SURAU.CO – Pendahuluan; Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian. Ada saatnya seseorang memperoleh nikmat yang melimpah, namunQadarullah wa Mā Syā’a Fa’ala: Membangun Keteguhan Jiwa dalam Menghadapi Takdir Allah pada waktu lain ia diuji dengan kehilangan, kegagalan, musibah, atau penyesalan terhadap sesuatu yang telah berlalu. Dalam kondisi seperti itu, Islam mengajarkan satu kalimat agung yang mampu menenangkan hati dan mengokohkan keimanan, yaitu:
قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
Qadarullāhi wa mā syā’a fa’ala.
“Ini adalah takdir Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan pasrah, melainkan manifestasi keyakinan seorang mukmin terhadap kesempurnaan ilmu, hikmah, dan kekuasaan Allah SWT.
Landasan Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
> مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22–23).
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh kejadian telah ditetapkan oleh Allah sebelum terjadi. Keyakinan terhadap takdir melahirkan ketenangan dan menghindarkan manusia dari penyesalan yang berlebihan.
Hadis Nabi tentang Menghadapi Musibah
Rasulullah ﷺ bersabda:
> وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Jika engkau ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan: ‘Seandainya aku melakukan begini tentu akan menjadi begini.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qadarullah wa mā syā’a fa’ala’, karena ucapan ‘seandainya’ membuka pintu godaan setan.” (HR. Muslim No. 2664).
Hadis ini mengajarkan bahwa penyesalan yang berlebihan tidak mengubah kenyataan. Sebaliknya, menerima takdir dengan lapang dada akan menjaga hati dari tipu daya setan.
Penjelasan Imam Ibnul Qayyim
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Yang telah berlalu tidak dapat dihilangkan dengan kesedihan. Akan tetapi dapat dihadapi dengan ridha, pujian kepada Allah, kesabaran, keimanan terhadap takdir, dan mengucapkan: ‘Qadarullah wa mā syā’a fa’ala.'” (Zād al-Ma’ād, Jilid 2, hlm. 327).
Beliau menjelaskan bahwa kesedihan tidak mampu mengubah masa lalu. Yang dapat dilakukan seorang mukmin adalah memperbaiki masa kini dengan kesabaran dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Hikmah Mengucapkan “Qadarullah wa Mā Syā’a Fa’ala”
Beberapa hikmah dari kalimat tersebut antara lain:
- Menguatkan tauhid, karena meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.
-
Menumbuhkan sikap ridha, sehingga hati menjadi lebih tenang menghadapi musibah.
-
Menutup pintu waswas, karena tidak terus-menerus larut dalam penyesalan.
-
Meningkatkan kesabaran, sebab setiap ujian diyakini memiliki hikmah.
- Menumbuhkan optimisme, bahwa Allah selalu menyediakan jalan terbaik bagi hamba-Nya.
Implementasi dalam Kehidupan
Mengucapkan Qadarullah wa mā syā’a fa’ala bukan berarti menyerah kepada keadaan. Islam tetap memerintahkan ikhtiar maksimal, kemudian bertawakal kepada Allah. Seorang mukmin bekerja keras, berdoa, dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Apabila hasilnya tidak sesuai harapan, ia menerima dengan lapang dada tanpa menyalahkan takdir.
Sikap inilah yang membedakan antara tawakal yang benar dengan sikap pasif. Tawakal adalah perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan kerelaan menerima keputusan Allah.
Penutup
Kalimat “Qadarullah wa mā syā’a fa’ala” merupakan obat hati bagi setiap mukmin yang sedang menghadapi ujian kehidupan. Ia mengajarkan bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih bisa diperbaiki dengan iman, amal saleh, dan kesabaran.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ridha terhadap ketetapan-Nya, sabar dalam menghadapi ujian, serta senantiasa bertawakal kepada-Nya.
“Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.”
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Hadid [57]: 22–23.
-
Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, No. 2664.
-
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma’ād fī Hadyi Khairil ‘Ibād, Juz 2, hlm. 327.
- Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Hadid: 22–23. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
