SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Perjalanan Jauh

Perjalanan Jauh

Perjalanan Jauh
Perjalanan Jauh

 

SURAU.CO – Tidak terasa, Detik demi detik berlalu tanpa pernah meminta izin. Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berubah menjadi tahun, hingga tanpa sadar usia kita semakin berkurang.

Kita berjalan begitu sibuk. Mengejar rezeki, mengumpulkan harta, mencari ilmu, membangun nama, mengejar cita-cita, dan berharap esok akan selalu ada.

Sering kali kita hidup seakan kematian hanya milik orang lain.

Padahal setiap embusan napas adalah langkah yang semakin mendekatkannya.

Ingat! Derita Gaza Masih Belum Sirna

Tidak ada yang tahu kapan perjalanan ini berhenti.

Mungkin ketika masih bayi, mungkin saat semangat muda sedang membara, mungkin ketika sedang menikmati puncak keberhasilan, atau ketika tubuh telah renta dimakan usia.

Ketika waktu itu tiba, semua yang kita miliki akan tertinggal.

Rumah tetap Berdiri

Kendaraan tetap terparkir. Jabatan akan berganti pemilik.

Rekening akan berpindah kepada ahli waris. Nama perlahan terlupakan.

Dunia Ini Hina, Akhirat Berharga: Membangun Orientasi Hidup Seorang Muslim

Yang ikut hanyalah selembar kain kafan dan amal yang pernah kita kerjakan.

Lalu dimulailah perjalanan yang lebih panjang, memasuki alam barzakh.

Di sana tidak ada lagi kesempatan memperbaiki sholat yang ditinggalkan, mengembalikan hak orang lain yang pernah diambil, meminta maaf atas luka yang pernah ditorehkan, ataupun mengulang waktu yang telah terbuang.

Yang ada hanyalah penantian, menunggu panggilan menuju hari perhitungan.

Karena itu, sebelum perjalanan dunia berakhir, marilah bertanya kepada diri sendiri.

Qadarullah wa Mā Syā’a Fa’ala: Membangun Keteguhan Jiwa dalam Menghadapi Takdir Allah

Sudahkah air mata kita jatuh karena takut kepada Alloh?

Sudahkah tangan ini lebih banyak memberi daripada meminta?

Serta Sudahkah lisan ini lebih sering berzikir daripada menyakiti?

Sudahkah hati ini dipenuhi keikhlasan daripada kesombongan?

Sesungguhnya bekal terbaik bukanlah banyaknya harta, melainkan iman yang kokoh, amal saleh yang ikhlas, akhlak yang mulia, ilmu yang diamalkan, doa yang tulus, dan hati yang selalu kembali kepada Alloh.

Jangan menunggu tua untuk bertobat.

Jangan menunggu sakit untuk beribadah.

Dan Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.

Sebab kita tidak pernah tahu, napas yang sedang kita hirup hari ini, bisa jadi adalah napas terakhir yang Alloh titipkan.

Semoga ketika perjalanan dunia ini berakhir, kita termasuk hamba yang dipanggil dengan penuh kasih:

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridhoi. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30).

Akhirnya, kita semua adalah musafir.
Dunia hanyalah tempat singgah.

Sedangkan kampung halaman yang sesungguhnya adalah akhirat.

Semoga Alloh menjadikan perjalanan jauh ini berakhir dengan husnul khotimah dan perjumpaan yang indah dengan rahmat-Nya. Aamiin Yā Robbal ‘Ālamīn.

 

 

 


Penjajahan

 

Penjajahan bukan hanya dilakukan oleh bangsa atau negara lain. Dan Penjajahan juga dapat terjadi oleh bangsa sendiri, bahkan oleh diri sendiri.

Dalam makna pendidikan, penjajahan yang paling berbahaya adalah ketika nafsu duniawi menguasai akal dan hati. Setinggi apa pun pendidikan seseorang, baik formal maupun nonformal, berbasis agama maupun umum, jika ia enggan membaca, belajar, berpikir, dan mengamalkan perintah pertama yang Alloh turunkan, yaitu “Iqro” (Bacalah), maka sesungguhnya ia masih berada dalam belenggu kebodohan.

Alloh SWT berfirman:

«”Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)»

Ilmu adalah jalan menuju kemerdekaan, sedangkan kebodohan adalah pintu menuju penjajahan. Orang yang berhenti belajar akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu, informasi yang menyesatkan, dan kepentingan dunia.

Penjajahan juga tampak ketika lisan lebih sibuk mengolok, mencela, memfitnah, atau merendahkan orang lain daripada memperbaiki diri. Demikian pula ketika pikiran dipenuhi rasa iri, dengki, dan kebencian. Belenggu seperti ini membuat akal kehilangan kejernihan dan hati kehilangan ketenangan.

Alloh SWT berfirman:

«”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)»

Dan Alloh juga mengingatkan:

«”Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)»

Rosululloh SAW bersabda:

«”Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Beliau juga bersabda:

«”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Penjajahan sejati bukan sekadar kehilangan wilayah, tetapi kehilangan kemerdekaan berpikir, kemerdekaan hati, dan kemerdekaan untuk menerima kebenaran. Orang yang dikuasai hawa nafsunya akan sulit melihat kebaikan, sekalipun kebaikan itu berada di hadapannya.

Memerdekaan Diri

Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan yang hakiki adalah terbebas dari penghambaan kepada selain Allph. Dengan ilmu, adab, dan ketakwaan, manusia akan merdeka dari kebodohan, kesombongan, iri hati, serta berbagai penyakit hati yang menghalangi jalan menuju ridho Alloh.

Alloh SWT berfirman:

«”Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)»

Marilah kita memerdekakan diri dengan membaca, belajar, beramal, menjaga lisan, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Sebab kemerdekaan yang paling agung bukanlah hanya bebas dari penjajahan manusia, melainkan bebas dari penjajahan hawa nafsu yang menutup cahaya iman.

“Kemerdekaan bangsa adalah anugerah. Kemerdekaan jiwa adalah perjuangan. Dan kemerdekaan hati hanya diraih dengan ilmu, iman, dan takwa.” (Bambang JB)

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.