SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Melatih Kesamaan Bertindak Jiwa dan Raga

Melatih Kesamaan Bertindak Jiwa dan Raga

Melatih Kesamaan Bertindak Jiwa dan Raga
Melatih Kesamaan Bertindak Jiwa dan Raga

 

SURAU.CO – Manusia diciptakan Alloh dengan kesatuan jiwa dan raga. Jiwa menjadi pengarah, sedangkan raga menjadi pelaksana. Ketika hati dipenuhi iman, pikiran diterangi ilmu, dan anggota tubuh tunduk kepada ketaatan, maka lahirlah keselarasan amal yang bernilai ibadah.

Kesamaan bertindak antara jiwa dan raga bukan berarti keduanya memiliki fungsi yang sama, tetapi keduanya berjalan seiring dalam ketaatan kepada Alloh.

Hati yang ikhlas

Akan menggerakkan lisan untuk berkata benar, tangan untuk berbuat baik, kaki untuk melangkah menuju kebaikan, dan seluruh tubuh menjauhi kemaksiatan.
Alloh Swt. berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”

AMALAN SPIRITUAL 30 ULAMA’ NUSANTARA

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Latin: Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm. Innas-sam’a wal-baṣara wal-fu’āda kullu ulāika kāna ‘anhu masūlā.

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Alloh juga berfirman:

TAFSIR MELAYU: TAFSIR AL-QUR’AN 30 JUZ RIWAYAT ULAMA-ULAMA MELAYU MALAYSIA

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9)

Hadis Rosululloh SAW
Dari An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah SAW bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ala wa inna fil-jasadi mudghah, idza shaluhat shaluhal-jasadu kulluhu, wa idza fasadat fasadal-jasadu kulluhu, ala wa hiya al-qalb.

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Agar Tidak Dibodoh-bodohi Oleh Setan, Jangan Bodoh Tentang Agama: Urgensi Ilmu Syar’i sebagai Benteng Menghadapi Tipu Daya Setan dalam Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah

Pandangan Ulama

Abu Hamid al-Ghazali
menjelaskan bahwa hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh adalah tentaranya. Jika hati dipenuhi iman dan takwa, seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam kebaikan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa amal lahir adalah cerminan keadaan batin. Jiwa yang bersih akan melahirkan perilaku yang bersih, sedangkan hati yang sakit akan tampak dalam ucapan dan tindakan.

Tataran

Melatih kesamaan bertindak antara jiwa dan raga dimulai dari:

Meluruskan niat sebelum beramal.

Membiasakan zikir agar hati tetap hidup.

Menuntut ilmu agar amal memiliki dasar yang benar.

Menjaga lisan, pandangan, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang.

Melakukan muhasabah agar jiwa dan raga tetap berada di jalan Alloh.

Akhir kata
Jiwa yang hidup akan menghidupkan raga.

Raga yang taat menjadi bukti hidupnya jiwa. Ketika keduanya berpadu dalam keikhlasan dan ketakwaan, manusia akan menjadi hamba yang utuh berpikir dengan iman, merasa dengan ihsan, dan bertindak dengan amal saleh. Itulah jalan menuju ridha Alloh dan kebahagiaan di dunia serta akhirat.

 

 

 


Membaca dan Menulis di Awan

 

Membaca dan menulis di awan bukanlah tentang meraih langit dengan tangan, melainkan mengangkat hati agar mampu melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih tinggi. Awan selalu bergerak, namun tidak pernah kehilangan arah mengikuti ketentuan Alloh. Demikian pula manusia, hendaknya terus belajar, berpikir, dan berkarya tanpa terikat oleh kesombongan.

Membaca di awan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Alloh yang terbentang di langit dan di bumi.

Menulis di awan adalah meninggalkan jejak kebaikan yang kelak dikenang manusia, meski diri telah tiada.

Alloh SWT berfirman:

«”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
QS. Ali ‘Imran [3]: 190»

Ayat ini mengajarkan bahwa alam semesta adalah kitab terbuka yang harus dibaca dengan akal, hati, dan iman.

Rosululloh SAW bersabda:

«”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama)»

Tulisan yang lahir dari ilmu, keikhlasan, dan hikmah akan menjadi manfaat yang terus mengalir. Bahkan setelah penulisnya wafat, ilmunya dapat menjadi amal jariyah.

Para ulama menegaskan bahwa membaca membuka cakrawala ilmu, sedangkan menulis mengabadikan ilmu. Imam Asy-Syafi’i pernah menekankan pentingnya mengikat ilmu dengan tulisan, karena hafalan dapat memudar, tetapi tulisan dapat menjadi warisan.

Maka, membaca dan menulis di awan adalah perjalanan ruhani: membaca ayat-ayat Alloh di alam semesta, lalu menuliskan hikmah yang menyejukkan hati, menguatkan iman, dan mengajak manusia menuju jalan yang diridhoi-Nya.

Makna

Jadilah pembaca yang menemukan makna di balik setiap peristiwa, dan jadilah penulis yang meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi sesudahnya. Walau tulisan berada “di awan”, nilainya akan tetap turun sebagai hujan ilmu, rahmat, dan keberkahan bagi kehidupan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.