SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Tumpeng: Tumpeng bukan sekadar Nasi Berbentuk Kerucut

Tumpeng: Tumpeng bukan sekadar Nasi Berbentuk Kerucut

Tumpeng: Tumpeng bukan sekadar nasi berbentuk kerucut
Tumpeng: Tumpeng bukan sekadar nasi berbentuk kerucut

SURAU.CO – Dalam kebudayaan Jawa, ia menjadi simbol syukur, doa, kesungguhan, kebersamaan, dan perjalanan hidup manusia menuju Alloh.

Namun, penting dibedakan antara asal-usul historis tumpeng dan pemaknaan Islami yang berkembang kemudian.

Secara historis, tumpeng telah dikenal dalam tradisi Nusantara sebelum Islam. Bentuk kerucutnya dikaitkan dengan simbol gunung. Setelah Islam berkembang di Jawa, tumpeng kemudian memperoleh berbagai penafsiran baru yang dikaitkan dengan doa, syukur, dan kehidupan religius masyarakat.

  1. Asal-usul kata “Tumpeng”

Dalam pemaknaan populer bahasa Jawa, tumpeng sering dijelaskan sebagai akronim:
Yen metu kudu mempeng
Jika keluar harus sungguh-sungguh.

Maknanya: ketika manusia menjalani kehidupan, hendaknya bersungguh-sungguh, tidak mudah menyerah, dan bertanggung jawab terhadap jalan yang ditempuh. Pemaknaan ini juga dicatat dalam sejumlah sumber kebudayaan dan kajian tentang tumpeng.

Memutuskan Mata Rantai ‘Wahn’: Meretas Jalan Menuju Ukhuwah yang Hilang

Ada pula penafsiran populer lain, “metu dalan kang lempeng”, yaitu keluar atau menjalani kehidupan melalui jalan yang lurus. Ini merupakan pemaknaan budaya, bukan etimologi bahasa Arab atau dalil syariat.

Tradisi Islam Jawa

  1. Tumpeng dan QS Al-Isra’ 17:80

Dalam tradisi Islam-Jawa, tumpeng sering dihubungkan dengan doa:

رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja ṣidqin waj‘al lī min ladunka sulṭānan naṣīrā.

“Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
— QS Al-Isra’ 17:80

Keselarasan Piagam Madinah Dan Pancasila: Menemukan Titik Temu antara Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Doa ini sangat sesuai dijadikan landasan nilai tumpeng: masuk dengan baik, keluar dengan baik, dan memohon pertolongan Alloh. Tetapi, Al-Qur’an tidak menyebut tumpeng; hubungan tersebut adalah penafsiran budaya terhadap simbol tumpeng.

  1. Beberapa tingkatan makna tumpeng

Kami melihat tumpeng dapat direnungkan secara bertingkat:

Tingkat 1 — Raga
Nasi dan lauk adalah makanan untuk menjaga tubuh.

Tingkat 2 — Syukur
Makanan menjadi sarana mengingat nikmat Allph.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Bina Remaja Usia Sekolah: Menyiapkan Generasi Beriman, Berilmu, dan Berakhlak

La’in syakartum la-azīdannakum

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
QS Ibrahim 14:7

Tingkat 3 — Silaturahmi

Tumpeng dimakan bersama, sehingga makanan menjadi sarana mempererat hubungan manusia.

Tingkat 4 — Sedekah dan berbagi
Rezeki tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dibagikan kepada orang lain.

Tingkat 5 — Kesungguhan
Yen metu kudu mempeng: hidup tidak dijalani dengan asal-asalan.

Dan Tingkat 6 — Jalan lurus

Puncak kerucut mengingatkan manusia kepada arah yang lebih tinggi: kehidupan hendaknya diarahkan kepada Alloh.

Tingkat 7 — Pertolongan Alloh

Makna ini dapat direnungkan melalui QS Al-Isra’ 17:80:

manusia berusaha, tetapi tetap memohon pertolongan Alloh.

  1. Mengapa bentuknya mengerucut?

Bentuk kerucut menyerupai gunung dan dalam kebudayaan Jawa mempunyai sejarah simbolik yang panjang.

Kajian budaya mencatat tumpeng sebagai simbol kehidupan, keselamatan, kedamaian, dan keseimbangan.

Dalam pembacaan Islami, bentuk itu dapat dijadikan simbol perjalanan dari yang banyak menuju satu tujuan:

banyak lauk → satu hidangan → satu puncak → satu arah → Alloh Yang Maha Esa.

Ini adalah renungan simbolik, bukan ketentuan agama.

  1. Tumpeng dan hadis

Nabi SAW mengajarkan nilai yang dapat menjadi ruh dari tradisi makan bersama:

الطَّعَامُ لِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ

Maknanya secara umum: makanan untuk dua orang dapat mencukupi tiga, dan makanan tiga orang dapat mencukupi empat.

Pesannya adalah berbagi dan tidak merasa kekurangan ketika makanan dibagikan.

Dalam hadis lain, Nabi SAW  mengajarkan bahwa seseorang tidak disebut sempurna imannya sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka nilai Islami tumpeng bukan terletak pada bentuk kerucutnya, tetapi pada syukur, berbagi, silaturahmi, doa, dan kebersamaan.

  1. Tumpeng sebagai “jalan kehidupan”

Jika diringkas:

Tumpeng → makanan → rezeki → syukur → berbagi → silaturahmi → doa → kesungguhan → jalan lurus → pertolongan Alloh.

Jadi, tumpeng dapat menjadi simbol budaya yang diisi dengan nilai-nilai Islam, selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau ritual yang secara khusus diperintahkan syariat.

Tumpeng bukan dalil agama.

Tumpeng adalah simbol budaya.

Yang menjadi ibadah adalah syukur, doa, sedekah, silaturahmi, dan kebaikan yang menyertainya.

Dalam cerita Jawa, inilah menariknya tumpeng: budaya menjadi wadah, sementara nilai agama memberi arah. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.