SURAU.CO – Menurut Al-Qur’an, hadis sahih, dan penjelasan ulama, keberadaan ṣirāṭ sebagai jembatan di atas Jahannam pada hari kiamat adalah bagian dari perkara gaib yang benar, bukan sekadar imajinasi atau cerita simbolis.
Namun, perlu dibedakan antara apa yang benar-benar ada dalilnya dan gambaran tambahan yang sering diceritakan masyarakat.
- Al-Qur’an
Alloh berfirman:
وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu melainkan akan mendatanginya…”
QS. Maryam: 71
Ayat berikutnya menjelaskan:
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا
“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya…”
QS. Maryam: 72..
Para ulama mengaitkan ayat ini dengan peristiwa melewati Jahannam, meskipun terdapat perbedaan penafsiran tentang makna wurūd (وُرُود).
- Hadis sahih menjelaskan adanya jembatan
Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, terdapat bab khusus:
بَابُ الصِّرَاطِ جِسْرُ جَهَنَّمَ
“Bab: Ṣirāṭ adalah jembatan Jahannam.”
Nabi SAW menjelaskan bahwa setelah manusia dikumpulkan, jembatan Jahannam ditegakkan, kemudian manusia melewatinya.
Beliau juga menyebut adanya kalālib (pengait) dan bahwa manusia melewati sesuai keadaan amal mereka.
Dalam riwayat tersebut para rasul berdoa:
اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ
“Ya Alloh, selamatkanlah, selamatkanlah.”
Keadaan Berbeda-beda
- Apakah bentuknya seperti jembatan yang kita bayangkan?
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Kita beriman bahwa ṣirāṭ itu benar, berdasarkan hadis-hadis sahih.
Tetapi kita tidak boleh memastikan detail yang tidak dijelaskan wahyu—misalnya membuat ukuran, bentuk fisik secara terperinci, atau menggambarkannya seperti jembatan dunia.
Ulama menjelaskan bahwa manusia melewati ṣirāṭ dengan keadaan berbeda-beda: ada yang sangat cepat, ada yang lebih lambat, dan ada yang tidak berhasil melewatinya.
Keadaan tersebut berkaitan dengan amal dan kehendak Alloh.
- Jadi, mana fakta dan mana imajinasi?
Pernyataan
Status
Ṣirāṭ ada pada hari kiamat
Fakta akidah berdasarkan hadis sahih
Ṣirāṭ berada di atas Jahannam
Ada dalam hadis sahih
Manusia melewatinya
Ada dalam hadis sahih
Kecepatan manusia berbeda-beda
Ada dalam hadis
Amal berpengaruh terhadap perjalanan melewatinya
Ada dalam hadis
Membuat gambaran detail bentuk ṣirāṭ berdasarkan khayalan
Bukan dalil
Menganggap ṣirāṭ hanya simbol perjalanan hidup di dunia
Tidak sesuai dengan makna zahir hadis-hadis sahih
Renungan
Ada sebuah pelajaran menarik
Ṣirāṭ di akhirat adalah perkara gaib yang harus diimani; sedangkan ṣirāṭ al-mustaqīm di dunia adalah jalan hidup yang harus ditempuh.
Alloh mengajarkan kita setiap hari:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.”
QS. Al-Fātiḥah: 6
Maka jangan menjadikan gambaran ṣirāṭ sebagai sekadar cerita yang menakutkan. Pesan terpentingnya adalah: selama hidup, manusia diminta berjalan di jalan Alloh; dan pada akhirat, keselamatan berada di tangan Alloh.
Jadi kesimpulannya:
Ṣirāṭ akhirat = bukan imajinasi, tetapi perkara gaib yang memiliki dasar kuat dalam hadis sahih.
Adapun detail-detail visual yang tidak berasal dari Al-Qur’an atau hadis sahih, jangan dipastikan sebagai fakta agama.
Emosi dan Marah
Emosi itu muncul, tetapi marah adalah bagaimana emosi itu diarahkan.
Mata melihat, pikiran menafsirkan, hati merasakan, lalu tubuh bertindak. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya
“Mengapa aku marah?”, tetapi:
“Apa yang pertama kali menggerakkan: mata, hati, atau pikiran?”
- Mata: menerima rangsangan
Mata dapat menjadi pintu pertama masuknya rangsangan. Al-Qur’an memerintahkan manusia menjaga pandangan:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
Qul lil-mu’minīna yaghuddū min abṣārihim
“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka…”
(QS. An-Nur: 30)
Mata melihat, tetapi mata tidak selalu menjadi sumber keputusan. Apa yang dilihat kemudian diproses oleh pikiran dan hati.
Contoh: seseorang melihat orang lain berbicara keras. Mata menangkap kejadian.
Pikiran memberi makna, kemudian hati memberi rasa.
- Pikiran: memberi tafsir
Peristiwa yang sama dapat menghasilkan emosi berbeda karena manusia menafsirkannya berbeda.
Misalnya:
Melihat → berpikir → menafsirkan → merasa → bertindak.
Karena itu Islam sangat menekankan tabayyun(memeriksa kebenaran):
فَتَبَيَّنُوا
Fatabayyanū
“Maka telitilah/klarifikasilah.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Jangan sampai mata melihat sesuatu, pikiran langsung menyimpulkan, lalu hati marah, padahal kesimpulannya belum tentu benar.
Mengolah Rangsangan Sikap
- Hati: pusat rasa dan arah
Al-Qur’an menyebut hati (qalb) sebagai sesuatu yang dapat memahami:
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami…”
(QS. Al-A’raf: 179)
Karena itu, hati memiliki peran penting dalam mengolah rangsangan menjadi sikap.
Nabi SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam jasad terdapat segumpal daging… ketahuilah, ia adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka persoalan marah bukan sekadar persoalan raga, tetapi juga persoalan qolbu.
- Lalu siapa yang menggerakkan?
Bisa dibuat sebagai rantai pengendalian diri:
MATA → melihat
↓
PIKIRAN → menafsirkan
↓
HATI → merasakan/menentukan sikap
↓
NAFSU → mendorong
↓
RAGA → bertindak
Namun urutan ini bukan hukum biologis yang selalu sama.
Kadang emosi muncul sangat cepat sebelum kita sempat berpikir secara sadar.
Karena itu, Islam memberikan rem ketika marah.
Rosululloh SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Al-Qur’an memuji:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Renungan
Mata bukan untuk memutuskan.
Pikiran bukan untuk tergesa-gesa.
Hati bukan untuk dikuasai amarah.
Nafsu bukan untuk menjadi pemimpin.
Raga bukan untuk melampiaskan.
Mata melihat, pikiran menimbang, hati menyadari, iman mengarahkan, lalu raga melaksanakan.
Dengan demikian, emosi bukan selalu musuh. Marah pun pada dirinya merupakan keadaan manusiawi. Yang menjadi persoalan adalah ketika amarah mengambil alih akal, hati, dan tindakan.
Dalam bahasa sederhana:
Yang dilihat belum tentu seperti yang dipikirkan.
Yang dipikirkan belum tentu seperti yang dirasakan.
Dan Yang dirasakan belum tentu harus dilakukan.
Di situlah iman dan adab menjadi pengendali emosi. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

