SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Berbicara

Berbicara

Berbicara
Berbicara
DAFTAR ISI−

SURAU.CO – Berbicara itu mudah, tetapi menjaga ucapan tidak selalu mudah. Dalam banyak pergaulan, kita sering menjumpai orang yang berbicara tanpa melihat tempat, waktu, keadaan, dan siapa yang sedang diajak bicara. Akibatnya, kalimat yang menurutnya biasa saja dapat menjadi sesuatu yang menyinggung hati orang lain.

Lidah memang tidak bertulang, tetapi perkataan dapat meninggalkan bekas yang panjang.

Alloh mengingatkan:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Wa qul li‘ibādī yaqūlullatī hiya ahsan.

Sanksi Hukum Islam: Adil Dan yang Terbaik

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53)

Rosululloh SAW juga mengajarkan agar seorang Muslim berkata yang baik atau memilih diam.

Maka sebelum berbicara, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah benar yang akan saya sampaikan?
Apakah perlu disampaikan?
Dan, Apakah waktunya tepat?
Apakah tempatnya tepat?
Apakah cara menyampaikannya baik?
Serta, Apakah ucapan ini akan membawa manfaat atau justru melukai?

Sebab berbicara ibarat memegang pedang.

Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiwa, dan Mendekat kepada Allah

Pedang yang berada di tangan orang bijak dapat digunakan untuk menjaga. Tetapi pedang di tangan orang yang tidak mampu mengendalikan diri dapat melukai siapa saja.

Demikian pula kata-kata.

Satu kalimat dapat menguatkan seseorang yang sedang lemah.
Satu kalimat dapat mendamaikan dua orang yang berselisih.
Tetapi satu kalimat pula dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Karena itu, jangan hanya belajar bagaimana berbicara, tetapi belajarlah kapan berbicara, kepada siapa berbicara, di mana berbicara, dan bagaimana cara berbicara.

Adab bukan berarti kita kehilangan kebebasan berbicara. Adab mengajarkan kita menggunakan kebebasan itu dengan tanggung jawab.

Tumpeng: Tumpeng bukan sekadar Nasi Berbentuk Kerucut

Orang berilmu bukan hanya banyak bicara.

Orang berilmu tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Karena setiap ucapan akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Apa yang keluar dari lisan mungkin berlalu dari telinga manusia, tetapi tidak luput dari pengetahuan Alloh.

Maka jagalah lisan sebelum lisan menjadi sebab orang lain terluka.

Berbicara dengan ilmu.
>Berbicara dengan adab.
>Berbicara sesuai tempat.
>Berbicara sesuai keadaan.
>Berbicara untuk kebaikan.

Sebab kata-kata adalah jejak.
Sekali terucap, ia tidak selalu dapat ditarik kembali.

 

 

 

 


MENJUAL AYAT

Ada orang yang membaca ayat karena Alloh, ada pula yang membaca ayat karena kebutuhan dunia.

Ayat Alloh bukan barang dagangan.
Ia adalah petunjuk bagi manusia,
cahaya bagi hati,
peringatan bagi jiwa,
dan jalan untuk kembali kepada-Nya.

Alloh berfirman:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا

Wa lā tasytarū bi-āyātī tsamanan qalīlā

“Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.”
(QS. Al-Baqarah: 41)

Yang perlu direnungkan bukan sekadar uangnya,
tetapi niat di balik penggunaan ayat.

Jika seseorang mengajarkan Al-Qur’an, berdakwah, menulis buku, mengajar, atau memberikan pelayanan keagamaan kemudian memperoleh nafkah yang halal, hal itu berbeda dengan menjadikan ayat sebagai alat untuk menipu, memeras, mencari popularitas, atau membenarkan kepentingan pribadi.

Alloh juga mengingatkan:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Alloh berupa Kitab dan menukarkannya dengan harga yang sedikit…”
(QS. Al-Baqarah: 174)

Maka persoalannya bukan hanya berapa rupiah yang diterima,
tetapi apakah ayat menjadi jalan pengabdian,
atau justru alat untuk memperdagangkan agama.

Kebutuhan ekonomi adalah kenyataan hidup.

Guru perlu makan.
Penulis perlu hidup.
Dai membutuhkan biaya perjalanan.
Lembaga pendidikan membutuhkan biaya.

Namun jangan sampai kebutuhan perut membuat hati menjual kebenaran.

Jangan menjual ayat demi uang;
jadikan ilmu sebagai amanah,
pekerjaan sebagai ikhtiar,
dan rezeki sebagai karunia Alloh.

Ayat boleh disampaikan dengan profesi,
tetapi jangan diperdagangkan kebenarannya.

Sebab ketika manusia menentukan kebenaran berdasarkan bayaran,
yang mahal bukan lagi ilmunya melainkan harga dirinya di hadapan Alloh.

Ya Alloh, berikanlah kami rezeki yang halal, ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, dan kemampuan menjaga ayat-Mu agar tidak menjadi alat untuk menipu manusia. Aamiin. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.