SURAU.CO – Ada manusia yang namanya tidak panjang, nasabnya tidak dibanggakan,
wajahnya tidak menjadi pujian,
hartanya tidak memenuhi pandangan.
Namanya Julaibib.
Ia bukan manusia yang dikejar dunia.
Tidak berdiri di atas kemewahan,
tidak bersandar pada kebanggaan keturunan,
dan tidak memiliki sesuatu yang membuat manusia berebut mendekatinya.
Namun Rosululloh SAW melihat sesuatu
yang sering tidak mampu dilihat manusia:
hati.
>Manusia melihat rupa,
Alloh melihat takwa.
>Manusia melihat nasab,
Alloh melihat amal.
Manusia melihat kekurangan,
Alloh mengetahui perjuangan.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang
hanya dari apa yang tampak di hadapan mata.
Julaibib pernah berada dalam keadaan yang membuatnya merasa rendah diri
Rosululloh SAW tidak membiarkannya menjadi manusia yang terlupakan.
Nabi bahkan memperhatikan urusan pernikahannya dan menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak boleh dipandang rendah hanya karena keadaan lahiriah.
Kemudian datanglah saat yang membuktikan siapa sebenarnya Julaibib.
Dalam sebuah peperangan,
ia berdiri bersama kaum Muslimin.
Ketika pertempuran selesai,
Rosululloh SAW menanyakan keberadaannya.
Di sinilah kisah Julaibib menjadi sangat dalam:
orang yang dahulu mungkin tidak dianggap,
ternyata dicari oleh Rosululloh SAW.
Ia ditemukan telah gugur sebagai syahid.
Riwayat Sahih Muslim menyebutkan bahwa Julaibib telah menghadapi beberapa musuh sebelum akhirnya terbunuh, dan Rosulullph SAW memberikan penghormatan yang sangat istimewa kepadanya.
Betapa manusia sering salah menghitung kemuliaan.
Kita menghitung seseorang dari rumahnya,
kendaraannya,
jabatannya,
pakaiannya,
gelarnya,
pengikutnya,
dan jumlah hartanya.
Padahal ukuran Alloh bukanlah demikian
Alloh berfirman:
«إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ»
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh adalah yang paling bertakwa.” QS. Al-Hujurat: 13
Maka Julaibib mengajarkan:
Jangan hina yang miskin,
jangan remehkan yang sederhana, jangan mengejek rupa,
jangan membanggakan nasab,
dan jangan mengira bahwa orang yang tidak terkenal berarti tidak bernilai.
Boleh jadi seseorang yang tidak dikenal manusia
justru sangat dikenal di sisi Alloh.
Boleh jadi seseorang yang tidak dipuji di bumi
justru dipuji di langit.
Dan Boleh jadi seseorang yang kita anggap kecil memiliki hati yang jauh lebih besar daripada orang yang merasa besar.
Julaibib dan Cermin Kehidupan
Julaibib bukan hanya cerita masa lalu.
Cermin untuk zaman sekarang
Di zaman ketika manusia mudah menilai melalui foto,
jumlah pengikut,
pakaian,
jabatan,
gelar,
dan tampilan kehidupan,
Julaibib seakan berkata:
“Jangan ukur manusia dengan mata dunia.”
Sebab mata manusia hanya melihat kulit,
sedangkan Alloh mengetahui isi hati.
Mata manusia melihat keadaan hari ini,
sedangkan Alloh mengetahui perjalanan panjang seorang hamba.
Mata manusia melihat kekurangan,
sedangkan Alloh mengetahui kesungguhan.
Rosululloh SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Alloh tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” HR. Muslim
Maka jangan sibuk memperindah wajah
sementara hati dibiarkan kotor.
Jangan sibuk memperbesar nama
sementara amal semakin kecil.
Jangan sibuk mencari penghormatan manusia
sementara lupa mencari ridho Alloh.
Julaibib: Tidak Terkenal di Dunia, Tidak Terlupakan di Sisi Rosululloh
Ada orang yang hidupnya tidak ramai disebut,
tetapi amalnya berbicara.
Ada orang yang tidak memiliki panggung,
tetapi memiliki keikhlasan.
Dan Ada orang yang tidak mempunyai banyak harta,
tetapi memiliki kekayaan hati.
ada orang yang dianggap kecil oleh manusia,
tetapi ternyata besar dalam penilaian Alloh.
Julaibib mengajarkan kita bahwa kemuliaan bukan tentang bagaimana manusia memandang kita, melainkan bagaimana kita hidup di hadapan Alloh. (Bambang JB.)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
