SURAU.CO – Muharram adalah bulan yang dimuliakan Alloh. Setiap hari yang dilalui merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan meneguhkan ketakwaan. Hikmah berikut merupakan renungan yang berpijak pada Al-Qur’an dan hadis, bukan penetapan keutamaan khusus untuk setiap tanggal.
11 Muharram Melanjutkan Semangat Hijrah
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah dari keburukan menuju kebaikan.
Landasan:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” — QS. Al-‘Ankabut [29]: 69
12 Muharram
Menjaga Keikhlasan
Amal yang kecil menjadi besar karena ikhlas.
Landasan:
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” — QS. Al-Bayyinah [98]: 5
Hadis:
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
13 Muharram Memperbanyak Istighfar
Orang yang sering memohon ampun akan memperoleh ketenangan hati.
Landasan:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.” — QS. Al-Qur’an 71:10
14 Muharram
Bersabar dalam Ujian
Kesabaran adalah cahaya yang menguatkan langkah seorang mukmin.
Landasan:
“Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.” — QS. Al-Baqarah [2]: 153
15 Muharram Mempererat Silaturahmi
Silaturahmi memperpanjang keberkahan umur dan rezeki.
Hadis:
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
16 Muharram Bersyukur atas Nikmat
Syukur membuka pintu tambahan nikmat dari Alloh.
Landasan:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” — QS. Ibrahim [14]: 7
17 Muharram
Menuntut Ilmu
Ilmu yang bermanfaat menjadi cahaya kehidupan.
Hadis:
“Barang siapa jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim ibn al-Hajjaj)
18 Muharram
Berbuat Baik kepada Sesama
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Hadis:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Hadis ini diriwayatkan dalam beberapa kitab dengan kualitas yang diperselisihkan, namun maknanya sejalan dengan ajaran Islam tentang tolong-menolong.)
19 Muharram
Muhasabah Diri
Setiap hari adalah kesempatan mengevaluasi amal sebelum datang hari perhitungan. Landasan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” — QS. Al-Hasyr [59]: 18
20 Muharram: Meneguhkan Istiqamah
Keberhasilan bukan hanya memulai kebaikan, tetapi juga menjaga konsistensinya.
Landasan:
“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” — QS. Hud [11]: 112
Hadis:
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Alloh,’ kemudian beristiqomahlah.” (HR. Muslim ibn al-Hajjaj)
Akhir kata
Muharram mengajarkan bahwa setiap hari adalah kesempatan memperbarui iman, memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan mendekatkan diri kepada Alloh.
Semoga kita termasuk hamba yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga setiap langkah menjadi bekal menuju ridho-Nya. Aamiin.
“Pengasahan KeEsaan Tuhan untuk Ruang Kolbu”
Bismillahirrahmanirrahim. Ruang kolbu adalah tempat bersemayamnya keyakinan, keikhlasan, dan kesadaran akan kehadiran Alloh. Namun kolbu tidak akan selalu bening. Ia dapat tertutup oleh debu kesombongan, keakuan, kecintaan berlebihan kepada dunia, serta kelalaian dalam mengingat Tuhan.
Karena itu, tauhid atau pengesaan Alloh perlu terus diasah agar cahaya keimanan tetap menerangi ruang hati.
Mengasah keesaan Tuhan bukanlah menambah Alloh dalam kehidupan, melainkan mengurangi segala sesuatu yang menyaingi-Nya dalam hati. Ketika kolbu dipenuhi kesadaran bahwa segala kekuatan, kemuliaan, ilmu, dan rezeki berasal dari Alloh, maka hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih, dan langkah hidup menjadi terarah.
Alloh berfirman:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ ۚ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas: 1)
Ayat ini menjadi inti dari seluruh ajaran tauhid.
Keesaan Alloh bukan sekadar diucapkan oleh lisan, tetapi harus dihadirkan dalam kesadaran jiwa dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan.
Alloh juga berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alaa bidzikrillaahi tathma’innul quluub
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenteraman hati tidak lahir dari banyaknya harta, jabatan, atau pujian manusia, melainkan dari kedekatan dengan Alloh Yang Maha Esa.
Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ
Afdhaludz dzikri laa ilaaha illallaah
“Zikir yang paling utama adalah ‘Laa ilaaha illallaah’.”
(HR. At-Tirmidzi)
Kalimat tauhid merupakan alat pengasah kolbu yang paling kuat. Semakin sering dihayati dan diamalkan, semakin bersih hati dari ketergantungan kepada selain Alloh.
Pandangan Ulama
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati ibarat cermin. Apabila dipenuhi dosa dan kelalaian, cermin itu menjadi kusam. Zikir, tafakur, dan tauhid berfungsi membersihkan cermin tersebut agar mampu memantulkan cahaya ketuhanan.
Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata:
“Bagaimana hati akan bersinar sementara gambaran dunia masih melekat pada cerminnya.”
Ungkapan ini mengingatkan bahwa cahaya tauhid akan semakin terang ketika hati tidak diperbudak oleh kepentingan duniawi.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan bahwa hakikat tauhid adalah melihat Alloh sebagai tujuan utama, sementara selain-Nya hanyalah sarana menuju keridaan-Nya.
Tataran
Mengasah keesaan Tuhan untuk ruang kolbu adalah perjalanan seumur hidup. Ia dilakukan melalui salat yang khusyuk, zikir yang tulus, ilmu yang diamalkan, serta akhlak yang baik kepada sesama. Ketika tauhid telah bersemayam kuat di dalam hati, maka kegembiraan tidak membuat lupa diri dan kesedihan tidak membuat putus asa.
Kolbu yang terasah oleh keesaan Tuhan akan memandang dunia sebagai ladang amal, memandang manusia sebagai saudara, dan memandang kehidupan sebagai perjalanan menuju Sang Pencipta.
“Barang siapa mengasah tauhid dalam kolbunya, maka ia akan menemukan bahwa di balik keramaian dunia terdapat ketenangan yang hanya berasal dari Alloh Yang Maha Esa.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
