SURAU.CO – Pagi menyapa pelan di Pelem Sewu. Jalan kampung mulai hidup, suara motor berlalu, dan orang-orang bersiap menjalani aktivitas masing-masing. Dari tempat sederhana itu, langkah dimulai menuju Universitas Ahmad Dahlan tempat menjemput ilmu di bawah semangat Sang Surya.
Jarak itu tidak terlalu jauh, tetapi setiap perjalanan selalu membawa makna. Di sepanjang jalan, ada satu perempatan dan dua lampu merah.
Sekilas tampak biasa, namun bila direnungkan, semuanya seperti guru diam yang mengajarkan kehidupan.
Perempatan datang lebih dulu.
Empat arah terbentang: lurus, kanan, kiri, atau kembali. Ia mengingatkan bahwa hidup penuh pilihan.
Tidak semua jalan membawa kita pada tujuan yang sama. Ada saatnya manusia berhenti sejenak, menimbang, lalu memutuskan langkah.
Dalam mencari ilmu pun demikian belajar adalah memilih jalan terang di antara banyak kemungkinan.
Setelah melewati pilihan
Perjalanan berlanjut dan bertemu lampu merah pertama.
Kendaraan berhenti, walau hati ingin terus melaju. Di sanalah kesabaran diasah.
Terkadang ilmu tidak datang secepat keinginan. Ada proses menunggu, membaca, mengulang, gagal, lalu mencoba lagi. Lampu merah mengajarkan: berhenti bukan berarti gagal, melainkan bagian dari tertib menuju tujuan.
Tak lama kemudian, lampu merah kedua menanti. Sekali lagi berhenti. Seolah hidup menegaskan pelajaran yang sama: setiap orang diuji oleh jeda. Ada yang memilih marah, ada yang memilih merenung. Padahal jeda sering kali adalah ruang terbaik untuk menyadari nikmat perjalanan.
Di sinilah makna asah, asih, asuh terasa.
Asah — perjalanan mengasah pikiran.
Setiap simpang dan lampu merah mengingatkan bahwa akal perlu diasah agar mampu membaca tanda-tanda kehidupan.
Asih — perjalanan menumbuhkan kasih.
Di jalan, kita berbagi ruang dengan banyak orang: pengendara, pejalan kaki, pedagang, siswa, guru. Semua bergerak dengan tujuan masing-masing, tetapi sama-sama mencari arti hidup. Kasih membuat kita sadar bahwa kita bukan berjalan sendiri.
Asuh — perjalanan memberi tuntunan
Jalan memiliki marka, rambu, dan aturan.
Tanpa itu, semua akan kacau. Hidup pun membutuhkan asuhan: nilai, akhlak, dan petunjuk agar ilmu yang dicari tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan.
Sesampainya di Universitas Ahmad Dahlan, bangunan kampus berdiri sebagai saksi bahwa ilmu memang membutuhkan ikhtiar. Dari Pelem Sewu ke kampus, hanya beberapa kilometer.
Namun sesungguhnya yang ditempuh lebih dari sekadar jarak ia adalah perjalanan dari ketidaktahuan menuju pemahaman.
Sang Surya bersinar di atas langit, menerangi jalan dan halaman kampus. Cahaya itu seolah berpesan:
siapa yang mau melangkah, walau hanya melewati satu perempatan dan dua lampu merah, akan sampai juga pada tempat ilmu bersemayam.
Karena sesungguhnya, perjalanan mencari ilmu bukan tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa dalam kita memaknai setiap jalan yang dilalui.
Jalan Berliku “Keinginan, Kemauan, Keselamatan untuk Kemaslahatan”
Di sebuah jalan kecil yang menanjak dan berliku, seorang musafir berjalan perlahan.
Langkahnya tidak selalu mantap. Kadang tersandung batu, kadang berhenti karena jalan di depannya tampak bercabang.
Namun ia terus melangkah, sebab di dalam hatinya ada keinginan: mencapai tujuan yang baik.
Keinginan itu tumbuh menjadi kemauan.
Bukan sekadar angan yang berputar di kepala, tetapi tekad yang menggerakkan kaki.
Ia sadar, setiap tujuan mulia tidak datang pada jalan yang lurus tanpa ujian. Jalan menuju kebaikan sering kali berkelok, penuh tanjakan, dan terkadang membuat lelah jiwa.
Di persimpangan, ia bertemu seorang tua yang duduk di bawah pohon rindang.
Orang tua itu berkata,
“Anak muda, mengapa engkau terus berjalan di jalan yang sulit ini? Bukankah ada jalan lain yang lebih datar?”
Musafir itu menjawab,
“Karena yang saya cari bukan sekadar sampai, tetapi selamat. Dan keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan agar langkah ini memberi manfaat bagi banyak orang.”
Orang tua itu tersenyum
“Engkau telah memahami satu hal penting: keinginan adalah awal, kemauan adalah tenaga, tetapi keselamatan adalah cahaya. Tanpa cahaya, orang bisa berjalan cepat namun tersesat.”
Musafir itu pun melanjutkan perjalanan.
Ia mulai menyadari bahwa setiap tikungan bukan penghalang, melainkan pelajaran.
Setiap tanjakan bukan hukuman, melainkan penguat napas.
Dan setiap orang yang ditemui di jalan adalah cermin: ada yang memberi semangat, ada yang menguji kesabaran.
Saat senja tiba, ia sampai di puncak bukit.
Dari sana terlihat sawah, rumah-rumah, dan jalan panjang yang telah ia lalui. Ia tersenyum, bukan karena perjalanannya selesai, tetapi karena ia tahu: jalan berliku itu telah membentuk dirinya.
Ia berbisik dalam hati:
“Keinginan mengajarkan harapan.
Kemauan mengajarkan perjuangan.
Keselamatan mengajarkan arah.
Dan kemaslahatan mengajarkan bahwa hidup terbaik adalah ketika perjalanan kita menjadi manfaat bagi sesama.”
Maka jalan hidup, seberliku apa pun, akan tetap indah bila niatnya benar, langkahnya sabar, dan tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kemaslahatan bersama. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
