SURAU.CO – Abstrak; Aqidah merupakan fondasi utama dalam Islam yang menjadi dasar diterima atau ditolaknya seluruh amal seorang hamba. Penyimpangan dalam aqidah dapat mengakibatkan kerusakan iman, bahkan menyeret seseorang kepada kesyirikan apabila meyakini adanya sekutu bagi Allah atau mengalihkan bentuk ibadah kepada selain-Nya. Artikel ini mengkaji pentingnya menjaga kemurnian aqidah berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis.
Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai bentuk keyakinan menyimpang, seperti mempercayai ramalan, perdukunan, jimat, kesaktian benda, hingga keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tauhid, merupakan ancaman serius bagi keimanan seorang Muslim. Oleh karena itu, pendidikan tauhid, pembelajaran ilmu syar’i, serta komitmen berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi kebutuhan yang sangat mendasar. Kata Kunci: Aqidah, Tauhid, Syirik, Bid’ah, Keimanan.
Pendahuluan
Islam dibangun di atas aqidah yang lurus. Aqidah bukan sekadar pengetahuan, melainkan keyakinan yang tertanam kuat dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui amal perbuatan. Seluruh ibadah yang dilakukan seorang Muslim akan bernilai apabila dibangun di atas aqidah yang benar.
Allah Ta’ala berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ»
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisā’ [4]: 48).¹
Ayat tersebut menunjukkan bahwa syirik merupakan dosa terbesar dalam Islam. Karena itu, menjaga kemurnian aqidah merupakan kewajiban setiap Muslim.
Hakikat Aqidah dalam Islam
Kata aqidah berasal dari bahasa Arab العقيدة, yang berarti ikatan yang kokoh. Dalam istilah syariat, aqidah adalah keyakinan yang pasti terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir.
Rasulullah ﷺ selama tiga belas tahun di Makkah memusatkan dakwah pada penanaman tauhid sebelum turunnya berbagai hukum syariat. Hal ini menunjukkan bahwa aqidah merupakan pondasi seluruh ajaran Islam.²
Bentuk-Bentuk Keyakinan Menyimpang
Penyimpangan aqidah dapat muncul dalam berbagai bentuk, di antaranya:
- Mempercayai dukun dan paranormal mengetahui perkara gaib.
- Menggunakan jimat sebagai penolak bala.
- Meyakini benda tertentu membawa keberuntungan.
- Meminta pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang hanya Allah mampu melakukannya.
- Mengikuti ajaran yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
- Mengkultuskan tokoh hingga meyakini memiliki sifat-sifat ketuhanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Barang siapa menggantungkan jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik.”³
Dampak Penyimpangan Aqidah
Penyimpangan aqidah memiliki dampak yang sangat besar, antara lain:
- Merusak keimanan.
- Menghapus pahala amal apabila sampai kepada syirik akbar.
- Menimbulkan ketergantungan kepada selain Allah.
- Membuka pintu berbagai bentuk kesesatan.
- Menghilangkan ketenangan hati.
Allah berfirman:
«وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ»
“Jika engkau berbuat syirik, niscaya gugurlah seluruh amalmu.” (QS. Az-Zumar [39]: 65).⁴
Menjaga Kemurnian Aqidah
Agar aqidah tetap lurus, seorang Muslim hendaknya:
- Mempelajari ilmu tauhid dari sumber yang benar.
- Memahami Al-Qur’an dan hadis sesuai pemahaman generasi salaf.
- Menjauhi praktik perdukunan, ramalan, dan kesyirikan.
- Memperbanyak doa memohon keteguhan hati.
Rasulullah ﷺ sering berdoa:
«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”⁵
Penutup
Menjaga aqidah merupakan kewajiban terbesar setiap Muslim. Di tengah berkembangnya berbagai paham, tradisi, dan kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid, umat Islam dituntut untuk senantiasa menimbang setiap keyakinan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih. Aqidah yang lurus akan melahirkan ibadah yang benar, akhlak yang mulia, serta kehidupan yang penuh keberkahan.
Semoga Allah ﷻ menjaga hati kita di atas tauhid hingga akhir hayat. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.
Footnote (Chicago Notes)
- Al-Qur’an, QS. An-Nisā’ [4]: 48.
- , ed. Muhammad Zuhair bin Nasir al-Nasir (Riyadh: Dār Ṭawq al-Najāh, 1422 H), no. 50.
- , ed. Shu’aib al-Arna’ūṭ et al. (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2001), no. 17422.
- Al-Qur’an, QS. Az-Zumar [39]: 65.
- , ed. Bashshār ‘Awwād Ma’rūf (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), no. 2140.
- (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), jil. 2.
- (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2006), jil. 5.
- (Cairo: Dār Hijr, 2001), jil. 8.
- (Riyadh: Dār al-Salām, 2000).
- (Riyadh: Dār al-Ṣumai’ī, 2002).
Daftar Pustaka
Ahmad bin Hanbal. . Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2001.
Al-Bukhari. . Riyadh: Dār Ṭawq al-Najāh, 1422 H.
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qurthubi. . Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2006.
Al-Tabari. . Cairo: Dār Hijr, 2001.
Ibnu Katsir. . Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.
Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. . Riyadh: Dār al-Salām, 2000.
Muslim ibn al-Hajjaj. . Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth al-‘Arabī, n.d.
Al-Tirmidhi. . Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
