SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah
Beranda » Berita » Khutbah Jum’at: Ulama Berkewajiban Mengoreksi Penguasa?

Khutbah Jum’at: Ulama Berkewajiban Mengoreksi Penguasa?

ULAMA WAJIB MENGOREKSI PENGUASA?
ULAMA WAJIB MENGOREKSI PENGUASA?

 

SURAU.CO – KHUTBAH PERTAMA الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤ (اٰلِ عِمْرَانَ)

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw. (Khutbah Jumat Edisi 39-2026)

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

Ar Rahim

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

Pemimpin yang Hidup Sederhana

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi ma’shum. Seorang penguasa tetap manusia yang bisa keliru, sehingga kekuasaan bukan alasan untuk kebal dari nasihat dan kritik. Pada Sabtu, 19 September 2026, dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto bahwa pemimpin harus hidup sederhana dan tidak membuka ruang bagi “cari muka” hingga “cari jabatan”. Beliau bahkan menegaskan, jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi apa yang dimiliki para santri, dirinya boleh diprotes, dikritik, bahkan didemo. Pernyataan ini menegaskan prinsip kepemimpinan yang lebih luas: pemegang amanah, termasuk penguasa, tidak semestinya menutup pintu kritik dan koreksi.

Prinsip tersebut juga tercermin dalam pidato awal Kekhalifahan Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.:

Mendidik Antara Kelembutan Dan Ketegasan: Menemukan Keseimbangan dalam Membentuk Generasi Berakhlak

فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِيْ وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُوْنِيْ

“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku” (M. Husain Haikal, Hayaah Muhammad saw., 1/97).

Karena itu, penguasa tidak boleh menempatkan dirinya di atas kebenaran. Kritik yang benar semestinya diterima dengan lapang dada, sedangkan kritik yang keliru dapat dijawab dengan argumentasi.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ulama tidak dimuliakan karena kedekatannya dengan kekuasaan, tetapi karena ilmu, ketakwaan, dan keberaniannya menyampaikan kebenaran. Karena itu, ulama bukanlah stempel kekuasaan yang membenarkan setiap kebijakan penguasa tanpa pemeriksaan. Jika penguasa terbukti menyimpang, ulama wajib mengoreksi dan meluruskannya. Allah Swt. berfirman:

Alhamdulillah

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 104).

Perintah amar makruf nahi mungkar mencakup Penguasa

Rasulullah saw. juga bersabda,

 الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama adalah nasihat”

Ketika para Sahabat bertanya, “Untuk siapa?”, beliau menjawab:

 لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim dan seluruh kaum Muslim” (HR. Muslim).

Nasihat kepada pemimpin dapat berupa bimbingan, peringatan, koreksi, dan ajakan menjalankan amanah sesuai syariah Allah Swt. (An-Nawawi, Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, syarah Hadits No.55).

Kewajiban mengingkari kemungkaran juga ditegaskan Rasulullah saw.:

 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Penguasa tidak dikecualikan dari kewajiban ini. Bahkan Rasulullah saw. bersabda:

 أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim” (HR. Ahmad).

Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang melakukan kezaliman.

Khalifah Membutuhkan Pengawasan dan Nasihat

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ulama yang takut kepada Allah tidak akan gentar menghadapi kekuasaan manusia. Sejarah Islam menunjukkan bahwa nasihat dan koreksi terhadap penguasa merupakan bagian dari tradisi ulama salaf, bahkan ketika syariah Islam diterapkan. Khalifah tetap manusia yang mungkin keliru sehingga membutuhkan pengawasan dan nasihat.

Diriwayatkan, seorang Muslimah pernah mengoreksi Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. terkait pembatasan mahar yang dinilainya keliru (Al-Qurthubi, Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, 5/95; tafsir QS. an-Nisâ’ [4]: 20).

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah juga dikenal berani mengkritik Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi yang zalim. Demikian pula Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menentang Abu Ja‘far al-Manshur ketika menggunakan Baitul Mal untuk membiayai dirinya dan para pengikutnya menunaikan haji. Abu Muslim al-Khaulani bahkan pernah mengoreksi Khalifah Muawiyah karena menghentikan bantuan kepada kaum Muslim, dengan mengingatkan bahwa harta tersebut bukan milik pribadi penguasa (Al-Badri, Al-Islaam bayna al-‘Ulamaa’ wa al-Hukkaam, hlm. 101).

Ulama dan penguasa semestinya menjadi mitra dalam menegakkan keadilan, bukan mitra dalam membenarkan kezaliman. Penguasa membutuhkan ulama yang berilmu, jujur, dan berani menyampaikan kebenaran; sementara ulama membutuhkan ruang untuk menasihati dan mengoreksi tanpa kehilangan kebebasan menyampaikan perkara yang haq. Keduanya harus berorientasi pada ridha Allah Swt. dan menyadari bahwa amanah kekuasaan maupun ilmu akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu, kritik yang benar tidak seharusnya dianggap ancaman dan nasihat yang ikhlas tidak semestinya dibalas dengan penghinaan. Ulama tidak boleh meninggalkan amar makruf nahi mungkar hanya karena yang dinasihati adalah penguasa.

Dikuasai Kecintaan terhadap Harta dan Kedudukan

Imam al-Ghazali rahimahullah bahkan mengingatkan eratnya hubungan antara kerusakan rakyat, penguasa, dan ulama. Beliau berkata:

فَفَسَادُ الرَّعَايَا بِفَسَادِ الْمُلُوْكِ وَفَسَادُ الْمُلُوْكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ وَفَسَادُ الْعُلَمَاءِ بِاسْتِيْلاَءِ حُبِّ الْمَالِ وَاْلجَاهِ

“Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan para ulama.Kerusakan ulama terjadi ketika mereka dikuasai oleh kecintaan terhadap harta dan kedudukan” (Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 2/357). Karena itu, ukuran keteguhan ulama bukanlah kedekatannya dengan penguasa, melainkan keberaniannya tetap berpegang pada kebenaran; sementara kekuasaan harus digunakan sebagai amanah untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyat.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan demikian, ulama memiliki tanggung jawab untuk menasihati dan mengoreksi penguasa ketika terjadi kezaliman. Salah satu bentuk kezaliman penguasa adalah ketika mereka tidak berhukum dengan hukum yang Allah Swt. turunkan, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim” (QS. al-Mâ’idah [5]: 45).

Karena itu, ulama berkewajiban menyampaikan nasihat dan mengingatkan penguasa agar menjalankan amanah sesuai syariah Islam. Sebab, sebagaimana peringatan Imam al-Ghazali, kerusakan ulama dapat menjadi sebab kerusakan penguasa ketika mereka dikuasai kecintaan terhadap harta dan kedudukan hingga enggan menyampaikan kebenaran. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ. (Imcandra)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.