SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beranda » Berita » Orang Meninggal: Dari Aning sampai Sangkan Paraning Dumadi

Orang Meninggal: Dari Aning sampai Sangkan Paraning Dumadi

Ada jasad cepat mengurai tergantung dari tanahnya dan ada yg lama
Ada jasad cepat mengurai tergantung dari tanahnya dan ada yg lama

SURAU.CO – Kematian adalah perjalanan yang pasti dialami setiap manusia. Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir dari keberadaan manusia, tetapi perpindahan dari alam dunia menuju alam barzakh, kemudian menuju kebangkitan dan kehidupan akhirat.

Dalam khazanah Jawa, perjalanan setelah kematian juga dikenal melalui berbagai istilah dan tahapan. (Wawasan keilmuan Budaya dan Agama tentang diambil dari berbagai sumber)

Salah satu tradisi yang dinisbatkan kepada
Sunan Kalijogo menggambarkan perjalanan tersebut dengan istilah aning, akhirat, kamaloka, kelangitan, manunggal jati, hingga kembali kepada Nur Alloh dan memahami sangkan paraning dumadi.

Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati.

Tradisi Jawa tidak boleh langsung disamakan dengan dalil syariat. Ia dapat dibaca sebagai warisan budaya, simbol spiritual, dan cara masyarakat Jawa memahami perjalanan manusia. Sedangkan kepastian tentang alam setelah kematian harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan hadis yang sahih.

Doa Ibu Menembus Langit: Ketulusan, Keberkahan, dan Kekuatan Doa Seorang Ibu dalam Perspektif Islam

Terlepas dari Kehidupan Duniawi

  1. Hari pertama sampai kedua: Aning

Dalam uraian tradisi Jawa, masa awal setelah kematian digambarkan sebagai aning, suatu keadaan ketika manusia telah meninggalkan alam dunia.

Secara simbolik, aning dapat dipahami sebagai keadaan hening, terlepas dari aktivitas duniawi, dan memasuki keadaan baru.

Islam sendiri menegaskan bahwa kematian merupakan perpindahan menuju alam yang tidak sama dengan dunia.

Alloh berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Renungan Budaya: Ramai ing Gawe, Sepi ing Pamrih

Kullu nafsin dzā`iqatul-maut

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
— QS. Ali ‘Imran: 185

Tetapi Al-Qur’an tidak menetapkan bahwa ruh berada pada tahap bernama “aning” selama satu atau dua hari.

  1. Hari ketiga: Akhirat

Dalam tradisi tersebut muncul istilah akhirat.

Secara bahasa, ākhirah berarti sesuatu yang datang kemudian atau kehidupan setelah kehidupan dunia.

Cara Islam Menciptakan Pemerintahan Yang Amanah Dan Profesional

Akan tetapi, dalam pengertian aqidah Islam, akhirat bukan sekadar tahap pada hari ketiga setelah kematian.

Ada alam barzakh antara kematian dan hari kebangkitan.
Alloh berfirman:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Wa min warā`ihim barzakhun ilā yaumi yub’athūn

“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
— QS. Al-Mu’minun: 100

Karena itu, istilah “hari ketiga masuk akhirat” lebih tepat disebut sebagai gambaran tradisi, bukan ketentuan waktu dalam syariat.

Alam Persinggahan

  1. Hari ketiga sampai ketujuh: Kamaloka

Dalam tradisi Jawa dikenal istilah Kamaloka, yang digambarkan sebagai alam kesenangan atau persinggahan.

Kata ini berasal dari lingkungan kosmologi Jawa yang mendapat pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dan kemudian mengalami penafsiran kembali dalam kebudayaan Jawa-Islam.

Jika dibaca secara spiritual, Kamaloka dapat dijadikan simbol tentang keterikatan manusia terhadap keinginan dan kesenangan duniawi.

Islam memberikan peringatan yang sangat jelas mengenai keterikatan tersebut:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
— QS. Ali ‘Imran: 185

Namun, tidak ada dalil sahih yang menetapkan bahwa ruh seorang Muslim menjalani “Kamaloka” selama hari ketiga sampai ketujuh.

  1. Sekitar 40 hari: Alam Kelangitan

Tahap berikutnya disebut alam kelangitan, yang secara simbolik dapat dipahami sebagai perjalanan menuju alam yang lebih tinggi.

Angka 40 memang memiliki banyak kemunculan dalam tradisi keagamaan dan kebudayaan, tetapi kita tidak boleh otomatis menyimpulkan bahwa setiap orang yang meninggal pasti mengalami perjalanan ruh selama 40 hari dengan pola tersebut.

Dalam Islam, keadaan ruh setelah kematian termasuk perkara ghoib. Karena itu, batas waktunya tidak boleh ditentukan tanpa dalil.

  1. Hari ke-40 sampai ke-100: Manunggal Jati

Istilah manunggal jati menarik karena mengandung gagasan tentang kembali kepada hakikat sejati.

Dalam tradisi spiritual Jawa, manunggal dapat menunjuk kepada proses mendekat atau menyatu dengan hakikat yang lebih tinggi.

Tetapi ungkapan tersebut harus dibedakan dari konsep tauhid Islam.

Islam tidak mengajarkan bahwa ruh manusia menjadi Alloh atau bahwa manusia secara hakikat menyatu dengan Dzat Alloh.

Alloh berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Laisa kamitslihi syai’un

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
— QS. Asy-Syura: 11

Karena itu, “manunggal jati” lebih aman dipahami sebagai bahasa simbolik tentang kedekatan spiritual kepada Alloh, bukan penyatuan Dzat manusia dengan Dzat Alloh.

Ikatan Kehidupan Dunia

  1. Hari ke-100 sampai ke-1.000: Melepaskan Ingatan

Dalam uraian tradisi tersebut, manusia digambarkan mengalami proses memisahkan ingatan, yaitu semakin terlepas dari ikatan kehidupan dunia.

Ini dapat menjadi renungan yang sangat dalam.

Ketika manusia hidup, ia berkata:

Ini rumahku.
Ini hartaku.
Ini keluargaku.
Ini jabatan-ku.
Ini namaku.
Ini keberhasilanku.

Tetapi ketika kematian datang, semuanya perlahan ditinggalkan.

Yang ikut bersama manusia bukan rumahnya, bukan kendaraan, bukan jabatan, melainkan amalnya.

Rosululloh SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
— HR. Muslim

Maka “melepaskan ingatan” dapat kita jadikan bahasa perenungan tentang melepaskan keterikatan terhadap dunia, bukan sebagai kepastian bahwa ruh membutuhkan 1.000 hari untuk melakukan proses tersebut.

  1. Kembali kepada Nur Alloh

Ungkapan Nur Alloh memiliki dasar dalam Al-Qur’an:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Alloh adalah cahaya langit dan bumi.”
— QS. An-Nur: 35

Tetapi “kembali kepada Nur Alloh” juga perlu dipahami dengan hati-hati.

Dalam aqidah Islam, manusia tidak berubah menjadi Alloh dan tidak menyatu dengan Dzat Alloh.

Yang dapat dikatakan adalah bahwa manusia kembali kepada Alloh, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nya kami kembali.”
— QS. Al-Baqarah: 156

Inilah titik pentingnya.
Sangkan paraning dumadi dapat direnungkan sebagai pertanyaan:

Dari mana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan kepada siapa manusia akan kembali?

Dalam bahasa tauhid:

Minallāh → lillāh → ilallāh.

Dari Alloh, hidup karena Alloh dan kembali kepada Alloh.

Kepastian Perjalanan Ruh

  1. Lalu bagaimana dengan 7, 40, 100, dan 1.000 hari?

Masyarakat Jawa mengenal berbagai tradisi peringatan kematian seperti:

nelung dina — mitung dina — matang puluh dina — nyatus — mendhak — nyewu.

Tradisi tersebut memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat, terutama dalam bentuk doa, sedekah, silaturahmi, dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

Tetapi penting membedakan:

Tradisi peringatan ≠ kepastian perjalanan ruh.

Kita boleh mengambil nilai baiknya selama tidak menganggap bahwa angka-angka tersebut sebagai ketetapan pasti dari Alloh dan Rosul-Nya tanpa dalil.

  1. Titik temu Jawa dan Islam

Jika dibaca secara hati-hati, terdapat ruang dialog antara kebijaksanaan Jawa dan ajaran Islam.

Tradisi Jawa bertanya:
Sangkan paraning dumadi — dari mana dan menuju ke mana?

Islam menjawab:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Kita milik Alloh dan kepada-Nya kita kembali.”

Tradisi Jawa berbicara tentang pelepasan keterikatan.

Islam mengajarkan:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ

“Dunia adalah kesenangan sementara.”

Tradisi Jawa berbicara tentang perjalanan menuju hakikat.

Islam mengajarkan manusia untuk mengenal Alloh, beribadah kepada-Nya, dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Penutup

Kematian mengajarkan satu hal yang sering dilupakan manusia:

Yang kita kejar di dunia belum tentu ikut bersama kita ketika mati.

Harta berhenti.

Jabatan berhenti.

Rumah berhenti.

Kendaraan berhenti.

Bahkan tubuh yang selama hidup kita rawat pun akhirnya kembali kepada tanah.

Yang menjadi bekal adalah amal.

Maka persoalan terpenting bukan:

“Pada hari keberapa ruh berada di alam mana?”

Tetapi:

“Ketika hari kematianku tiba, apa yang telah kubawa menghadap Alloh?”

Dari sinilah makna sangkan paraning dumadi menjadi sangat dalam.

Kita datang dari Alloh.

Dan Kita hidup dalam kehendak Alloh.

Kita menjalani amanah Alloh.

Dan akhirnya:
kita kembali kepada Alloh.
Wallāhu a’lam bish-shawāb. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.