SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berita Pendidikan
Beranda » Berita » Di Tengah El Niño dan Gagal Panen, Peneliti UGM Angkat Sikapa sebagai Pangan Alternatif Masyarakat Pegunungan Pinrang

Di Tengah El Niño dan Gagal Panen, Peneliti UGM Angkat Sikapa sebagai Pangan Alternatif Masyarakat Pegunungan Pinrang

Muh. Wahyu dan Bashariah berfoto di depan layar presentasi sikapa pangan alternatif di KISPB Makassar
Muh. Wahyu (kiri) dan Bashariah berfoto di depan layar yang menampilkan judul makalah mereka usai presentasi di KISPB, Unhas Hotel & Convention Center, Makassar, 7 Oktober 2026.

Makassar, 7 Oktober 2026 — Kekeringan akibat El Niño yang melanda Kabupaten Pinrang sejak Juni 2026 mendorong sekelompok peneliti dan komunitas lokal menengok kembali sikapa pangan alternatif yang pernah menyelamatkan warga pegunungan di masa paceklik. Sikapa (Dioscorea hispida) adalah umbi liar khas masyarakat Pattinjo. Para peneliti memaparkan temuan ini di Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan (KISPB) di Unhas Hotel & Convention Center, Makassar, pada 7 Oktober 2026.

Muh. Wahyu, M.A. (alumni Magister Politik dan Pemerintahan UGM), Bashariah (mahasiswa Magister Pertanian UGM), dan Maslan (Ketua Komunitas Ekofilia Kecamatan Lembang) menulis makalah berjudul “Sikapa dan Sungai: Kajian Etnobotani Pangan Alternatif Masyarakat Pattinjo di Pegunungan Kabupaten Pinrang”. Mereka mempresentasikannya bersama pemakalah lainnya dari Sulawesi Selatan pada Tema 3: Diversifikasi Konsumsi, Sistem Pangan Lokal, dan Resiliensi Gizi.

Sikapa, Pangan Alternatif Warga Pegunungan Saat Paceklik

Tim peneliti bekerja di Desa Rajang, Kecamatan Lembang, pada Agustus–September 2026, saat warga menghadapi kekeringan, krisis air, dan ancaman gagal panen. Narasumber utama, Muniar (78), mengenang masa ketika hama dan penyakit merusak padi dan warga naik ke gunung mencari sikapa. Orang tua dan tetangga mewariskan pengetahuan itu lewat praktik kolektif bernama misikapa.

Umbi sikapa (Dioscorea hispida) yang dipanen warga pegunungan Pattinjo di Kabupaten Pinrang

Sikapa (Dioscorea hispida), umbi liar beracun yang diolah warga Pattinjo menjadi pangan alternatif saat paceklik. Umbi ini harus melewati detoksifikasi bertahap sebelum aman dimakan.

Umbi Sikapa sangat beracun, sehingga warga tidak bisa langsung memakannya. Warga harus melakukan detoksifikasi secara bertahap: memarut umbi, merendamnya dalam air garam, menginjak dan menindihnya, membilasnya di sungai, lalu menjemur dan memeramnya hingga aman. Pengetahuan detoksifikasi ini merupakan pengetahuan lokal masyarakat pegunungan yang hingga kini masih bertahan kendati hanya dipahami oleh para generasi tua di pegunungan Kabupaten Pinrang

Sungai yang Mengering Menghambat Pengolahan Sikapa

Meski begitu, kekeringan hari ini tidak serta-merta menghidupkan kembali praktik pengolahan Sikapa. Penelitian menemukan bahwa pengetahuan pengolahan sikapa masih ada, tetapi sungai yang menopang detoksifikasinya kian dangkal, berlumut, dan tidak lagi mengalir.

Sikapa Curi Perhatian di KISPB: Banyak Peserta Baru Tahu Umbi Beracun Ini Bisa Dimakan

“Masalah utamanya di air,” ujar Mama Ratu (31), narasumber lain dalam penelitian ini. Untuk merendam sikapa, ia kini harus pindah ke sungai yang berjarak sekitar empat hingga lima kilometer dari rumahnya menuju ke arah hulu sungai agar memungkinkan mengolah Sikapa.

Lebih lanjut peneliti menakankan bahwa sikapa bukan hanya soalpangan tapi juga budaya dan pengetahuan lokal yang harus dijaga dan diwariskan. “Sikapa bukan hanya soal umbi yang bisa dimakan. Ini soal pengetahuan dan budaya masyarakat pegunungan pattinjo, perlu adanya pelestarian sungai, dan mendokumentasikan ingatan masyarakat tentang praktik ini,” kata Muh. Wahyu.

Rekomendasi: Pulihkan Sungai, Wariskan Pengetahuan

Para peneliti merekomendasikan intervensi terpadu kepada Pemerintah Kabupaten Pinrang. Pemulihan ekologis Sungai Rajang perlu berjalan bersama dokumentasi dan pewarisan pengetahuan dan budaya pengolahan sikapa ke generasi muda. Langkah ini menyiapkan pangan lokal sebagai cadangan dan pangan alternatif saat krisis iklim berikutnya datang.

Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiwa, dan Mendekat kepada Allah

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.