SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Memutuskan Mata Rantai ‘Wahn’: Meretas Jalan Menuju Ukhuwah yang Hilang

Memutuskan Mata Rantai ‘Wahn’: Meretas Jalan Menuju Ukhuwah yang Hilang

Memutus Mata Rantai 'Wahn': Meretas Jalan Menuju Ukhuwah yang Hilang
Memutus Mata Rantai 'Wahn': Meretas Jalan Menuju Ukhuwah yang Hilang

 

SURAU.CO – Perselisihan di tubuh umat Islam bukanlah fenomena baru. Sesaat setelah Rasulullah SAW wafat, dinamika politik-sosial mulai memicu gesekan yang terus berevolusi hingga hari ini. Tragisnya, perpecahan yang berlarut-larut kerap bukan dipicu oleh doktrin teologis yang mendasar, melainkan perebutan “potongan dunia”, mulai dari kursi kekuasaan, akumulasi harta, status sosial, hingga kehormatan kelompok.

Fenomena saling sikut, saling menjatuhkan, hingga pertumpahan darah antar-saudara memicu sebuah pertanyaan eksistensial: Kapan umat ini dapat kembali rukun dan bersatu dalam satu jiwa-raga menghadapi tantangan zaman?.

Diagnosis Sosiologis: Penyakit Wahn dan Ego Kelompok

Secara sosiologis dan teologis, disintegrasi umat dapat dijelaskan melalui konsep psikologi massa yang diajarkan Rasulullah SAW: al-wahn, yakni kombinasi antara cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya) dan takut mati (karahiyatul maut).

Ketika orientasi hidup bergeser dari transendensi ilahi menuju pragmatisme materialistis, diferensiasi politik dan organisasi yang sejatinya merupakan sunnatullah justru berubah menjadi arena disintegrasi. Fanatisme kelompok (ashabiyah) mengikis empati universal yang diajarkan Al-Qur’an (QS. Ali ‘Imran: 103). Akibatnya, energi kolektif umat habis untuk konflik internal (artillery battle antar-saudara), ketimbang digunakan untuk menjawab tantangan kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, dan peradaban global.

Keselarasan Piagam Madinah Dan Pancasila: Menemukan Titik Temu antara Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Eskatologi dan Esensi Kepemimpinan

Banyak literatur sejarah dan eskatologi Islam menyinggung hadirnya kepemimpinan ideal di masa depan—sebuah fase persatuan di bawah keadilan menyeluruh. Namun, secara epistemologis, menanti figur pemersatu tanpa melakukan pembenahan kultural adalah sebuah kekeliruan fatal.

Persatuan sejati tidak pernah lahir dari ruang hampa atau paksaan struktural-politik semata. Persatuan adalah sublimasi dari kesadaran etik tiap individu. Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah Subhanahu WaTa’ala tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka (QS. Ar-Ra’d: 11). Kesadaran struktural harus diawali dari kesadaran kultural.

Rekonstruksi Ukhuwah di Era Modern

Untuk merajut kembali rajutan ukhuwah yang terkoyak, setidaknya ada tiga langkah strategis yang harus ditempuh:

1) Rekonsiliasi Epistemis dan Sikap Tasamuh: Umat harus mampu membedakan antara hal prinsipal (ushul) dan masalah cabang (furu’iyyah). Perbedaan pendapat dalam masalah cabang harus dimaknai sebagai kekayaan intelektual, bukan alasan untuk mengafirkan atau menyingkirkan sesama.

2) De-escalation Ego Politik: Para elit dan tokoh masyarakat perlu mengedepankan kearifan etik. Mengorbankan kepentingan publik demi syahwat politik jangka pendek adalah akar utama perpecahan.

Bina Remaja Usia Sekolah: Menyiapkan Generasi Beriman, Berilmu, dan Berakhlak

3) Fokus pada Tantangan Bersama: Musuh nyata umat hari ini bukanlah saudara seiman yang beda pilihan politik, melainkan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, kemerosotan moral, dan ketidakadilan global.

Penutup

Pertanyaan tentang kapan umat akan bersatu tidak dijawab oleh takdir yang pasif, melainkan oleh ikhtiar kolektif hari ini.

Ketika tiap-tiap diri mampu menundukkan ego, mengikis penyakit wahn, dan memandang saudara seiman sebagai bagian dari tubuh sendiri, saat itulah persatuan yang dirindukan bukan lagi sekadar utopia sejarah, melainkan kenyataan yang kita hidupi bersama.

Malangkucecwara, Djajakarta 19092026. (Dr Takana Murashawa – Akademisi, Analis Kebijakan & Investasi Strategis,  [email protected])

Mendidik Anak Berkualitas

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.