SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Pendapatan

Pendapatan

Pendapatan
Pendapatan

 

SURAU.CO – Pendapatan dicari dengan banyak cara. Ada yang ditempuh dengan ilmu,
ada yang ditempuh dengan kerja keras,
ada yang diperoleh melalui perdagangan,
ada pula yang datang dari profesi dan keahlian.

Zaman berubah

Hari ini, ada orang-orang yang direkrut bukan untuk membangun kebenaran,
melainkan untuk mencari pendapatan dengan cara membicarakan keburukan orang lain.

Yang benar maupun yang salah,
yang terbukti maupun yang belum terbukti,
yang jelas maupun yang masih kabar,
semuanya dapat dijadikan bahan untuk diunggah ke media sosial.

Target telah ditentukan.
Informasi keburukan disebarkan.
Perhatian masyarakat didapat.
Pendapatan pun mengalir.

NEGARA WAJIB MENJAMIN KEAMANAN SELURUH RAKYAT

Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih dalam:

Ke mana perginya nurani orang yang mengunggahnya?

Apakah setiap informasi harus disebarkan hanya karena dapat menghasilkan pendapatan?

Apakah aib manusia boleh menjadi komoditas?

Dan apakah kehormatan seseorang boleh ditukar dengan keuntungan?

Membaca Ayat Kursi Setelah Shalat: Amalan Ringan yang Mengantarkan Pada Khusnul Khatimah

Alloh telah memberikan dasar yang sangat jelas:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا»

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan bahwa berita bukan sekadar bahan untuk disampaikan.

Tabayyun sebelum menyebarkannya

Sebab satu berita yang tidak diperiksa dapat merusak nama baik seseorang,
memecah persaudaraan,
menimbulkan kebencian,
bahkan membuat manusia menyesal setelah semuanya terlambat.

Hewan Bersholawat

Alloh juga mengingatkan:

«وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا»

“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ghibah bukan menjadi halal hanya karena dilakukan di media sosial.

Dahulu ghibah mungkin dilakukan melalui lisan.
Sekarang ghibah dapat dilakukan melalui tulisan, gambar, video, komentar, unggahan, dan penyebaran ulang.

Lidah dapat berbicara dalam hitungan detik,
tetapi media sosial dapat membuat sebuah perkataan berjalan jauh melampaui orang yang mengucapkannya.

Rosululloh SAW bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di zaman media sosial, pesan hadis ini dapat direnungkan lebih luas:

Jika tulisan tidak membawa kebaikan, mengapa harus diunggah?

Jika sebuah video hanya mempermalukan seseorang,
mengapa harus disebarkan?

Dan jika sebuah informasi belum jelas kebenarannya,
mengapa harus menjadi bahan konsumsi publik?

Jika keuntungan yang diperoleh berasal dari penderitaan dan kehancuran nama baik orang lain,
apakah pendapatan tersebut masih membawa keberkahan?

Para ulama menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang seorang Muslim yang apabila ia mendengarnya, ia tidak menyukainya. Bahkan apabila apa yang disebutkan itu benar, tetap dapat menjadi ghibah; sedangkan jika yang disebutkan tidak benar, persoalannya menjadi lebih berat karena masuk kepada buhtan atau tuduhan dusta.

Karena itu, “yang penting benar” bukan alasan untuk menyebarkan segala sesuatu.

Kebenaranpun memiliki adab

Ada kebenaran yang harus disampaikan kepada pihak yang berwenang.
>Ada kebenaran yang harus disampaikan sebagai nasihat secara pribadi.
>Ada kebenaran yang harus disampaikan demi mencegah mudarat.
Dan ada sesuatu yang benar tetapi tidak pantas diumbar karena hanya membuka aib dan merusak kehormatan manusia.

Maka jangan sampai:

pendapatan bertambah,
tetapi dosa juga bertambah.

Jangan sampai:

pengikut bertambah,
tetapi keberkahan berkurang.

Jangan sampai:

unggahan menjadi viral,
tetapi hati kehilangan rasa takut kepada Alloh.

Media sosial adalah alat.

Ia dapat menjadi ladang ilmu,
ladang dakwah,
ladang pendidikan,
ladang silaturahmi,
dan ladang rezeki yang halal.

Namun ia juga dapat berubah menjadi ladang. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.