SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Ketika PMII DKI Jakarta Berani Memecah Keheningan

Ketika PMII DKI Jakarta Berani Memecah Keheningan

Bayangkan sebuah tragedi kemanusiaan yang menewaskan ratusan warga negara kita di luar negeri, namun pemerintah dan publik memilih bungkam karena takut pada penguasa. Itulah realitas pahit yang terjadi pasca-Tragedi Terowongan Mina pada 2 Juli 1990. Di tengah atmosfer Orde Baru yang represif, sebuah aksi heroik lahir dari keberanian kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DKI Jakarta.

Tragedi Mina adalah catatan kelam bagi jemaah haji Indonesia. Banyaknya korban jiwa diperparah oleh penanganan pihak Arab Saudi yang tidak profesional. Ironisnya, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan Menteri Agama Munawir Sadjali memilih bermain aman demi diplomasi. Ketakutan politik membuat semua elemen masyarakat mati kutu.

Melihat ketidakadilan ini, PMII DKI Jakarta menolak tinggal diam. Di bawah instruksi Ketua Cabang PMII DKI Jaya saat itu, Sahabat Effendy Choirie, gerakan perlawanan langsung dikonsolidasikan. Lebih dari 500 mahasiswa yang dipimpin oleh saya (Andi Najmi) dan Sahabat Ridwan Balia bergerak turun ke jalan, mengambil risiko besar demi menyuarakan kebenaran.

Aksi demonstrasi tersebut secara berani langsung menargetkan dua pihak utama:

Pemerintah Arab Saudi: PMII mendatangi Kedutaan Besar Saudi di Jakarta. Di hadapan Duta Besar Mr. Tala’at Amin Alhamdi, kami menuntut tanggung jawab penuh. Ketegangan memuncak hingga Sahabat Ridwan Balia menggebrak meja di depan sang Dubes —sebuah bukti bahwa mahasiswa Indonesia tidak bisa diintimidasi.

Pemerintah Indonesia: PMII mengkritik keras sikap lembek negara dan menuntut Menteri Agama Munawir Sadjali mundur. Menuntut pejabat lengser di era Orde Baru adalah tindakan yang sangat berbahaya, namun kami percaya nyawa rakyat jauh lebih berharga.

Menentang dua kekuasaan besar sekaligus tentu ada harganya. Selepas aksi yang menegangkan tersebut, sebagai konsekuensi logis, saya harus “menginap” di Laksusda Jaya, selama 2×24 jam. Menghabiskan dua hari dua malam di sana justru tercatat sebagai pengalaman paling indah dan tak terlupakan dalam perjalanan saya sebagai aktivis. Aksi PMII DKI Jakarta pada tahun 1990 adalah bukti nyata dari esensi gerakan mahasiswa, menjadi penyambung lidah bagi mereka yang dibungkam.

Jangan Abaikan Sejarah Islam

Tokoh nasional Amien Rais bahkan mengabadikan momentum ini melalui artikelnya, “Halilintar PMII”, di Majalah Gatra — menggambarkan bagaimana gerakan ini menyambar bagai petir di siang bolong yang mengejutkan rezim. Bagi generasi muda hari ini, kisah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat penting bahwa keberanian membela kemanusiaan tidak boleh padam, seketat apa pun ruang gerak yang kita miliki.

Salam,

Andi Najmi (Alumni PMII DKI Jakarta)

ULAMA-ULAMA TAKUT ISTRI (Kisah Para Nabi, Wali, Ulama, Filsuf Dan Bijak Bestari Yang Tabah Menghadapi, Menyabari, Dan Membersamai Istri)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.