SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim

Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim

Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim
Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim

 

SURAU.CO – Abstrak: Kecenderungan manusia untuk mengejar kehidupan dunia sering kali menggeser orientasi hidup yang seharusnya berpusat pada kebahagiaan akhirat. Al-Qur’an dan Sunnah tidak melarang umat Islam mencari rezeki dan menikmati nikmat dunia, tetapi menegaskan bahwa dunia hanyalah tempat singgah yang bersifat sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Artikel ini mengkaji konsep dunia dan akhirat berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta pandangan para ulama, sehingga dapat menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang seimbang antara ikhtiar duniawi dan persiapan menuju akhirat. Kata kunci: dunia, akhirat, zuhud, amal saleh, orientasi hidup.

Pendahuluan

Perkembangan zaman telah membawa manusia pada perlombaan mengejar materi, jabatan, dan popularitas. Banyak orang mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau luasnya pengaruh. Akibatnya, kehidupan akhirat sering terlupakan.

Islam memandang dunia sebagai ladang untuk menanam amal, bukan tujuan akhir. Dunia memiliki nilai jika digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebaliknya, dunia menjadi hina apabila membuat manusia lalai dari mengingat-Nya.

Qadarullah wa Mā Syā’a Fa’ala: Membangun Keteguhan Jiwa dalam Menghadapi Takdir Allah

Dunia dalam Perspektif Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

«اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ»

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam harta dan anak.” (QS. Al-Hadid [57]: 20)

Ayat ini menjelaskan bahwa gemerlap dunia bersifat sementara. Semua kenikmatan dunia akan berakhir ketika kematian datang.

Allah juga berfirman:

Kemerdekaan dan Keikhlasan

«وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى»

“Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la [87]: 17)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih bernilai dibandingkan kehidupan dunia yang fana.

Dunia Bukan untuk Dicintai Berlebihan

Rasulullah ﷺ bersabda:

Dasar Laut

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini mengajarkan agar seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tempat menetap selamanya. Seorang musafir hanya mengambil bekal secukupnya untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir.

Zuhud Bukan Berarti Meninggalkan Dunia

Zuhud bukan berarti hidup miskin atau meninggalkan pekerjaan. Beserta Zuhud adalah menjadikan dunia berada di tangan, bukan di hati. Seorang pedagang, pejabat, guru, atau petani tetap dapat menjadi pribadi yang zuhud apabila seluruh aktivitasnya diniatkan sebagai ibadah dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.

Menjadikan Dunia Sebagai Ladang Akhirat

Islam mengajarkan keseimbangan. Allah SWT berfirman:

«وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا»

“Carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang Muslim diperintahkan bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, dan memakmurkan bumi, namun semua itu diarahkan untuk memperoleh ridha Allah.

Penutup

Dunia bukanlah musuh, tetapi juga bukan tujuan. Kehidupan dunia adalah kesempatan untuk menanam amal yang akan dipanen di akhirat. Harta akan habis, jabatan akan berakhir, dan usia akan selesai, tetapi amal saleh akan tetap mengalir hingga hari pembalasan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan dunia sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat, sehingga ketika meninggalkan dunia kita membawa bekal terbaik berupa iman, takwa, dan amal saleh.

Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Imam al-Bukhari. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
  • Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
  • Imam al-Qurthubi. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.
  • Imam an-Nawawi. Riyadhus Shalihin.
  • Sayyid Qutb. Fi Zhilal al-Qur’an.
  • Buya Hamka. Tafsir Al-Azhar. (Tengku Iskandar)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.