SURAU.CO – Di sebuah serambi musholla pada sore yang teduh, seorang guru tua duduk dikelilingi beberapa murid. Angin berhembus pelan, daun-daun bergoyang, dan suara azan asar baru saja berlalu. Di tangannya, tasbih kecil berputar perlahan.
Salah satu murid bertanya,
“Guru, mengapa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah begitu sering disebut sebagai hari-hari istimewa?”
Sang guru tersenyum. Ia memandang langit yang mulai menguning.
“Karena hidup manusia juga seperti sepuluh hari itu,” katanya. “Setiap hari punya pelajaran, setiap langkah punya makna.”
Lalu ia mulai bercerita.
Hari Pertama
Hari pertama adalah niat.
Seperti bayi yang baru lahir, manusia datang ke dunia membawa kesucian. Pada hari pertama Dzulhijjah, hati diajak memperbarui niat: untuk apa hidup, untuk siapa bekerja, dan ke mana tujuan akhirnya.
Hari Kedua
Hari kedua adalah langkah.
Niat saja tidak cukup.
Orang yang ingin panen harus menanam. Orang yang ingin selamat harus bergerak.
Langkah kecil hari ini bisa menjadi jalan besar esok hari.
Hari Ketiga
Hari ketiga adalah kesabaran.
Banyak orang ingin hasil cepat, padahal pohon tidak berbuah sehari.
Dalam ibadah maupun ilmu, kesabaran adalah akar. Tanpa akar, pohon tumbang diterpa angin.
Hari Keempat
Hari keempat adalah syukur.
Seorang pedagang di pasar bersyukur dagangannya laku.
Seorang petani bersyukur sawahnya panen. Namun orang berilmu tahu: syukur terbesar adalah masih diberi kesempatan memperbaiki diri.
Hari Kelima
Hari kelima adalah ujian.
Tak semua hari cerah.
Ada hujan, ada gelap, ada kehilangan. Tetapi ujian adalah cara Tuhan menimbang kekuatan hati manusia.
Hari Keenam
Hari keenam adalah pengorbanan.
Tak ada kemuliaan tanpa melepaskan sesuatu. Waktu, tenaga, harta, bahkan ego — semuanya kadang harus dikorbankan demi kebaikan yang lebih besar.
Hari Ketujuh
Hari ketujuh adalah keikhlasan.
Banyak orang berbuat baik ingin dipuji. Tetapi keikhlasan adalah ketika seseorang menanam pohon, lalu rela bila orang lain yang menikmati teduhnya.
Hari Kedelapan
Hari kedelapan adalah perjalanan.
Seperti jamaah menuju Arafah, manusia pun sedang berjalan menuju perjumpaan dengan Tuhannya. Dunia hanyalah persinggahan, bukan rumah selamanya.
Hari Kesembilan
Hari kesembilan adalah perenungan.
Dan Hari Arafah mengajarkan bahwa diam kadang lebih bermakna daripada ribuan kata. Saat manusia berhenti sejenak, ia bisa mendengar suara hatinya sendiri.
Hari Kesepuluh
Hari kesepuluh adalah pengorbanan dan kemenangan.
Pada hari Idul Adha, manusia diajarkan bahwa yang sampai kepada Alloh bukan darah dan daging kurban, tetapi ketakwaan. Setelah pengorbanan, ada kemenangan jiwa.
Sang guru menutup kisahnya
“Lihatlah,” katanya, “sepuluh hari pertama
Dzulhijjah itu seperti perjalanan hidup manusia: dimulai dengan niat, dilalui dengan sabar, diuji dengan pengorbanan, dan diakhiri dengan ketakwaan.”
Murid-murid terdiam.
Matahari tenggelam perlahan.
Salah satu dari mereka menunduk dan berbisik,
“Berarti setiap hari bukan sekadar tanggal, tapi pelajaran untuk pulang kepada-Nya.”
Sang guru mengangguk.
“Benar. Dan orang berilmu adalah yang mampu membaca waktu bukan hanya dengan kalender, tetapi dengan hikmah.”
Obrolan Jalanan “Mencari Keselamatan: dari Kecil Butuh Kuat dan Berani, dari Besar Butuh Kuat, Berani, Kekuasaan, serta Keuangan”
Di sebuah pinggir jalan, dekat warung kecil yang tak pernah sepi, orang-orang datang silih berganti. Ada tukang becak, pedagang kaki lima, pegawai kantoran, hingga seorang pejabat yang mobilnya berhenti sebentar untuk membeli kopi. Jalan itu seperti panggung kecil kehidupan: semua melintas, semua punya cerita.
Seorang anak kecil tampak berlari menyeberang jalan.
Tubuhnya mungil, tetapi langkahnya mantap. Ia menunggu celah di antara kendaraan, lalu berlari cepat.
Orang-orang yang melihat berkata, “Anak itu berani sekali.”
Seorang bapak tua yang duduk di bangku kayu sambil menyeruput kopi tersenyum. Ia berkata pelan, “Kalau kecil, mencari keselamatan memang butuh kuat dan berani.
Kuat kakinya untuk berlari, berani hatinya untuk melangkah.”
Semua mengangguk.
Anak kecil itu selamat sampai seberang. Ia hanya membawa tas sekolah lusuh, namun wajahnya cerah seolah dunia masih sederhana.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan warung. Seorang pria berjas turun, ditemani dua orang pengawal.
Orang-orang menoleh.
Pria itu tampak gagah, namun wajahnya tegang. Ia masuk ke warung, duduk di sudut, dan memesan kopi pahit tanpa gula.
Bapak tua tadi menatapnya, lalu berkata kepada orang-orang di sekitarnya,
“Kalau sudah besar, mencari keselamatan tidak cukup hanya kuat dan berani.”
Seorang pedagang bertanya, “Lalu apa lagi, Pak?”
Bapak tua tersenyum tipis.
“Semakin besar urusan seseorang, semakin banyak yang harus dijaga. Ia butuh kuat untuk menanggung beban, berani untuk mengambil keputusan, tapi juga butuh kekuasaan untuk melindungi, dan keuangan untuk menopang.”
Orang-orang terdiam
Mereka menatap pria berjas itu. Meski mobilnya mewah, pengawalnya sigap, dan pakaiannya rapi, wajahnya justru tampak lebih gelisah daripada anak kecil tadi.
Bapak tua melanjutkan,
“Lihatlah, anak kecil cukup berlari menyeberang jalan. Tapi orang besar menyeberang hidup.
Jalannya bukan hanya kendaraan, tapi juga persaingan, fitnah, jabatan, tanggung jawab, dan kebutuhan banyak orang.”
Warung itu mendadak sunyi. Suara sendok yang mengaduk kopi terdengar jelas. Semua seperti sedang memikirkan jalan hidup masing-masing.
Seorang sopir angkot yang sejak tadi diam berkata,
“Jadi semakin besar, semakin sulit mencari keselamatan, Pak?”
Bapak tua mengangguk.
“Keselamatan bukan hanya soal tubuh selamat. Ada keselamatan nama, keselamatan keluarga, keselamatan usaha, bahkan keselamatan akhir hidup. Karena itu orang besar sering merasa kurang aman walau hartanya banyak.”
Pria berjas di sudut tersenyum pahit. Ia seakan mendengar kata-kata itu menembus dirinya. Ia menatap gelas kopinya dan berkata pelan,
“Benar, Pak. Kadang uang bisa membeli penjaga, tapi tidak selalu membeli ketenangan.”
Bapak tua tertawa kecil.
“Itulah hidup. Waktu kecil, kita ingin cepat besar karena mengira besar berarti bebas.
Setelah besar, kita rindu masa kecil karena ternyata sederhana itu lebih dekat pada rasa aman.”
Angin jalanan berembus membawa debu tipis.
Orang-orang kembali sibuk, kendaraan terus melintas, dan warung kecil itu tetap berdiri seperti saksi.
Di ujung obrolan, bapak tua menutup dengan kalimat yang membuat semua diam lama:
“Pada akhirnya, keselamatan sejati bukan hanya karena kuat, berani, kuasa, atau uang. Semua itu hanya alat. Keselamatan paling dalam adalah ketika hati tahu kepada siapa harus bersandar, saat semua kekuatan dunia tak lagi cukup.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
