SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Nyiur di Musim Panas

Nyiur di Musim Panas

Nyiur di Musim Panas
Nyiur di Musim Panas

 

SURAU.CO – Di musim panas, ketika tanah mulai mengering dan manusia mencari kesejukan, kita sering memandang sebatang pohon kelapa, nyiur yang berdiri tegak di tepi pantaiNyiur di Musim Panas.

Ia hidup di lingkungan yang dikelilingi air asin. Namun, Alloh menghadirkan dari pohon itu buah yang di dalamnya terdapat air yang dapat diminum. Seolah-olah alam sedang mengajarkan kepada manusia: tidak semua yang berada di sekeliling kita harus menjadi bagian dari keburukan yang kita hasilkan.

Dari akar hingga pucuk, dari batang hingga daun, dari sabut hingga tempurung, daging buah hingga airnya, pohon kelapa memberikan manfaat bagi makhluk hidup.

Alloh berfirman:

Papua Tanah Injil, Lalu Islam Masuk Dari Mana, Pace?

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.”

(QS. Al-Isra’: 44)

Pohon pun mempunyai tempat dalam keteraturan ciptaan Alloh. Ia tumbuh, mengambil air dan unsur hara dari tanah, menerima cahaya matahari, kemudian menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Alloh juga berfirman:

Perjalanan Jauh

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ۝ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya.”

(QS. Ibrahim: 24–25)

Pohon kelapa dapat menjadi salah satu bahan renungan tentang ayat tersebut: akar yang kuat, batang yang tegak, daun yang menjulang, dan buah yang memberi manfaat.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian kita.

Ingat! Derita Gaza Masih Belum Sirna

Air asin di luar, air tawar Di dalam

Kelapa dapat tumbuh di wilayah pesisir yang tanah dan lingkungannya dipengaruhi oleh garam. Tetapi air kelapa bukanlah air laut yang berubah begitu saja menjadi air tawar.

Secara ilmiah, pohon mempunyai sistem akar dan jaringan pengangkutan yang memungkinkan air serta mineral diserap dan diproses melalui mekanisme fisiologis tumbuhan. Karena itu, air kelapa memiliki komposisi yang berbeda dari air laut.

Di sinilah manusia dapat mengambil ibrah(pelajaran).

Bukan berarti manusia boleh menyamakan dirinya dengan pohon, tetapi kita dapat belajar dari sunnatulloh:

lingkungan tidak selalu menentukan hasil akhir seseorang.

Seseorang mungkin hidup di lingkungan yang penuh perkataan kasar, tetapi ia memilih berkata lembut.

Seseorang mungkin berada di tengah orang yang gemar mencela, tetapi ia memilih menjaga lisannya.

Serta Seseorang mungkin memperoleh kesempatan untuk berbuat tidak baik, tetapi ia memilih amanah.

Seseorang mungkin hidup dalam keadaan sulit, tetapi ia tetap berusaha memberikan manfaat.

Itulah nilai sebuah kehidupan.

Rosululloh SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. ath-Thabrani; dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Pohon kelapa tidak bertanya siapa yang akan menikmati manfaatnya.

Air kelapa dapat diminum.

Daging buahnya dapat dimakan.

Daunnya dapat dimanfaatkan.

Batangnya dapat digunakan.

Sabut dan tempurungnya pun memiliki kegunaan.

Seakan-akan ia berkata melalui diamnya:

“Aku tumbuh bukan hanya untuk diriku sendiri.”

Dari akar sampai Buah

Akar tidak terlihat, tetapi menopang kehidupan.

Batang tidak banyak berbicara, tetapi menjadi penyangga.

Daun menangkap cahaya.

Bunga menjadi awal buah.

Buah menjadi sumber manfaat.

Demikian pula manusia.

Ada orang yang pekerjaannya tidak terlihat, tetapi menjadi penyangga keluarga.

Dan Ada yang tidak terkenal, tetapi ilmunya menerangi orang lain.

Ada yang tidak banyak berbicara, tetapi amalnya dirasakan banyak orang.

Ada yang namanya tidak tertulis di media, tetapi kebaikannya tercatat di sisi Alloh.

Alloh berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah(Sesuatu yang sangat kecil), niscaya dia akan melihatnya.”

(QS. Az-Zalzalah: 7)

Maka jangan mengukur manfaat hanya dari besarnya sesuatu yang terlihat.

Akar yang tersembunyi pun mempunyai fungsi.

Pandangan para ulama

Para ulama ketika menjelaskan perumpamaan pohon dalam QS. Ibrahim ayat 24–25 banyak menekankan bahwa pohon yang baik menggambarkan sesuatu yang memiliki dasar yang kuat, tumbuh dengan baik, dan menghasilkan manfaat.

Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan perumpamaan kalimah thayyibah sebagai sesuatu yang baik, dengan akar yang kokoh dan cabang yang tinggi serta menghasilkan buah dengan izin Alloh.

Al-Qurthubi juga menaruh perhatian pada unsur keteguhan akar dan keberlanjutan buah, sebagai gambaran tentang kebaikan yang mempunyai dasar dan memberikan hasil.

Sedangkan para ulama tazkiyah(penyucian jiwa) dan akhlak sering menjadikan perumpamaan pohon sebagai pelajaran tentang hubungan antara akar, keadaan batin, dan buah amal.

Maka dapat kita renungkan:

iman adalah akar, ilmu adalah batang, amal adalah cabang, dan akhlak adalah buahnya.

Jika akarnya kuat, pohon dapat bertahan menghadapi panas.

Jika iman kuat, manusia dapat bertahan menghadapi ujian.

Nyiur dan musim panas

Musim panas bukan alasan bagi pohon untuk berhenti memberi.

Justru ketika manusia membutuhkan kesejukan, buahnya menjadi salah satu yang dicari.

Mungkin demikian pula kehidupan manusia.

Jangan menunggu keadaan menjadi sempurna untuk berbuat baik.

Jangan menunggu kaya untuk berbagi.

Iya, Jangan menunggu terkenal untuk mengajar.

Jangan menunggu dipuji untuk berbuat ikhlas.

Jangan menunggu orang lain berbuat baik kepada kita untuk memulai kebaikan.

Sebab nilai amal bukan semata-mata pada berapa banyak yang kita miliki, tetapi pada berapa banyak manfaat yang dapat kita berikan.

Alloh berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Nyiur berdiri di tepi pantai.

Di bawahnya pasir.

Disekelilingnya udara panas.

Di dekatnya air laut yang asin.

Namun Alloh menjadikannya tetap tumbuh dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Inilah pelajaran besar dari ciptaan Alloh: jangan hanya melihat tempat tumbuhnya, lihatlah buah yang dihasilkannya.

Manusia pun demikian.

Jangan hanya melihat dari mana ia berasal.

Jangan hanya melihat lingkungan tempat ia hidup.

Baiknya Jangan hanya melihat masa lalunya.

Lihatlah iman, ilmu, akhlak, dan manfaat yang ia hasilkan.

Sebab manusia yang baik bukanlah manusia yang hidup tanpa masalah, melainkan manusia yang mampu tetap menebarkan kebaikan di tengah berbagai keadaan.

Akhir kata

Nyiur mengajarkan kepada kita:

akar boleh berada di tanah,batang boleh diterpa panas,daun boleh digoyang angin,buah boleh menunggu waktunya,tetapi manfaat jangan berhenti.

Air Laut Tetap Asin

Namun Alloh mampu menghadirkan air kelapa yang berbeda melalui proses ciptaan-Nya.

Maka jangan mengatakan:

“Lingkunganku buruk, maka aku pasti menjadi buruk.”

Tidak.

Selama Alloh memberi kita akal, hati, ilmu, dan kesempatan untuk memilih, selalu ada jalan menuju kebaikan.

Jadilah seperti pohon yang akarnya kuat, batangnya teguh, daunnya menaungi, dan buahnya memberi manfaat.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena keberadaan kita.

Nyiur di musim panas tidak banyak bicara.Ia hanya berdiri, tumbuh, dan memberi.

Barangkali demikianlah akhlak terbaik seorang manusia:

tidak banyak mengaku baik, tetapi banyak memberikan manfaat. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.