SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan
Beranda » Berita » Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiwa, dan Mendekat kepada Allah

Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiwa, dan Mendekat kepada Allah

Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiw, dan Mendekat kepada Allah
Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiw, dan Mendekat kepada Allah

SURAU.CO – Pendahuluan; Setiap manusia pernah mengalami luka. Ada luka yang disebabkan oleh perkataan, ada yang lahir dari perlakuan, dan ada pula yang muncul karena pengkhianatan terhadap kepercayaan. Kadang-kadang orang yang paling dekat justru menjadi orang yang paling mampu melukai hati.

Sebuah perkataan mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bekasnya dapat bertahun-tahun. Seseorang mungkin sudah meminta maaf, tetapi hati yang terluka belum tentu langsung mampu melupakan. Dalam keadaan seperti itu, memaafkan bukanlah perkara sederhana.

Namun, Islam mengajarkan manusia untuk tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk hidup dalam kebencian. Al-Qur’an justru memuji orang-orang yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan, bahkan berbuat baik kepada orang yang pernah menyakitinya.

Allah SWT berfirman:

«وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ»

Tumpeng: Tumpeng bukan sekadar Nasi Berbentuk Kerucut

«“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 134).»

Ayat ini mengandung pendidikan jiwa yang sangat dalam. Memaafkan bukan sekadar persoalan hubungan sosial, tetapi bagian dari akhlak orang bertakwa. Bahkan, ayat tersebut menempatkan kemampuan mengendalikan amarah dan memaafkan orang lain sebagai karakter orang-orang yang dipersiapkan untuk memperoleh ampunan dan surga Allah.¹

Memaafkan Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan

Memaafkan sering kali disalahpahami. Ada yang mengira bahwa memaafkan berarti menganggap kesalahan orang lain tidak pernah terjadi. Ada pula yang berpikir bahwa memaafkan berarti membiarkan seseorang terus melakukan kesalahan.

Pemahaman tersebut perlu diluruskan.

Memaafkan berarti melepaskan keinginan untuk membalas keburukan dengan keburukan. Memaafkan tidak menghapus fakta bahwa sebuah kesalahan telah terjadi. Jika seseorang berbuat zalim, perbuatannya tetap salah. Jika seseorang mengkhianati amanah, pengkhianatan itu tetap merupakan kesalahan.

Memutuskan Mata Rantai ‘Wahn’: Meretas Jalan Menuju Ukhuwah yang Hilang

Namun, orang yang memaafkan memilih untuk tidak menjadikan keburukan tersebut sebagai alasan melakukan keburukan baru.

Di sinilah letak kematangan akhlak.

Al-Qurthubi ketika menafsirkan QS. Ali ‘Imran ayat 134 menjelaskan bahwa al-‘afw atau memaafkan merupakan salah satu bentuk kebaikan yang tinggi, khususnya ketika seseorang sebenarnya mempunyai hak untuk memberikan hukuman atau membalas. Ia juga menjelaskan bahwa makna memaafkan dalam ayat tersebut dapat dipahami secara luas, yakni memaafkan kesalahan dan perlakuan buruk manusia.²

Dengan demikian, memaafkan bukan berarti kehilangan harga diri. Sebaliknya, dalam keadaan tertentu, memaafkan justru menunjukkan bahwa seseorang mampu mengendalikan dirinya ketika mempunyai kesempatan untuk membalas.

Menahan Amarah Adalah Kekuatan

Sebelum seseorang mampu memaafkan, ia harus belajar mengendalikan amarah.

Keselarasan Piagam Madinah Dan Pancasila: Menemukan Titik Temu antara Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Allah menyebut:

«وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ»

“Orang-orang yang menahan amarah.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketika amarah muncul, mereka menahannya dan tidak melampiaskannya. Bahkan, setelah mampu menahan amarah, mereka melangkah lebih jauh dengan memaafkan orang yang menyakiti mereka.³

Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan proses yang selalu instan.

Tahap pertama adalah mengendalikan reaksi.

Ketika seseorang disakiti, jangan langsung membalas pesan dengan kata-kata kasar. Jangan segera menyebarkan aib. Jangan mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak.

Berhenti sejenak.

Tarik napas.

Berwudhu.

Berdoa.

Kemudian berpikir.

Sebab, satu menit kemarahan dapat melahirkan penyesalan bertahun-tahun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

“Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”⁴

Hadis ini mengubah ukuran kekuatan manusia. Kekuatan tidak hanya diukur dari kemampuan mengalahkan orang lain. Kekuatan yang lebih mendalam adalah kemampuan mengalahkan dorongan buruk dalam diri sendiri.

Memaafkan adalah Jihad Melawan Diri

Tidak mudah memaafkan seseorang yang telah melukai kita. Ego berkata, “Dia harus merasakan apa yang saya rasakan.” Hati berkata, “Saya tidak akan pernah melupakannya.”

Tetapi iman mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi.

Islam mengajarkan manusia agar tidak menjadi tawanan kemarahan.

Al-Qurthubi menyebut pengendalian amarah, memaafkan, dan penguasaan diri sebagai bagian dari ibadah dan perjuangan melawan hawa nafsu.⁵ Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan sikap pasif. Ia merupakan pekerjaan batin yang membutuhkan kesabaran.

Kadang-kadang manusia merasa puas ketika melihat orang yang menyakitinya mendapatkan kesulitan. Namun, seorang mukmin seharusnya berusaha membebaskan hatinya dari keinginan seperti itu.

Ia dapat berkata:

“Ya Allah, saya serahkan urusan ini kepada-Mu. Saya tidak ingin hidup saya dipenuhi kebencian.”

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi awal penyembuhan hati.

Allah Menyukai Orang yang Memaafkan

Menariknya, QS. Ali ‘Imran ayat 134 tidak berhenti pada kalimat “orang-orang yang memaafkan manusia.”

Allah melanjutkan:

«وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ»

“Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Artinya, memaafkan merupakan bagian dari jalan menuju ihsan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang tersebut bukan hanya menahan amarah, tetapi juga tidak membalas keburukan dengan tindakan yang merugikan. Mereka mengendalikan dirinya dan memberikan maaf kepada orang yang berbuat buruk kepada mereka.⁶

Maka, ketika seseorang memaafkan karena Allah, ia sebenarnya sedang mendidik hatinya agar naik ke tingkat akhlak yang lebih tinggi.

Memaafkan dan Mengharapkan Ampunan Allah

Ada ayat lain yang sangat kuat dalam mengajarkan budaya memaafkan. Allah berfirman:

«وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ»

«“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-Nur [24]: 22).»

Ayat ini memberikan sebuah pertanyaan yang menggugah hati:

Tidakkah kita ingin Allah mengampuni kita?

Setiap manusia mempunyai dosa. Setiap manusia pernah salah. Kita berharap Allah mengampuni kesalahan kita, menutupi aib kita, dan menerima taubat kita.

Karena itu, ketika orang lain melakukan kesalahan kepada kita, kita pun belajar memberikan maaf.

Memaafkan orang lain tidak membuat kita kehilangan sesuatu. Justru, kita sedang berharap memperoleh rahmat dan ampunan Allah.

Rasulullah ﷺ dan Kemuliaan Memaafkan

Rasulullah ﷺ merupakan teladan utama dalam masalah akhlak.

Beliau tidak menjadikan setiap kesalahan orang lain sebagai alasan untuk membalas. Sikap beliau menunjukkan bahwa kemuliaan seorang manusia bukan hanya terlihat ketika ia memperoleh kemenangan, tetapi juga ketika ia memiliki kesempatan membalas namun memilih jalan yang lebih mulia.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا»

“Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena ia memaafkan kecuali kemuliaan.”⁷

Hadis ini memberikan perspektif yang sangat penting.

Masyarakat kadang menganggap bahwa orang yang memaafkan adalah orang yang kalah. Islam justru mengajarkan bahwa memaafkan dapat menjadi sebab bertambahnya kemuliaan.

Memaafkan tidak selalu membuat seseorang terlihat lemah. Dalam banyak keadaan, memaafkan menunjukkan bahwa seseorang tidak dikuasai oleh dendam.

Memaafkan Tidak Berarti Menghilangkan Batas

Namun, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan seseorang untuk membiarkan dirinya terus-menerus dizalimi.

Seseorang boleh memaafkan, tetapi tetap menjaga batas.

Seorang suami atau istri boleh memaafkan kesalahan pasangan, tetapi tetap membutuhkan komunikasi dan perubahan perilaku. Orang tua boleh memaafkan anak, tetapi tetap memberikan pendidikan. Seorang sahabat boleh memaafkan pengkhianatan temannya, tetapi tidak berarti harus kembali memberikan kepercayaan dengan kadar yang sama tanpa pertimbangan.

Memaafkan dan menetapkan batas dapat berjalan bersama.

Kita dapat mengatakan:

“Saya memaafkanmu, tetapi saya berharap kesalahan itu tidak terulang.”

Kalimat tersebut bukan kebencian. Itu adalah bentuk kedewasaan.

Memaafkan berarti membebaskan hati dari dendam. Menetapkan batas berarti menjaga diri dari kerusakan yang sama.

Jangan Menyimpan Luka Terlalu Lama

Ada orang yang sudah bertahun-tahun membawa dendam terhadap seseorang yang bahkan mungkin tidak lagi mengingat peristiwa tersebut.

Ia terus mengulang kejadian dalam pikirannya.

“Dulu dia mengatakan ini.”

“Duluu dia melakukan itu.”

“Dulu saya dipermalukan.”

Akhirnya, masa lalu terus hidup di dalam dirinya.

Padahal, orang yang menyakiti kita mungkin telah menjalani hidupnya. Sementara kita masih menjadi tawanan sebuah peristiwa lama.

Di sinilah pentingnya melepaskan.

Melepaskan bukan berarti mengatakan bahwa kejadian itu tidak penting. Melepaskan berarti mengatakan:

“Saya tidak mau peristiwa masa lalu mengendalikan masa depan saya.”

Allah memberikan manusia kesempatan untuk berubah. Karena itu, jangan biarkan satu kesalahan seseorang membuat seluruh hidup kita dipenuhi kebencian.

Memaafkan Diri Sendiri

Ada pula manusia yang perlu belajar memaafkan dirinya sendiri.

Ia pernah salah memilih. Pernah berkata kasar. Pernah gagal menjaga amanah. Serta Pernah mengambil keputusan yang keliru.

Penyesalan dapat menjadi guru yang baik, tetapi penyesalan yang berlebihan dapat berubah menjadi beban.

Allah berfirman:

«لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ»

“Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. al-Zumar [39]: 53).

Ayat ini memberikan harapan bahwa pintu kembali kepada Allah tetap terbuka.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dalam konteks luasnya rahmat dan ampunan Allah bagi hamba yang bertobat.⁸

Karena itu, kesalahan masa lalu harus menjadi pelajaran, bukan penjara.

Jika pernah salah, bertobatlah.

Jika pernah menyakiti, mintalah maaf.

Dan Jika pernah gagal, perbaiki.

Jika pernah jatuh, bangkit kembali.

Langkah Praktis Belajar Memaafkan

Memaafkan memang membutuhkan proses. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, akui rasa sakit.

Tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Akui bahwa kita kecewa dan terluka.

Kedua, kendalikan reaksi.

Jangan mengambil keputusan ketika amarah sedang memuncak. Rasulullah ﷺ mengajarkan pengendalian diri ketika marah.⁹

Ketiga, pisahkan antara kesalahan dan pribadi seseorang.

Seseorang dapat melakukan kesalahan tanpa harus kita benci sepanjang hidupnya.

Keempat, jangan membalas keburukan dengan keburukan.

Allah berfirman:

«وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ»

“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah.”
(QS. al-Syura [42]: 40).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya hak untuk mendapatkan keadilan, tetapi sekaligus membuka pintu yang lebih tinggi, yaitu memaafkan dan melakukan perbaikan.¹⁰

Kelima, doakan agar Allah membersihkan hati.

Tidak semua luka dapat sembuh dalam satu hari. Karena itu, jangan memaksa hati untuk langsung melupakan.

Berdoalah sedikit demi sedikit.

Keenam, ambil pelajaran.

Memaafkan tidak berarti kehilangan hikmah. Dari sebuah pengkhianatan, kita belajar berhati-hati. Dan Dari sebuah konflik, kita belajar berkomunikasi. Dari sebuah kesalahan, kita belajar menjadi lebih dewasa.

Memaafkan untuk Membangun Keluarga

Keluarga merupakan tempat yang sangat membutuhkan budaya memaafkan.

Suami dan istri tidak mungkin selalu sepakat. Orang tua dan anak juga tidak selalu memahami satu sama lain.

Jika setiap kesalahan dicatat, rumah akan berubah menjadi tempat pengadilan.

Sebaliknya, jika setiap kesalahan diselesaikan dengan komunikasi, nasihat, dan maaf, rumah dapat menjadi tempat tumbuhnya kasih sayang.

Dalam keluarga, jangan terlalu mudah mengungkit kesalahan lama.

Kesalahan yang sudah selesai jangan terus digunakan sebagai senjata ketika terjadi pertengkaran baru.

“Dulu kamu juga begitu.”

“Dulu kamu pernah melakukan ini.”

Kalimat-kalimat semacam itu dapat membuka kembali luka yang seharusnya telah ditutup.

Keluarga yang sehat bukan keluarga tanpa kesalahan. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan.

Memaafkan Membuka Jalan Persaudaraan

Dalam kehidupan sosial, kebiasaan memaafkan dapat menjaga persaudaraan.

Perselisihan antarsaudara, tetangga, sahabat, bahkan sesama anggota masyarakat sering kali bermula dari persoalan kecil yang tidak segera diselesaikan.

Satu kata menjadi dua kata.

Dua kata menjadi pertengkaran.

Pertengkaran berubah menjadi permusuhan.

Permusuhan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, Islam mengajarkan budaya islah, yaitu perbaikan hubungan.

Memaafkan dapat menjadi pintu awal untuk memperbaiki hubungan yang retak.

Penutup

Hidup terlalu singkat untuk dipenuhi dendam.

Kita tidak tahu berapa lama umur yang masih tersisa. Karena itu, jangan habiskan waktu dengan terus memelihara kebencian kepada orang lain.

Belajar memaafkan.

Bukan karena kesalahan orang lain menjadi benar, tetapi karena hati kita terlalu berharga untuk dijadikan tempat tinggal kebencian.

Memaafkan bukan berarti melupakan seluruh luka. Memaafkan adalah menerima bahwa sesuatu telah terjadi, mengambil pelajarannya, kemudian memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Dan Memaafkan juga bukan berarti membiarkan diri dizalimi. Kita tetap boleh menjaga batas, mencari keadilan, dan melindungi diri. Tetapi semua itu dapat dilakukan tanpa memelihara dendam.

Al-Qur’an telah memberikan jalan:

menahan amarah, memaafkan manusia, kemudian berbuat ihsan.

Itulah akhlak yang dicintai Allah.

Dan Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa Allah menambah kemuliaan bagi orang yang memaafkan.¹¹

Maka, ketika hati kita sedang terluka, cobalah berdoa:

“Ya Allah, bersihkan hatiku dari dendam. Berikan aku kekuatan untuk memaafkan. Jika aku dizalimi, berikan aku jalan keadilan tanpa kebencian. Jika aku pernah menyakiti orang lain, berikan aku keberanian untuk meminta maaf. Dan jadikan hatiku hati yang Engkau cintai.”

Sebab, pada akhirnya, memaafkan bukan hanya tentang orang yang kita maafkan.

Memaafkan adalah tentang siapa diri kita di hadapan Allah.

Catatan Kaki — Chicago Notes

  1. Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134; lihat pula penjelasannya tentang sifat orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan.

  2. Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134. Al-Qurtubi menjelaskan al-‘afw sebagai salah satu bentuk kebajikan yang tinggi ketika seseorang mempunyai hak untuk membalas.

  3. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134.

  4. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis tentang orang kuat yang mampu mengendalikan diri ketika marah.

  5. Al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134. Ia mengaitkan pengendalian amarah dan memaafkan dengan ibadah serta perjuangan melawan diri.

  6. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134.

Sahih Muslim

  1. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadis no. 2588. Hadis tersebut menyatakan bahwa Allah menambah kemuliaan bagi orang yang memaafkan.

  2. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Zumar [39]: 53. Tafsir tersebut menekankan keluasan rahmat dan ampunan Allah bagi hamba yang kembali kepada-Nya.

  3. Al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134, mengenai pengendalian diri ketika marah dan hadis tentang kekuatan sejati.

  4. Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Syura [42]: 40.

  5. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 2588. Riwayat ini menegaskan hubungan antara memaafkan dan kemuliaan yang diberikan Allah.

  6. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Nur [24]: 22.

  7. Al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Nur [24]: 22.

  8. Muhammad ibn ‘Isa al-Tirmidhi, Sunan al-Tirmidhi, Kitab al-Birr wa al-Silah, hadis tentang keutamaan menahan amarah.

  9. Ahmad ibn Hanbal, Al-Musnad, hadis Abu Hurairah tentang kekuatan dalam mengendalikan diri ketika marah; hadis tersebut juga diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis sahih. Ibn Kathir mengutipnya ketika menjelaskan QS. Ali ‘Imran [3]: 134.

Daftar Pustaka

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Tirmidhi, Muhammad ibn ‘Isa. Sunan al-Tirmidhi. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.

Ibn Hanbal, Ahmad. Al-Musnad. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.

Sahih Muslim. “Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab,” hadis no. 2588.Naskah ini sudah diarahkan sebagai artikel ilmiah populer: tetap komunikatif untuk pembaca umum, tetapi memiliki landasan ayat, hadis, tafsir Ibnu Katsir–Al-Qurthubi, catatan kaki Chicago Notes, dan daftar pustaka sehingga lebih siap untuk diedit ke format media atau jurnal populer. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.