulan itu hak kodok!”

Katak hijau melompat ke batu sambil pidato:
“Saudara-saudaraku! Jika bulan jatuh ke tangan kodok, rawa ini gelap gulita!”

Kodok tua tak mau kalah. Ia berteriak:
“Jangan tertipu! Katak hanya pandai melompat, tapi tak pandai menjaga bulan!”

Maka mulailah pertempuran besar.

Katak menyerang dengan loncatan akrobatik.

Kodok membalas dengan duduk diam menghalangi jalan.

Air rawa berguncang, lumpur beterbangan, teratai terbalik, ikan-ikan minggir sambil geleng kepala.

Seekor capung lewat bertanya, “Memangnya kalian rebutkan apa?”

Serempak mereka menjawab, “BULAN!”

Capung menunjuk ke langit.

“Itu yang di atas apa?”

Semua mendongak.
Mereka terdiam.

Bulan masih utuh bersinar di langit.

Sementara yang di rawa hanyalah pantulannya.
Katak malu.

Kodok salah tingkah.
Akhirnya katak berkata pelan, “Jadi… kita berperang karena bayangan?”

Kodok menjawab,
“Sepertinya begitu.”
Lalu keduanya pulang dengan tubuh belepotan lumpur dan harga diri yang ikut tenggelam.

Sejak malam itu, jika ada hewan ribut memperebutkan sesuatu yang bukan miliknya, ikan-ikan rawa hanya tertawa sambil berkata:
“Jangan-jangan itu bulan kedua.”

Pesan sedikit humor:
Banyak pertengkaran besar terjadi hanya karena manusia berebut pantulan, bukan kenyataan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.