SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Papua Tanah Injil, Lalu Islam Masuk Dari Mana, Pace?

Papua Tanah Injil, Lalu Islam Masuk Dari Mana, Pace?

Papua Tanah Injil, Lalu Islam Masuk Dari Mana, Pace?
Papua Tanah Injil, Lalu Islam Masuk Dari Mana, Pace?

 

SURAU.CO – Artikel saya berjudul “Luar Biasa Ramai Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua” viral. Sampai saat ini sudah di-like 12,7K, dikomentari 792, di-share 474, dan dibaca 406.636 kali. Di balik viral itu, ternyata ada perdebatan netizen di dalamnya. Ada merasa tidak diterima Islam masuk sudah 666 tahun. Ada mengklaim Papua Tanah Injil atau Tanah Perjanjian. Bernahkan demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

“Papua itu Tanah Perjanjian!” Waduh. Tenang, pace. Jangan baru membaca satu paragraf langsung menghunus keyboard. Kita sedang membicarakan sejarah, bukan final Piala Dunia.

Bagi sebagian masyarakat Papua, istilah “Tanah Injili” memang memiliki akar sejarah dan identitas yang kuat. Titik pentingnya adalah 5 Februari 1855, ketika dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, tiba di Pulau Mansinam, Manokwari. Peristiwa itu kemudian menjadi tonggak pekabaran Injil di Tanah Papua dan diperingati setiap 5 Februari.

So, kalau saudara-saudara Kristen Papua menyebut tanahnya Tanah Injili, itu bukan sesuatu yang perlu ditertawakan. Itu bagian dari identitas sejarah mereka. Masalahnya muncul ketika istilah identitas berubah menjadi klaim, hanya satu sejarah boleh hidup.

Perjalanan Jauh

Nah, di situlah kita perlu berhenti sebentar. Sebab Papua bukan satu warna. Papua itu seperti noken, banyak benang, banyak warna, tetapi menjadi satu anyaman.

Bahkan gagasan menjadikan Papua sebagai “Tanah Injili yang Diberkati” pernah disampaikan Yanni, anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua. Ia menyebutnya sebagai identitas kultural dan spiritual tetap memberi ruang bagi keberagaman agama serta dimaksudkan sebagai simbol integrasi spiritual dan kebangsaan.

Jadi jangan dipelintir menjadi, “Tanah Injili berarti bukan tanah Islam.” Itu logika macam apa? Kalau begitu Aceh disebut Serambi Mekkah, apakah berarti orang Kristen tidak boleh tinggal di Aceh? Bali disebut Pulau Dewata, apakah berarti umat Islam harus check-out? Tidak begitu cara kerja identitas budaya.

Identitas bukan pagar listrik

Lebih menarik lagi, istilah “Tanah Perjanjian” juga populer melalui lagu “Tanah Perjanjian” karya Glenn Fredly bersama Ras Muhamad pada 2011. Dalam konteks lagu itu, istilah tersebut justru menjadi kritik sosial tentang Papua. Tanah kaya sumber daya, tetapi keadilan dan kesejahteraan belum sepenuhnya dirasakan masyarakatnya. Glenn menyebut lagu itu sebagai seruan damai dan kepedulian terhadap persoalan Papua.

Jadi satu istilah bisa punya beberapa makna. Agama punya makna spiritual. Masyarakat punya makna kultural. Seniman punya makna kritik sosial. Sedangkan netizen kadang punya makna sendiri, yang penting debat dulu, sumber belakangan. Hehehe.

Ingat! Derita Gaza Masih Belum Sirna

Lalu bagaimana dengan Islam? Inilah yang justru membuat kita harus dewasa. Tradisi sejarah Fakfak merujuk kedatangan Islam sejak 1360 Masehi, jauh sebelum pekabaran Injil terorganisasi di Mansinam pada 1855.

Artinya, kalau sejarah itu sebuah rumah honai, jangan rebutan siapa yang paling dulu duduk di teras. Ada sejarah Islam. Ada sejarah Kristen. Dan Ada sejarah masyarakat adat. Ada sejarah sebelum semuanya datang. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan Papua. Ini justru membuat Papua semakin kaya, bukan semakin miskin.

Yang harus ditolak bukan agama Kristen. Bukan Islam. Bukan pula istilah Tanah Injili. Yang harus ditolak adalah kesombongan sejarah, merasa kelompok sendiri memegang sertifikat tunggal atas masa lalu. Sebab Tuhan tidak pernah memberikan sertifikat kepemilikan sejarah kepada netizen.

Untuk akun merasa tidak terima Islam sudah masuk 666 tahun lalu, begini pace, kalau Papua benar-benar mau disebut tanah diberkati, keberkatannya justru terlihat ketika Islam bisa hidup, Kristen bisa beribadah, masyarakat adat bisa menjaga tanah leluhur, dan semuanya tetap merasa sebagai saudara sebangsa.

Itulah Satu Tungku Tiga Batu

Islam. Katolik. Protestan. Bukan tiga tungku saling membakar. Tetapi tiga batu yang menjaga api tetap menyala. Maka jangan jadikan 666 tahun Islam sebagai ancaman bagi umat Kristen Papua.

Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim

Sebaliknya, jangan jadikan 1855 dan Tanah Injili sebagai alasan untuk menghapus jejak Islam. Sejarah bukan pertandingan lari. Tidak perlu ada yang menang. Yang penting jangan ada yang dihapus. Sebab Papua terlalu luas untuk diperas menjadi satu narasi.

Gunungnya tinggi. Lautnya luas. Hutannya lebat. Nokenya penuh warna. Sejarahnya? Jauh lebih panjang dari umur satu periode kekuasaan.

Kalau politik bisa belajar satu hal dari Papua, mungkin begini, jangan berebut menjadi batu paling besar. Sebab kalau semua ingin paling besar, tungkunya roboh. Kalau tungku roboh, yang lapar bukan cuma satu agama. Yang lapar satu kampung. Itulah Papua, pace mace.

Tanah Injil, tanah Islam, tanah adat, tanah manusia, dan semuanya tetap berada di bawah satu langit Indonesia. Foto Ai hanya ilustrasi. Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM. (Deddy)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.