SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Kita Sering Membaca Tulisan di Ujungnya: Tamat, Selesai, Hatam, dan Berakhir

Kita Sering Membaca Tulisan di Ujungnya: Tamat, Selesai, Hatam, dan Berakhir

Kita Sering Membaca Tulisan di Ujungnya: Tamat, Selesai, Hatam, dan Berakhir
Kita Sering Membaca Tulisan di Ujungnya: Tamat, Selesai, Hatam, dan Berakhir

 

SURAU.CO – Pagi itu warung kopi kecil di pinggir jalan mulai ramai.

Asap kopi hitam naik perlahan dari gelas kaca yang tipis.
Suara sendok beradu dengan cangkir terdengar seperti irama kehidupan.

Di sudut warung, seorang bapak tua duduk bersama pemuda yang sedang termenung.

“Kenapa melamun?” tanya bapak sambil meniup kopi panasnya.

Istighfar: Seni Mengakui Kesalahan untuk Menjadi Manusia Lebih Baik

Pemuda itu tersenyum kecil.

“Saya sedang berpikir tentang hidup, Pak.

Di buku ada tulisan tamat.

Difilm ada tulisan selesai.

Di Al-Qur’an orang bilang hatam.

Mengapa Kita Berdoa Jika Tuhan Sudah Tahu Kebutuhan Kita?

Dan dalam hidup orang sering berkata berakhir.”

Bapak tua itu mengangguk pelan.

“Lalu apa yang membuatmu bingung?”

Pemuda menjawab lirih,

“Kenapa semua seperti menuju akhir?”

Menyelami Hakikat La Haula: Jalan Menuju Kerendahan Hati di Hadapan Al-Khaliq

Bapak tua tersenyum tipis.

“Nak… manusia sering takut pada kata akhir, padahal akhir adalah tanda bahwa sesuatu pernah dimulai.”

Pemuda diam mendengar.

Bapak kembali berkata:
“Kalau tidak ada tulisan tamat, orang tidak tahu cerita sudah sampai tujuan.

Kalau tidak ada kata selesai, orang tidak belajar menghargai proses.

Kalau tidak ada hatam, orang mungkin tidak pernah mengulang bacaan dengan lebih dalam.

Dan kalau hidup tidak berakhir, manusia bisa lupa bahwa waktu itu amanah.”

Angin pagi berhembus pelan.

Suara motor lalu-lalang seperti mengiringi percakapan sederhana itu.

Pemuda bertanya lagi,
“Jadi akhir itu bukan sesuatu yang buruk?”

Bapak tertawa kecil.

“Biji kopi juga berakhir bentuknya saat digiling.

Air panas mengubahnya

Lalu lahirlah aroma yang dinikmati banyak orang.”
Ia menunjuk gelas kopi di depan mereka.

“Hidup juga begitu.

Kadang yang kita sebut akhir hanyalah perubahan bentuk menuju makna baru.”

Pemuda mulai tersenyum.

“Berarti tamat bukan berarti hilang?”

“Bukan,” jawab bapak.

“Tamat bisa menjadi awal pemahaman.

Selesai bisa menjadi awal perjalanan baru.
Hatam bisa menjadi awal pengamalan.

Dan berakhir bisa menjadi awal pertanggungjawaban.”

Warung kopi semakin ramai.

Matahari mulai naik perlahan.

Bapak tua menghabiskan kopinya lalu berkata pelan:
“Yang paling penting bukan seberapa cepat cerita selesai,
tetapi apa yang tertinggal setelah halaman terakhir dibaca.”
Pemuda itu mengangguk dalam diam.

Karena pagi itu ia mulai memahami, bahwa hidup bukan sekadar takut pada akhir,
melainkan belajar memberi arti sebelum semuanya benar-benar selesai.

 

 

 


Kisah Hikma Ilmu “Sampul Berbeda, Isi Sama — Rasa dan Harga Berbeda”

Pagi itu hujan turun perlahan di sebuah kota kecil.

Orang-orang berjalan tergesa, sebagian membawa payung mahal, sebagian lagi hanya menutupi kepala dengan plastik seadanya.

Di sudut jalan berdiri dua warung makan.

Warung pertama terlihat sederhana.

Bangkunya kayu tua.

Cat temboknya mulai memudar.

Papan namanya miring terkena angin musim.

Namun aroma masakannya menyentuh hati siapa saja yang lewat.

Warung kedua tampak megah.

Lampunya terang.

Dindingnya penuh dekorasi modern.

Menu dicetak berwarna dengan tulisan asing yang sulit dibaca sebagian orang kampung.

Seorang pemuda bernama Farid berhenti di depan dua warung itu.

Ia bingung memilih.

Di warung sederhana, semangkuk mie dijual sepuluh ribu rupiah.

Di restoran modern, mie yang hampir serupa dijual lima puluh ribu rupiah.

Farid bertanya dalam hati:
“Mengapa bentuknya hampir sama, tapi harga dan rasanya bisa berbeda?”

Ia lalu masuk ke warung sederhana.

Pemilik warung itu seorang lelaki tua berpeci lusuh namun wajahnya teduh.

Tangannya keriput, tetapi gerakannya tenang seperti orang yang sudah lama berdamai dengan hidup.

Farid bertanya, “Pak, kenapa mie di sini murah tapi banyak orang bilang rasanya enak?”

Orang tua itu tersenyum.

“Karena rasa bukan hanya berasal dari bumbu.”

Farid terdiam.

“Lalu dari mana lagi, Pak?”

Lelaki tua itu menjawab pelan,

“Dari hati yang memasak, dari niat yang memberi makan, dan dari kejujuran saat bekerja.”

Hujan makin deras

Orang tua itu melanjutkan:
“Di dunia ini banyak hal sampulnya berbeda, tapi isinya hampir sama.

Ada ilmu yang dibungkus gelar tinggi, ada ilmu yang lahir dari pengalaman hidup.

Ada pakaian mewah menutupi hati gelisah, ada pakaian sederhana menutupi jiwa yang tenang.”

Farid mulai memahami.

“Tapi kenapa manusia sering tertipu sampul, Pak?”

Karena mata lebih cepat menilai daripada hati memahami.”

Ia lalu menunjuk dua mangkuk mie.

“Mie ini sama-sama terbuat dari tepung. Tetapi rasa akhirnya berbeda karena prosesnya berbeda.”

“Begitu pula manusia?”

“Ya.”

“Manusia lahir hampir sama.
Sama-sama menangis saat lahir.

Sama-sama akan kembali menjadi tanah.

Namun perjalanan hidup, niat, akhlak, dan cara memperlakukan orang lain membuat ‘rasa kehidupannya’ berbeda.”

Farid termenung cukup lama.

Orang tua itu kemudian berkata:

“Jangan terlalu sibuk memperindah sampul sampai lupa memperbaiki isi.”

“Karena buku yang sampulnya indah belum tentu nyaman dibaca.”

“Dan mangkuk emas belum tentu membuat makanan terasa nikmat.”

Hujan mulai reda.

Farid memakan mie itu perlahan.

Rasanya hangat.

Bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati.

Pesan Terakhir.

Saat hendak pulang, orang tua itu memberi pesan terakhir:

“Nak,
Dunia sering menjual penampilan.
Tetapi akhirat menilai isi.”

“Harga bisa dibuat manusia.

Namun rasa sejati hanya lahir dari ketulusan.”

Farid pun berjalan pulang sambil tersenyum kecil.

Hari itu ia belajar:
Bahwa tidak semua yang mahal memberi ketenangan.

Dan tidak semua yang sederhana kehilangan nilai.
Kadang, yang paling menenangkan justru hadir tanpa kemewahan, tanpa sampul indah, tetapi penuh kejujuran dan rasa.

Makna Ilmu
Sampul hanyalah tampilan luar, isi menentukan nilai sebenarnya.

Harga dapat dibentuk oleh pasar, tetapi rasa dibentuk oleh proses dan hati.

Manusia sering tertipu kemasan, padahal kualitas sejati lahir dari kejujuran.
Kehidupan bukan perlombaan terlihat hebat, tetapi perlombaan menjadi bermanfaat.
Ketulusan sering hadir dalam kesederhanaan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.