SURAU.CO – Remaja Adalah Amanah: Masa remaja merupakan salah satu fase paling penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Pada usia sekolah, seorang anak mulai mengalami perubahan fisik, emosi, cara berpikir, dan hubungan sosial. Ia mulai mencari identitas, menentukan teman, mengenal cita-cita, serta belajar mengambil keputusan sendiri.
Karena itu, remaja tidak cukup hanya diberi pelajaran akademik. Mereka membutuhkan pembinaan keimanan, akhlak, kecerdasan sosial, pengendalian diri, dan keterampilan menghadapi kehidupan.
Islam memandang keluarga sebagai salah satu lingkungan utama dalam pembentukan manusia. Allah Swt. berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا»
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat ini menjadi salah satu landasan penting pendidikan keluarga. Menurut Ibnu Katsir, makna qu anfusakum wa ahlikum naran mencakup kewajiban mendidik keluarga dengan ketaatan kepada Allah dan menjauhkan mereka dari kemaksiatan. Ia mengutip sejumlah penjelasan sahabat dan tabi’in tentang pentingnya mengajarkan kebaikan serta mendidik keluarga.1
Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka melalui pendidikan, pembinaan, dan perbaikan perilaku. Menurutnya, seseorang harus memperbaiki dirinya dengan ketaatan sekaligus memperbaiki keluarganya sebagaimana seorang pemimpin memperhatikan orang yang berada dalam tanggung jawabnya.2
Dengan demikian, membina remaja bukan pekerjaan tambahan. Ia merupakan amanah agama.
Pendidikan Tidak Berhenti di Sekolah
Sekolah mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan anak. Namun pendidikan remaja tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Rumah adalah sekolah pertama. Anak belajar berbicara dari keluarga, belajar menghormati orang lain dari keluarga, dan sering kali belajar menyelesaikan masalah dengan meniru cara orang tuanya menghadapi persoalan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”[^3]
Hadis yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim tersebut menyebutkan secara khusus bahwa seorang laki-laki merupakan penjaga keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.3
Pesannya jelas: orang tua tidak cukup menyediakan makanan, pakaian, biaya sekolah, dan fasilitas teknologi. Mereka juga harus menyediakan perhatian, keteladanan, pendidikan agama, dan komunikasi.
Ibnu Katsir: Ajarkan dan Didiklah
Dalam menafsirkan QS. At-Tahrim ayat 6, Ibnu Katsir mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa menjaga keluarga dari api neraka dilakukan dengan mendidik dan mengajarkan mereka. Ia juga mengutip Ibnu Abbas yang menjelaskan bahwa orang beriman harus melaksanakan ketaatan, menjauhi maksiat, dan memerintahkan keluarganya untuk mengingat Allah.4
Pandangan tersebut sangat relevan dengan pembinaan remaja.
Remaja tidak boleh hanya dimarahi ketika melakukan kesalahan. Sebelum kesalahan terjadi, mereka perlu diberikan pengetahuan. Serta Sebelum menghadapi godaan, mereka perlu diberikan prinsip. Sebelum memasuki lingkungan pergaulan yang luas, mereka harus dibekali kemampuan memilih.
Inilah pendidikan preventif.
Al-Qurthubi: Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Keluarga
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari neraka berarti melakukan perbaikan terhadap keluarga melalui pendidikan dan pengarahan. Ia mengaitkan ayat tersebut dengan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang yang berada di bawah tanggungannya.5
Artinya, orang tua tidak boleh menyerahkan seluruh pembinaan kepada sekolah, guru, ustaz, atau masyarakat.
Ketika anak mengalami masalah, jangan hanya bertanya, “Mengapa sekolah tidak mendidiknya?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa yang sudah kita lakukan di rumah?”
Keluarga dan sekolah harus bekerja sama. Pendidikan yang berhasil lahir dari sinergi, bukan saling menyalahkan.
Keteladanan Orang Tua
Remaja sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan. Orang tua yang meminta anak jujur tetapi sering berbohong di hadapan anak akan kehilangan kekuatan moral dalam mendidik.
Orang tua yang menginginkan anak rajin salat perlu memberikan contoh. Dan Orang tua yang ingin anak mencintai Al-Qur’an perlu memperlihatkan kecintaan kepada Al-Qur’an.
Allah Swt. berfirman:
«كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ»
“Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]: 3).
Pendidikan yang paling kuat adalah keteladanan. Nasihat memberikan arah, tetapi contoh memberikan bukti.
Membina Ibadah Sejak Dini
Pembinaan remaja harus memiliki fondasi ibadah. Salat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga latihan kedisiplinan, pengendalian diri, dan hubungan manusia dengan Allah.
Allah Swt. berfirman:
«إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ»
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).
Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian terhadap pembiasaan salat sejak anak masih kecil. Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan perintah agar anak dibiasakan salat sejak usia tujuh tahun.6
Hadis ini menunjukkan pentingnya pembiasaan. Pendidikan agama tidak dilakukan secara mendadak ketika anak telah dewasa. Ia ditanamkan secara bertahap.
Dalam konteks masa kini, pembinaan ibadah perlu dilakukan dengan pendekatan yang mendidik, penuh kasih sayang, konsisten, dan sesuai perkembangan usia anak.
Remaja dan Pergaulan
Salah satu faktor yang sangat memengaruhi kehidupan remaja adalah teman sebaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah setiap kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.”[^7]
Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan al-Tirmidzi.7
Pesannya bukan agar remaja dijauhkan dari masyarakat, melainkan agar mereka memiliki kemampuan memilih lingkungan yang sehat.
Orang tua perlu mengetahui siapa teman anaknya, tetapi pengawasan harus dilakukan secara proporsional. Jangan sampai kontrol berubah menjadi ketidakpercayaan yang membuat anak menutup diri.
Remaja membutuhkan ruang untuk belajar mengambil keputusan, tetapi juga membutuhkan batas yang jelas.
Tantangan Dunia Digital
Generasi remaja hari ini hidup dalam lingkungan digital. Informasi dapat diterima dalam hitungan detik. Pergaulan tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah dan kampung.
Teknologi membawa manfaat besar. Remaja dapat belajar agama, bahasa, ilmu pengetahuan, keterampilan, bahkan membangun karya melalui teknologi.
Namun teknologi juga menghadirkan tantangan. Karena itu, orang tua dan guru harus membangun literasi digital.
Remaja perlu diajarkan bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang menarik itu baik, dan tidak semua yang banyak ditonton layak ditiru.
Mereka perlu memahami etika bermedia sosial: menjaga kehormatan diri, tidak menyebarkan fitnah, tidak melakukan perundungan, tidak menyebarkan privasi orang lain, dan tidak menjadikan media sosial sebagai ukuran harga diri.
Jangan Hanya Mengawasi, Tetapi Dengarkan
Kesalahan dalam membina remaja sering terjadi karena orang dewasa terlalu banyak berbicara dan terlalu sedikit mendengarkan.
Ketika anak pulang sekolah dengan wajah murung, jangan langsung bertanya tentang nilai. Tanyakan bagaimana perasaannya.
Ketika anak mulai berubah, jangan langsung menuduh. Ajak bicara.
Ketika anak melakukan kesalahan, jangan buru-buru mempermalukan. Cari tahu penyebabnya.
Remaja membutuhkan tempat aman untuk bercerita.
Orang tua yang mampu menjadi tempat anak pulang secara emosional akan lebih mudah membimbing anak ketika menghadapi persoalan.
Ketegasan tetap diperlukan. Tetapi ketegasan harus disertai kasih sayang, penjelasan, dan tujuan pendidikan.
Membina Akhlak
Pendidikan remaja tidak boleh hanya menghasilkan anak yang pintar. Kita membutuhkan generasi yang pintar sekaligus berakhlak.
Allah Swt. berfirman:
«وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ»
“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).
Ayat ini menggambarkan kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ.
Karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi bagian utama pembinaan remaja: jujur, amanah, santun, menghormati orang tua, menghargai guru, menjaga lisan, membantu teman, bertanggung jawab, dan berani mengakui kesalahan.
Akhlak tidak cukup diajarkan sebagai teori. Ia harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Memberikan Ruang untuk Berkarya
Remaja memiliki energi yang besar. Energi itu jangan dibiarkan kosong.
Jika tidak diberikan ruang untuk kegiatan positif, mereka akan mencari aktivitas sendiri.
Karena itu, masjid, sekolah, organisasi kepemudaan, dan masyarakat perlu menyediakan kegiatan yang sesuai dengan minat remaja.
Kegiatan tersebut dapat berupa olahraga, literasi, seni, teknologi, kewirausahaan, kegiatan sosial, tahfiz Al-Qur’an, kajian remaja, jurnalistik, atau pelatihan keterampilan.
Masjid tidak seharusnya hanya menjadi tempat orang dewasa. Masjid perlu menjadi ruang yang ramah bagi generasi muda.
Membantu Remaja Menemukan Cita-Cita
Remaja juga membutuhkan cita-cita.
Anak yang memiliki tujuan hidup akan lebih mudah memahami pentingnya belajar dan menjaga diri. Karena itu, orang tua perlu membantu mereka mengenali potensi.
Jangan memaksakan cita-cita orang tua kepada anak.
Anak perlu diarahkan agar mengenali bakat, minat, kemampuan, dan tanggung jawab sosialnya.
Cita-cita bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan bergengsi. Yang lebih penting adalah menjadi manusia yang bermanfaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Semangat memberi manfaat harus ditanamkan sejak usia sekolah.
Bina dengan Ilmu, Iman, dan Kasih Sayang
Pembinaan remaja harus dilakukan secara seimbang.
Pertama, iman, agar mereka memiliki hubungan yang kuat dengan Allah.
Kedua, ilmu, agar mereka mampu memahami kehidupan dan menghadapi perubahan zaman.
Ketiga, akhlak, agar ilmu yang dimiliki digunakan secara benar.
Keempat, keterampilan, agar mereka mampu mandiri dan produktif.
Kelima, kepedulian sosial, agar mereka tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Inilah pendidikan manusia seutuhnya.
Penutup
Bina remaja usia sekolah bukan sekadar program pendidikan. Ia adalah investasi peradaban.
Jika remaja hari ini dibina dengan iman, ilmu, akhlak, keteladanan, dan kasih sayang, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu menghadapi zaman tanpa kehilangan jati diri.
Sebaliknya, jika mereka dibiarkan tumbuh tanpa arah, masyarakat akan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar pada masa depan.
Allah telah mengingatkan:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا»
Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Ibnu Katsir menekankan aspek mengajar dan mendidik, sedangkan Al-Qurthubi menegaskan tanggung jawab memperbaiki diri dan keluarga melalui pendidikan serta pengarahan.8
Maka, tugas kita bukan hanya bertanya apakah anak sudah pintar, tetapi juga apakah ia sudah mengenal Tuhannya. Bukan hanya apakah ia mendapat nilai tinggi, tetapi apakah ia memiliki akhlak. Bukan hanya apakah ia memiliki banyak teman, tetapi apakah ia mampu memilih teman yang baik.
Remaja adalah masa depan yang sedang berjalan menuju kedewasaan.
Mari membina mereka sebelum mereka mencari arah sendiri. Mari mendidik dengan ilmu, membimbing dengan iman, menguatkan dengan kasih sayang, dan memberi teladan melalui perbuatan.
Catatan Kaki — Chicago Notes
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Abu Dawud, Sulayman ibn al-Ash’ath. Sunan Abi Dawud. Beirut: al-Maktabah al-‘Asriyyah.
Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Tirmidhi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami’ al-Tirmidhi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
Ibn Kathir, Isma’il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.
Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.Versi ini sudah menempatkan QS. At-Tahrim: 6 sebagai ayat utama,. (Tengku Iskandar)
- Isma’il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Tahrim [66]: 6. Dalam penjelasannya, Ibn Kathir mengutip Ali ibn Abi Thalib tentang makna mendidik dan mengajarkan keluarga serta penjelasan Ibn Abbas mengenai ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. ↩
- Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Tahrim [66]: 6. Al-Qurtubi menjelaskan kewajiban menjaga diri dan keluarga serta memperbaiki keluarga melalui pendidikan dan pengarahan. ↩
- Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 1829a, Kitab al-Imarah, hadis tentang tanggung jawab setiap orang sebagai pemimpin dan penjaga amanah. ↩
- Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Tahrim [66]: 6. Ibn Kathir menyebut penjelasan Ali ibn Abi Thalib: “Adabilah mereka dan ajarilah mereka,” serta penjelasan Ibn Abbas mengenai ketaatan dan pengajaran kepada keluarga. ↩
- Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Tahrim [66]: 6. Ia menghubungkan pendidikan keluarga dengan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang yang berada di bawah tanggungannya. ↩
- Abu Dawud Sulayman ibn al-Ash’ath, Sunan Abi Dawud, no. 495, Kitab al-Salah, bab tentang perintah salat kepada anak. Hadis tersebut memerintahkan pembiasaan salat sejak usia tujuh tahun. ↩
- Muhammad ibn ‘Isa al-Tirmidhi, Jami’ al-Tirmidhi, no. 2378; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4833. Hadis tersebut menjelaskan pengaruh teman dekat terhadap kehidupan seseorang. ↩
- Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Tahrim [66]: 6; al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Tahrim [66]: 6. Keduanya memberikan penekanan pada tanggung jawab pendidikan keluarga. ↩
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

