SURAU.CO – Ar-Raḥīm (الرَّحِيمُ) adalah salah satu Asmā’ul Ḥusnā, nama Alloh yang menunjukkan sifat kasih sayang-Nya.
- Asal usul kata
Ar-Raḥīm berasal dari akar kata Arab:
ر ح م — ra-ḥa-ma
Dari akar ini lahir kata:
رَحْمَةٌ (raḥmah) → kasih sayang, rahmat
رَحِيمٌ (raḥīm) → Yang Maha Penyayang
رَحِمٌ (raḥim) → rahim/kandungan ibu
Ada hubungan makna yang kuat: raḥim menjadi tempat seorang anak memperoleh perlindungan dan kasih sayang sebelum lahir.
Secara bahasa, Ar-Raḥīm berarti Yang Maha Penyayang.
- Ar-Rahim dalam Al-Qur’an
Alloh berfirman:
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Wa kāna bil-mu’minīna raḥīmā.
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.”
QS. Al-Aḥzāb: 43
Kata Raḥīm di sini menunjukkan kasih sayang Alloh yang sangat khusus kepada orang-orang beriman.
Alloh juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
QS. Al-Baqarah: 143
- Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm
Keduanya sering kita baca dalam:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Keduanya berasal dari akar ر ح م, tetapi memiliki nuansa yang berbeda.
Ar-Raḥmān menggambarkan keluasan dan meliputnya rahmat Alloh.
Ar-Raḥīm menegaskan sifat kasih sayang Alloh yang terus-menerus dan khusus, terutama kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Para ulama tafsir menjelaskan perbedaan ini dengan berbagai ungkapan, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan kesempurnaan rahmat Alloh.
- Ar-Raḥīm bukan sekadar “rasa kasihan”
Rahmat Alloh bukan hanya perasaan kasih
Rahmat Alloh dapat berupa:
memberi → menjaga → mengampuni → membimbing → memberi kesempatan taubat → memberi hidayah → memberi pahala.
Karena itu, ketika manusia memahami Ar-Raḥīm, ia tidak hanya merasa dicintai Alloh, tetapi juga terdorong untuk menjadi pribadi yang penuh rahmat kepada makhluk.
Nabi SAW bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Raḥmān.”
(HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)
- Ar-Raḥīm dalam kehidupan manusia
Jika Alloh adalah Ar-Raḥīm, maka manusia sebagai hamba hendaknya belajar menghadirkan raḥmah dalam perilakunya.
Bukan:
ilmu → merasa paling benar
tetapi:
ilmu → memahami → menyayangi → membimbing → memperbaiki.
Bukan:
kekuatan → menekan
tetapi:
kekuatan → melindungi.
Bukan:
kesalahan orang → menghina
tetapi:
kesalahan → menasihati dengan rahmat.
- Renungan
Ar-Raḥīm mengajarkan bahwa ilmu tanpa rahmat dapat menjadi keras, kekuasaan tanpa rahmat dapat menjadi zalim, dan nasihat tanpa rahmat dapat berubah menjadi penghukuman.
Maka perjalanan seorang hamba bukan hanya:
“Aku tahu.”
Tetapi meningkat menjadi:
“Aku memahami.”
Kemudian:
“Aku menyayangi.”
Dan akhirnya:
“Aku berbuat dengan rahmat.”
Sebab mengenal Ar-Raḥīm seharusnya tidak berhenti di lisan ketika mengucapkan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm, tetapi turun menjadi akhlak dalam kehidupan.
Kesimpulan
Ar-Raḥīm (الرَّحِيمُ) adalah Allah Yang Maha Penyayang.
Mengenal Ar-Raḥīm berarti belajar menyadari bahwa rahmat Alloh mendahului banyak keadaan yang kita alami. Maka seorang mukmin hendaknya menjadi jalan hadirnya kasih sayang, bukan menjadi sumber kesakitan bagi sesama.
Bismillah dimulai dengan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm; kehidupan seorang mukmin hendaknya juga dimulai, dijalani, dan diakhiri dengan rahmat.
Kita Ada Di Mana? 10 Tingkatan Diri dalam Perjalanan kepada Alloh
Manusia mempunyai raga yang terlihat dan qolbu yang harus terus dibina. Karena itu, perjalanan kepada Alloh bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, tetapi perubahan dari tahu → sadar → tunduk → beramal → bersih → berakhlak → dekat kepada Alloh.
- MUSLIM — الْمُسْلِم
Tunduk dan berserah diri
Muslim adalah orang yang masuk dalam Islam dan menjalankan ketundukan kepada Alloh.
Dasarnya adalah lima rukun Islam dalam Hadis Jibril.
Muhasabah: Apakah Islam saya hanya identitas, atau sudah menjadi jalan hidup?
Latihan: Menjaga syahadat, salat, puasa, zakat, dan kewajiban lainnya.
- MUKMIN — الْمُؤْمِن
Iman masuk ke dalam qolbu
Alloh berfirman:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا
“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’
Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah tunduk.’”
QS. Al-Hujurat: 14
Iman bukan sekadar ucapan. Ia berkaitan dengan keyakinan hati dan dibuktikan melalui amal.
Penyakit yang perlu diwaspadai: keraguan, lalai, dan lemahnya keyakinan.
Latihan: memperbanyak tadabbur Al-Qur’an, dzikir, doa, dan amal saleh.
- MUTTAQI — الْمُتَّقِي
Hidup dengan penjagaan Alloh
Takwa membuat seseorang berhati-hati terhadap apa yang diridhoi dan dimurkai Alloh.
Alloh berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
QS. Al-Hujurat: 13
Muhasabah: Apakah saya tetap menjaga diri ketika tidak ada manusia yang melihat?
Latihan: meninggalkan dosa yang tersembunyi maupun yang terlihat.
- MUHSIN — الْمُحْسِن
Beribadah dengan kesadaran bahwa Allah melihat
Nabi SAW menjelaskan ihsan dalam Hadis Jibril:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
HR. Muslim
Muhasabah: Apakah sholat saya hanya gerakan tubuh, atau qolbu saya ikut menghadap Alloh?
Latihan: khusyuk, muraqabah, dzikir, dan memperbaiki adab dalam ibadah.
- MUKHLIS — الْمُخْلِص
Membersihkan niat
Alloh berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
QS. Al-Bayyinah: 5
Di tingkat ini pertanyaan berubah:
Bukan hanya: “Apa yang saya lakukan?”
tetapi:
“Untuk siapa saya melakukannya?”
Penyakit qolbu: riya’, ujub, sum’ah, dan mencari pujian.
Latihan: menyembunyikan sebagian amal kebaikan dan sering memeriksa niat.
- SHABIR — الصَّابِر
Sabar dalam perjalanan
Sabar bukan pasif.
Dan Sabar adalah kemampuan tetap berada dalam ketaatan ketika menghadapi kesulitan.
Alloh berfirman:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah: 153
Latihan: sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ujian.
- SYAKIR — الشَّاكِر
Menyadari nikmat dan menggunakannya dengan benar
Alloh berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
QS. Ibrahim: 7
Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah. Syukur mencakup hati, lisan, dan penggunaan nikmat dalam kebaikan.
- MUJAHID — الْمُجَاهِد
Bersungguh-sungguh melawan kelemahan diri
Alloh berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
QS. Al-‘Ankabut: 69
Dalam konteks pembinaan jiwa, mujahadah mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, kemalasan, kesombongan, dan kecenderungan kepada dosa.
Latihan: disiplin ibadah, menjaga lisan, mengendalikan amarah, dan membiasakan amal baik.
- MUQARRAB — الْمُقَرَّب
Didekatkan kepada Allah
Alloh berfirman:
أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang didekatkan.”
QS. Al-Waqi’ah: 11
Kedekatan kepada Alloh bukan berarti tempat fisik. Yang dimaksud adalah kedekatan dalam ketaatan, rahmat, pertolongan, dan kemuliaan di sisi Alloh.
Manusia tidak seharusnya mengklaim dirinya telah mencapai maqom ini. Yang dilakukan adalah terus berusaha mendekat kepada Alloh.
- ABD — عَبْد
Kembali kepada identitas paling mendasar: hamba Alloh
Puncak perjalanan bukan menjadi “orang hebat” di hadapan manusia.
Justru:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
QS. Yunus: 62
Seorang hamba semakin mengenal kebesaran Alloh, semakin menyadari bahwa dirinya adalah hamba.
PETA PERJALANAN
MUSLIM
↓
MUKMIN
↓
MUTTAQI
↓
MUHSIN
↓
MUKHLIS
↓
SHABIR
↓
SYAKIR
↓
MUJAHID
↓
MUQARRAB
↓
ABDULLAH
Namun perjalanan ini tidak selalu lurus.
Seseorang dapat kuat dalam satu sisi dan lemah dalam sisi lainnya. Karena itu,
jangan bertanya:
“Saya sudah tingkat berapa?”
Tetapi tanyakan:
“Bagian mana dari diri saya yang sedang harus saya perbaiki?”
RUMUSAN
ILMU → mengetahui
SADAR → menyadari
TAUBAT → kembali
AMAL → menjalankan
TAQWA → menjaga
IKHLAS → memurnikan
IHSAN → memperindah
AKHLAK → membuktikan
ISTIQAMAH → mempertahankan
QURB → mendekat kepada Alloh
Penutup
Ketinggian manusia bukan ditentukan oleh sebutan yang ia berikan kepada dirinya.
Bukan:
“Aku sudah mukmin.”
Bukan:
“Aku sudah muhsin.”
Bukan pula:
“Aku sudah dekat kepada Alloh.”
Tetapi:
“Ya Alloh, perbaiki Islamku, kuatkan imanku, bersihkan qolbuku, perindah akhlakku, dan dekatkan aku kepada-Mu.”
Karena semakin tinggi perjalanan seorang hamba, semakin kuat pula kesadarannya bahwa ia tetap seorang hamba.
Kerangka ini juga bisa dikembangkan menjadi tabel “tingkatan → ciri qolbu → penyakit qolbu → amal latihan → ayat → hadis → pandangan Al-Ghazali, Ibn Katsir, Imam Nawawi, dan ulama tasawuf”. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

