SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Bahasa sebagai Cermin Peradaban, Karakter, dan Martabat Bangsa Indonesia

Bahasa sebagai Cermin Peradaban, Karakter, dan Martabat Bangsa Indonesia

Bahasa sebagai Cermin Peradaban, Karakter, dan Martabat Bangsa
Bahasa sebagai Cermin Peradaban, Karakter, dan Martabat Bangsa

 

SURAU.CO – Ada sebuah ungkapan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam: “Tinggi bangsa karena bahasa.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi, jalan yang panjang, teknologi yang canggih, atau pertumbuhan ekonomi yang besar. Ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana bangsa tersebut menggunakan bahasanya untuk berpikir, berkomunikasi, mendidik, menghormati, dan membangun peradaban.

Bahasa adalah rumah bagi pikiran. Melalui bahasa, ilmu pengetahuan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Melalui bahasa pula nilai agama, adat, sejarah, kebudayaan, dan pengalaman sebuah masyarakat dapat terus hidup.

Karena itu, ketika bahasa kehilangan kesantunan, bangsa pun berisiko kehilangan sebagian dari karakternya. Sebaliknya, ketika masyarakat membangun tradisi bahasa yang baik, santun, kritis, dan berilmu, sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi peradaban.

Al-Qur’an sendiri memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bahasa. Allah Swt. berfirman:

Orang Meninggal: Dari Aning sampai Sangkan Paraning Dumadi

«وَمِنْ ءَايَاتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّلْعَٰلِمِينَ»

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. al-Rum [30]: 22).1

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keberagaman bahasa merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Bahasa bukan sekadar produk sosial manusia, melainkan bagian dari kenyataan kehidupan yang patut direnungkan.

Bahasa adalah Identitas Bangsa

Setiap bangsa memiliki sejarah yang panjang, dan sebagian sejarah tersebut tersimpan dalam bahasa. Bahasa Indonesia, misalnya, bukan hanya alat komunikasi antarsuku, tetapi juga salah satu unsur penting yang mempertemukan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa daerah yang sangat beragam.

Bahasa Indonesia telah memainkan peran penting dalam membangun kesadaran kebangsaan. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak sejarah ketika para pemuda menyatakan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Doa Ibu Menembus Langit: Ketulusan, Keberkahan, dan Kekuatan Doa Seorang Ibu dalam Perspektif Islam

Pilihan tersebut bukan perkara kecil. Di tengah keberagaman suku dan bahasa daerah, bahasa Indonesia menjadi jembatan persatuan.

Pada saat yang sama, mencintai bahasa Indonesia tidak berarti merendahkan bahasa daerah. Justru bahasa daerah merupakan kekayaan kebudayaan bangsa. Bahasa Minangkabau, Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Aceh, Banjar, Sasak, dan berbagai bahasa daerah lainnya menyimpan nilai sejarah dan kebijaksanaan masyarakat pendukungnya.

Al-Qur’an menyebut keberagaman bahasa sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ikhtilāfu alsinatikum menunjukkan keberagaman bahasa manusia: ada berbagai kelompok manusia yang memiliki bahasa yang berbeda-beda.2 Al-Qurtubi juga menerangkan bahwa perbedaan bahasa merupakan bagian dari tanda penciptaan Allah.3

Dengan demikian, keberagaman bahasa seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan. Ia justru harus menjadi sarana untuk saling mengenal.

Bahasa Menunjukkan Kualitas Pikiran

Kualitas seseorang sering kali dapat terlihat dari cara ia berbicara. Orang berilmu tidak selalu berbicara dengan istilah yang sulit. Sebaliknya, orang yang memiliki kedalaman ilmu justru mampu menjelaskan persoalan rumit dengan bahasa yang mudah dipahami.

Renungan Budaya: Ramai ing Gawe, Sepi ing Pamrih

Bahasa yang baik menunjukkan adanya keteraturan berpikir. Sebelum seseorang mengucapkan sesuatu, ia perlu menimbang apakah perkataannya benar, bermanfaat, dan pantas disampaikan.

Allah Swt. berfirman:

«يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا ۝٧٠»

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. al-Ahzab [33]: 70).4

Ibnu Katsir menjelaskan qawlan sadīdan sebagai perkataan yang lurus, benar, dan tidak menyimpang.5 Ini memberikan pelajaran penting bahwa kualitas komunikasi dalam Islam tidak hanya ditentukan oleh kefasihan, tetapi terutama oleh kebenaran dan kelurusan isi.

Bahasa yang hebat tetapi digunakan untuk kebohongan bukanlah tanda kemajuan. Bahasa yang indah tetapi dipakai untuk menghina manusia bukanlah kemuliaan. Dan Bahasa yang cerdas tetapi digunakan untuk menyebarkan fitnah justru dapat menjadi senjata penghancur.

Karena itu, ukuran bahasa yang baik bukan sekadar indah didengar, tetapi juga benar secara moral.

Bahasa Membangun atau Menghancurkan

Satu kalimat dapat mengubah suasana sebuah keluarga. Satu ucapan dapat menyelamatkan persahabatan. Tetapi satu kalimat pula dapat menghancurkan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Dalam kehidupan sosial, banyak konflik bermula dari bahasa. Salah memahami pesan, menggunakan kata-kata kasar, menyebarkan tuduhan, mempermalukan seseorang di hadapan publik, atau menulis komentar tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain dapat menimbulkan persoalan besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”6

Hadis ini memberikan prinsip komunikasi yang sangat fundamental. Tidak semua yang kita ketahui harus disampaikan. Dan Tidak semua yang kita pikirkan harus ditulis. Tidak semua kesalahan orang lain harus diumumkan.

Ada kalanya diam lebih mulia daripada berbicara. Ada saatnya menunda komentar lebih bijaksana daripada terburu-buru memberikan penilaian.

Dalam konteks media sosial, pesan Nabi ini menjadi semakin relevan. Jari dapat menulis lebih cepat daripada pikiran mempertimbangkan akibatnya. Sebuah komentar yang ditulis dalam beberapa detik dapat dibaca ribuan orang dan bertahan dalam ruang digital dalam waktu yang sangat panjang.

Maka, kemajuan teknologi komunikasi harus diimbangi dengan kematangan bahasa.

Bahasa yang Baik adalah Sedekah

Islam tidak memandang perkataan baik sebagai sesuatu yang remeh. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut perkataan yang baik sebagai sedekah.

«وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ»

“Perkataan yang baik adalah sedekah.”7

Hadis riwayat Muslim tersebut memperlihatkan betapa besar nilai sebuah kata yang baik. Seseorang mungkin tidak memiliki harta untuk diberikan kepada orang lain, tetapi ia selalu memiliki kesempatan untuk memberikan kata-kata yang menenangkan.

Seorang guru dapat menguatkan muridnya dengan kalimat sederhana: “Kamu bisa.”

Seorang ayah dapat menumbuhkan kepercayaan diri anaknya dengan mengatakan: “Ayah bangga kepadamu.”

Dan Seorang suami dapat menjaga hati istrinya dengan perkataan yang lembut.

Seorang pemimpin dapat membangkitkan semangat masyarakat dengan bahasa yang optimistis.

Begitu pula seorang dai dapat menyampaikan nasihat tanpa merendahkan orang yang dinasihati.

Inilah kekuatan bahasa. Ia tidak membutuhkan biaya besar, tetapi dampaknya dapat sangat besar.

Bahasa Dakwah Harus Menghidupkan, Bukan Melukai

Dakwah adalah salah satu wilayah yang sangat membutuhkan kecerdasan bahasa. Pesan yang benar dapat ditolak apabila disampaikan dengan cara yang salah.

Allah Swt. berfirman:

«ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ»

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. al-Nahl [16]: 125).8

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan jika terjadi perdebatan, maka dilakukan dengan cara yang terbaik, penuh kelembutan dan kebaikan dalam berbicara.9

Al-Qurtubi juga menekankan pentingnya kelembutan dalam menyampaikan dakwah dan meninggalkan kekasaran serta tindakan yang dapat menimbulkan penolakan.10

Pesan ini penting bagi para pendakwah, guru, orang tua, pejabat, tokoh masyarakat, dan siapa pun yang memiliki tanggung jawab menyampaikan pesan kepada orang lain.

Kebenaran tidak boleh kehilangan kelembutan.

Ketegasan tidak harus berubah menjadi kekasaran.

Kritik tidak harus menjadi penghinaan.

Nasihat tidak harus menjadi penghakiman.

Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan.

Bangsa yang tinggi bukan bangsa yang seluruh rakyatnya selalu sepakat, tetapi bangsa yang mampu mengelola perbedaan dengan bahasa yang beradab.

Bahasa dan Karakter Generasi Muda

Persoalan bahasa juga sangat berkaitan dengan pendidikan generasi muda. Anak-anak belajar berbicara dari lingkungan terdekatnya. Mereka mendengar bahasa orang tua, guru, teman, tokoh masyarakat, dan konten digital.

Karena itu, pendidikan bahasa sebenarnya merupakan pendidikan karakter.

Jika anak terbiasa mendengar bahasa kasar, penghinaan, ejekan, dan kemarahan, maka bahasa tersebut berpotensi menjadi bagian dari kebiasaan komunikasinya.

Sebaliknya, jika anak dibiasakan mengucapkan salam, terima kasih, maaf, tolong, permisi, dan kata-kata penghargaan, ia sedang belajar membangun peradaban komunikasi.

Orang tua perlu menjadi teladan pertama. Jangan berharap anak berbicara lembut apabila orang tua terbiasa berteriak. Jangan berharap anak menghormati orang lain apabila ia melihat orang dewasa menghina orang lain di hadapannya.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar. Pendidikan bahasa tidak boleh hanya berorientasi pada nilai ujian. Anak perlu diajarkan bagaimana menyampaikan pendapat dengan argumentasi, bagaimana berbeda pendapat dengan sopan, bagaimana mengkritik tanpa menghina, dan bagaimana menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Bahasa di Era Media Sosial

Perubahan teknologi telah mengubah cara manusia menggunakan bahasa. Dahulu, sebuah perkataan mungkin hanya didengar oleh beberapa orang. Sekarang sebuah tulisan dapat menyebar dalam hitungan detik.

Media sosial memberikan kebebasan berbicara yang luas. Namun, kebebasan tanpa tanggung jawab dapat menjadi masalah.

Fenomena komentar kasar, penghinaan, perundungan digital, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, dan perang kata-kata menunjukkan bahwa bangsa kita masih membutuhkan pendidikan literasi bahasa.

Literasi tidak cukup hanya berarti mampu membaca dan menulis. Literasi juga berarti mampu memahami konteks, memeriksa kebenaran informasi, mengenali dampak perkataan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita sebarkan.

Al-Qur’an memberikan peringatan agar manusia tidak mudah merendahkan orang lain:

«لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ»

“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik daripada mereka.” (QS. al-Hujurat [49]: 11).11

Ayat ini menjadi fondasi etika komunikasi sosial. Kita tidak boleh menjadikan bahasa sebagai alat untuk merendahkan martabat manusia.

Bahasa sebagai Penjaga Kebudayaan

Bahasa juga merupakan tempat penyimpanan kebudayaan. Di dalam pepatah, pantun, gurindam, petuah adat, cerita rakyat, dan karya sastra terdapat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh generasi terdahulu.

Ketika sebuah bahasa daerah kehilangan penuturnya, yang hilang bukan sekadar kosakata. Bisa jadi ikut hilang cara pandang, ungkapan kebijaksanaan, sejarah lokal, dan identitas budaya.

Karena itu, menjaga bahasa daerah bukan berarti menolak modernitas. Justru masyarakat yang percaya diri terhadap identitas budayanya akan lebih mampu berdialog dengan dunia.

Kita dapat menguasai bahasa asing tanpa kehilangan bahasa ibu. Kita dapat menjadi warga global tanpa kehilangan akar kebangsaan.

Prinsipnya bukan memilih antara bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Kita membutuhkan semuanya sesuai fungsi dan konteksnya.

Bahasa daerah menjaga akar.

Bahasa Indonesia menyatukan bangsa.

Dan Bahasa asing membuka jendela dunia.

Ketiganya dapat berjalan bersama.

Bangsa yang Tinggi adalah Bangsa yang Beradab

Kemajuan bangsa pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi persoalan manusia. Teknologi dapat dibeli, gedung dapat dibangun, jalan dapat diperpanjang. Namun, karakter manusia membutuhkan proses pendidikan yang panjang.

Bahasa merupakan salah satu cermin karakter tersebut.

Bangsa yang beradab terlihat dari bagaimana masyarakatnya berbicara kepada orang tua, guru, anak-anak, orang miskin, orang berbeda pendapat, bahkan kepada orang yang tidak disukainya.

Bahasa yang santun bukan berarti lemah. Bahasa yang lembut bukan berarti tidak tegas. Justru kemampuan mengendalikan kata-kata menunjukkan kematangan jiwa.

Seorang yang mampu membalas penghinaan dengan kebijaksanaan memiliki kekuatan moral yang lebih besar daripada orang yang membalasnya dengan hinaan.

Dalam konteks kebangsaan, bahasa juga menjadi instrumen persatuan. Indonesia adalah bangsa besar karena mampu menyatukan begitu banyak suku, budaya, agama, dan bahasa dalam satu rumah kebangsaan.

Maka, menjaga bahasa berarti menjaga persatuan.

Dari Bahasa Menuju Peradaban

Kita perlu membangun budaya bahasa yang sehat mulai dari keluarga.

Ajarkan anak berkata benar.

Ajarkan anak meminta maaf.

Dan Ajarkan anak mengucapkan terima kasih.

Ajarkan anak menghargai pendapat.

Ajarkan anak tidak menghina.

Serta, Ajarkan anak tidak menyebarkan berita yang belum jelas.

Ajarkan anak bahwa setiap perkataan memiliki tanggung jawab.

Kemudian budaya tersebut dibawa ke sekolah, masjid, kantor, organisasi, ruang publik, dan media sosial.

Bangsa yang terbiasa menggunakan bahasa yang baik akan lebih mudah membangun dialog. Dialog yang sehat melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan kerja sama. Kerja sama melahirkan kemajuan.

Sebaliknya, bahasa yang penuh kebencian melahirkan kecurigaan. Kecurigaan melahirkan perpecahan. Perpecahan melemahkan bangsa.

Karena itu, bahasa memiliki hubungan yang sangat erat dengan masa depan bangsa.

Penutup: Meninggikan Bahasa, Meninggikan Bangsa

Ungkapan “tinggi bangsa karena bahasa” bukan sekadar permainan kata. Ia adalah sebuah panggilan moral agar kita menyadari bahwa bahasa mempunyai kekuatan membangun manusia dan peradaban.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa perbedaan bahasa merupakan tanda kebesaran Allah. Islam mengajarkan manusia untuk berkata benar, berkata baik, berdakwah dengan hikmah, dan menghindari penghinaan.

Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan bahwa perkataan baik adalah sedekah.

Maka, setiap orang sesungguhnya memiliki kesempatan untuk ikut membangun bangsa melalui bahasa.

Seorang guru membangun bangsa dengan bahasa pendidikan.

Orang tua membangun bangsa dengan bahasa kasih sayang.

Dai membangun bangsa dengan bahasa hikmah.

Pemimpin membangun bangsa dengan bahasa keteladanan.

Penulis membangun bangsa dengan bahasa ilmu.

Jurnalis membangun bangsa dengan bahasa fakta dan tanggung jawab.

Masyarakat membangun bangsa dengan bahasa persaudaraan.

Dan generasi muda membangun masa depan dengan bahasa yang santun, kritis, kreatif, dan beradab.

Pada akhirnya, tinggi rendahnya sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana bangsa itu berbicara.

Sebab dari bahasa lahir gagasan.

Dari gagasan lahir tindakan.

Dari tindakan lahir kebiasaan.

Dan dari kebiasaan lahir karakter.

Dan dari karakterlah peradaban sebuah bangsa dibangun.

Maka, mari meninggikan bahasa, karena dengan bahasa yang baik kita sedang meninggikan martabat bangsa.

Catatan Kaki — Chicago Notes

Catatan Kaki Berikutnya

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir, 2002.

Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2006.

Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kairo: Dar Hajr, 2001.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah, 1999.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, t.t. (Tengku Iskandar)


  1. Al-Qur’an, QS. al-Rum [30]: 22. Ayat ini menjadikan perbedaan bahasa dan warna sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Lihat juga Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. al-Rum [30]: 22. ↩
  2. Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Rum [30]: 22. Ibn Kathir menjelaskan ikhtilaf alsinatikum sebagai keberagaman bahasa manusia. ↩
  3. Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Rum [30]: 22. Al-Qurtubi menjelaskan keberagaman bahasa sebagai bagian dari tanda penciptaan dan kekuasaan Allah. ↩
  4. Al-Qur’an, QS. al-Ahzab [33]: 70. ↩
  5. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Ahzab [33]: 70. Ia menjelaskan qawlan sadidan sebagai perkataan yang lurus dan tidak menyimpang. ↩
  6. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, no. 6138. Hadis tersebut memerintahkan orang beriman untuk berkata baik atau diam. ↩
  7. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 1009. Dalam hadis tersebut Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa al-kalimah al-tayyibah—perkataan yang baik—merupakan sedekah. ↩
  8. Al-Qur’an, QS. al-Nahl [16]: 125. ↩
  9. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Nahl [16]: 125. Ibn Kathir menerangkan bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog dengan cara yang terbaik, penuh kelembutan dan kebaikan dalam berbicara. ↩
  10. Al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Nahl [16]: 125. Al-Qurtubi menekankan dakwah dengan kelembutan dan meninggalkan kekasaran serta tindakan yang dapat menimbulkan penolakan. ↩
  11. Al-Qur’an, QS. al-Hujurat [49]: 11. Lihat Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Hujurat [49]: 11, mengenai larangan merendahkan dan memberi gelar buruk kepada orang lain. ↩

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.