SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah
Beranda » Berita » Berjihad Dengan Jihad Yang Besar: Refleksi Fungsi Jiwa yang Berfluktuasi Bersama Al-Qur’an dalam Konsep “Berfikir Qur’ani”

Berjihad Dengan Jihad Yang Besar: Refleksi Fungsi Jiwa yang Berfluktuasi Bersama Al-Qur’an dalam Konsep “Berfikir Qur’ani”

Berjihad Dengan Jihad Yang Besar: Refleksi Fungsi Jiwa yang Berfluktuasi Bersama Al-Qur’an dalam Konsep “Berfikir Qur’ani”
Berjihad Dengan Jihad Yang Besar: Refleksi Fungsi Jiwa yang Berfluktuasi Bersama Al-Qur’an dalam Konsep “Berfikir Qur’ani”

 

SURAU.CO – Pendahuluan, Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup yang diturunkan Allah SWT sebagai ruh dan cahaya bagi manusia. Kehadiran Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca sebagai ibadah ritual, tetapi untuk dipahami, ditadabburi, dan dijadikan dasar berpikir dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam konsep “Berfikir Qur’ani”, manusia diajak menjadikan wahyu sebagai parameter kebenaran agar fungsi jiwa tetap hidup, sehat, dan terarah.

Allah SWT berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗ وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Asy-Syura: 52)

Asah Asih Asuh “Perjalanan dari Pelem Sewu ke Universitas Ahmad Dahlan: Bertemu 1 Perempatan, 2 Lampu Merah demi Ilmu Sang Surya”

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah energi spiritual yang menghidupkan jiwa dan cahaya yang menerangi akal manusia. Tanpa Al-Qur’an, manusia akan kehilangan orientasi hidup dan mudah terseret arus hawa nafsu.

Fungsi Pendengaran, Penglihatan, dan Hati dalam Berpikir

Allah SWT menciptakan manusia dengan perangkat keilmuan berupa pendengaran, penglihatan, dan hati (fuad). Ketiga unsur ini menjadi modal dasar dalam memahami kebenaran.

Allah SWT berfirman:

> وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا ۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Mirisnya Penegakan Hukum di Indonesia: Analisis Dugaan Korupsi Pengadaan Laptop Kemendikbud dalam Perspektif Keadilan dan Good Governance

Ayat tersebut menjelaskan bahwa proses berpikir harus dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab. Dalam Islam, berpikir bukan sekadar aktivitas logika, tetapi juga aktivitas ruhani yang melibatkan kebersihan hati.

Rasulullah SAW bersabda:

> أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).¹

Hadis ini menunjukkan bahwa hati memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir dan perilaku manusia.

Harapan yang Tak Pernah Putus: Seni Menanti Jawaban Doa dengan Senyuman

Krisis Jiwa Akibat Menjauh dari Wahyu

Ketika manusia tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, maka fungsi jiwanya akan mengalami kerusakan. Hati menjadi keras, akal kehilangan arah, dan hidup dipenuhi kegelisahan.

Allah SWT berfirman:

> اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَا ۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

“Maka tidakkah mereka berjalan di bumi lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan modern. Banyak manusia memiliki kecerdasan akademik tinggi, tetapi kehilangan ketenangan batin karena jauh dari wahyu Allah SWT.

Allah SWT juga berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Meereka seperti hewan ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Makna Jahiliyah Modern

Jahiliyah bukan hanya masa sebelum Islam, tetapi cara berpikir yang jauh dari petunjuk Allah SWT. Jahiliyah muncul ketika manusia lebih mengikuti hawa nafsu dibanding wahyu.

Allah SWT berfirman:

> اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Dalam kehidupan modern, jahiliyah tampak dalam budaya hedonisme, materialisme, kesombongan intelektual, dan fanatisme golongan. Banyak manusia merasa dirinya paling benar sambil mudah menyalahkan orang lain tanpa ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

> لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan.” (HR. Abu Dawud).²

Jihad Terbesar dengan Al-Qur’an

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berjihad dengan Al-Qur’an sebagai jihad yang besar.

> فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا

“Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)

Jihad dalam ayat ini bukan hanya peperangan fisik, tetapi perjuangan intelektual, spiritual, dan moral dalam membela kebenaran Al-Qur’an.

Jihad Al-Qur’an dilakukan dengan:

  1. Membaca dan memahami Al-Qur’an.

  2. Mentadabburi ayat-ayat Allah.

  3. Mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.

  4. Menyampaikan dakwah dengan hikmah.

  5. Melawan hawa nafsu dan kebodohan.

Rasulullah SAW bersabda:

> خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).³

Hadis ini menunjukkan bahwa jihad terbesar seorang Muslim adalah membangun kehidupan berdasarkan ilmu Al-Qur’an.

Tadabbur sebagai Revolusi Mental

Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk mentadabburi ayat-ayat-Nya agar lahir perubahan dalam jiwa dan cara berpikir.

Allah SWT berfirman:

> اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)

Tadabbur melahirkan revolusi mental, yakni perubahan paradigma hidup dari orientasi dunia menuju orientasi akhirat. Orang yang hidup bersama Al-Qur’an akan memiliki ketenangan jiwa dan kejernihan berpikir.

Allah SWT berfirman:

> اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Penutup

Berjihad dengan Al-Qur’an adalah perjuangan terbesar umat Islam sepanjang zaman. Jihad ini bukan hanya menjaga mushaf Al-Qur’an, tetapi juga menjaga nilai-nilainya tetap hidup dalam akal, hati, dan perilaku manusia.

Manusia yang berpikir Qur’ani akan menjadikan wahyu sebagai dasar seluruh keputusan hidupnya. Ia tidak mudah terombang-ambing oleh opini manusia, budaya jahiliyah, maupun hawa nafsu.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang hidup bersama Al-Qur’an, memahami ayat-ayat-Nya, serta mampu berjihad dengan jihad yang besar melalui ilmu, dakwah, dan ketakwaan.

Footnote

  1. Imam Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Fadhl Man Istabra’a Lidinihi, No. 52.

  2. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab al-Adab, Bab fi al-‘Ashabiyyah, No. 5121.

  3. Imam Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha’il al-Qur’an, Bab Khairukum Man Ta‘allama al-Qur’an, No. 5027.

  4. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Jilid 7, hlm. 198.

  5. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, Jilid 13, hlm. 54.

  6. M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2007, hlm. 122.

  7. Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur’an, Beirut: Dar al-Syuruq, Jilid 5, hlm. 287. (Tengku Iskandar)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.