SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Renungan Budaya: Ramai ing Gawe, Sepi ing Pamrih

Renungan Budaya: Ramai ing Gawe, Sepi ing Pamrih

Renungan Budaya: Ramai ing Gawe, Sepi ing Pamrih
Renungan Budaya: Ramai ing Gawe, Sepi ing Pamrih

SURAU.CO – Ramai ing gawe, sepi ing pamrih bukan berarti manusia harus menjauh dari keramaian. Ia adalah ajaran tentang banyak bekerja, tetapi sedikit menuntut pengakuan.

Ramai bukan karena ingin dipuji, melainkan karena banyak yang dapat dilakukan.

Sepi bukan karena tidak peduli, melainkan karena hati tidak sibuk menghitung balasan.

Dalam bahasa agama, makna ini dekat dengan ikhlas: beramal karena Alloh, bukan semata-mata karena manusia.

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Cara Islam Menciptakan Pemerintahan Yang Amanah Dan Profesional

Innamal-a‘mālu bin-niyyāt

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat.”
— HR. Bukhari dan Muslim»

Maka ukuran kebaikan bukan hanya seberapa ramai seseorang terlihat bekerja, tetapi juga seberapa bersih niat yang tersembunyi di dalam qolbunya.

Orang yang ramai ing gawe tidak harus ramai di media.
Orang yang sepi ing pamrih tidak harus sepi dari penghargaan.
Sebab penghargaan manusia boleh datang dan pergi, sedangkan amal yang ikhlas dikembalikan kepada Alloh.

Budaya Jawa mengajarkan sepi ing pamrih, rame ing gawe sebagai laku:
tangan bekerja, pikiran berpikir, hati menjaga niat.

Menghiasi Rumah Tangga Dengan Canda Yang Positif: Seni Bergembira, Menjaga Hati, dan Meneladani Rasulullah ﷺ

Di situlah budaya bertemu dengan akhlak.

Bekerja menjadi pengabdian.

Ilmu menjadi manfaat.
Jabatan menjadi amanah.

Kekuasaan menjadi tanggung jawab.
Dan kehidupan menjadi jalan untuk memberi manfaat.

Ramai ing gawe, sepi ing pamrih; banyak bergerak untuk kehidupan, tetapi hati tetap kembali kepada Tuhan.

Berbicara

 

 

 

 


GANDA, GANDU, GANDI

Ganda dapat berarti bau atau aroma dalam bahasa Jawa dan bahasa-bahasa Nusantara tertentu. Dalam bahasa Jawa, ganda berkaitan dengan ambune, sesuatu yang tercium dan meninggalkan kesan meskipun tidak tampak.

Gandu dalam pemakaian Jawa dapat menunjuk pada sesuatu yang menjadi beban atau sesuatu yang dibawah maknanya sangat bergantung pada konteks dan daerah pemakaian. Karena itu, gandu tidak tepat dipaksakan memiliki satu arti tunggal

Sedangkan gandi memiliki beberapa kemungkinan makna dalam tradisi bahasa Nusantara dan tidak selalu merupakan turunan langsung dari ganda atau gandu. Kesamaan bunyi gan-da, gan-du, gan-di belum cukup menjadi bukti bahwa ketiganya berasal dari satu akar kata.

Namun, dari permainan bunyi itu lahirlah sebuah renungan:

Ganda adalah sesuatu yang tercium.
Gandu adalah sesuatu yang terbawa.
Gandi adalah sesuatu yang memberi arti.

Apa yang keluar dari diri kita seperti ganda:
tidak selalu terlihat, tetapi dapat dirasakan.

Apa yang kita pikul seperti gandu:
tidak selalu diceritakan, tetapi membentuk perjalanan.

Dan apa yang kita tinggalkan sebagai gandi:
hendaknya bukan beban bagi sesama, melainkan jejak kebaikan.

Alloh berfirman:

«وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

Wa nafsin wa mā sawwāhā, fa-alhamahā fujūrahā wa taqwāhā, qad aflaḥa man zakkāhā.

“Demi jiwa serta penyempurnaannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya.”
(QS. Asy-Syams 91:7–9)»

Jiwa yang bersih akan memancarkan ganda yang baik bukan sekadar aroma tubuh, tetapi aroma akhlak.

Nabi SAW bersabda:

«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Innamā bu‘itstu li-utammima makārimal-akhlāq.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”»

Maka ukuran manusia bukan hanya apa yang dimiliki, tetapi apa yang dipancarkan.

Buah yang Tampak Dalam Perilaku

Imam al-Ghazali banyak mengingatkan bahwa penyakit batin dapat tersembunyi di dalam hati, sedangkan buahnya tampak melalui perilaku. Hati yang baik melahirkan amal dan akhlak yang baik.

Karena itu:

Ganda — apa yang terpancar.
Gandu — apa yang dipikul.
Gandi — apa yang ditinggalkan.

Jangan sampai hidup kita meninggalkan ganda kesombongan,
memikul gandu keserakahan,
dan meninggalkan gandi luka.

Jadilah manusia yang ketika hadir membawa harum kebaikan,
ketika berjalan sanggup memikul amanah,
dan ketika pergi meninggalkan jejak kemanfaatan.

Sebab manusia mungkin pergi,
tetapi amal dan akhlaknya tetap berbicara.

Ganda yang harum,
gandu yang ringan karena ikhlas, gandi yang panjang karena manfaat.

Itulah perjalanan jiwa:
dari apa yang terpancar, kepada apa yang dipikul, menuju apa yang ditinggalkan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.