SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Makna Hijrah Muharam: Melawan Darurat Mental Koruptif di Indonesia

Makna Hijrah Muharam: Melawan Darurat Mental Koruptif di Indonesia

SURAU.CO. Muharam (baca: Tahun Baru Hijriah 1448 H) kembali menyapa umat Islam di seluruh dunia. Ini adalah momen pergantian tahun Hijriah yang penuh doa dan harapan. Biasanya kita menyambutnya dengan berbagai kegiatan keagamaan, tetapi momen ini juga mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita benar-benar berhijrah dalam hidup?

Muharam bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam. Allah memuliakannya sebagai salah satu dari empat bulan suci (al-asyhur al-hurum). Rasulullah Saw juga menyebutnya sebagai Syahrullah al-Muharram atau “bulan Allah”. Karena itu, bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk muhasabah, melihat kembali diri kita, lalu memperbaiki niat dan langkah ke depan.

Makna Hijrah yang Sesungguhnya

Perayaan Tahun Baru Hijriah tidak cukup hanya dengan simbol atau ucapan. Ia seharusnya menjadi momen untuk berubah menjadi lebih baik. Namun, hijrah sering disalahpahami hanya sebagai perpindahan tempat atau penampilan luar saja.

Padahal, hijrah Nabi Muhammad Saw jauh lebih dalam dari itu. Saat beliau berpindah dari Makah ke Madinah, itu bukan sekadar pindah tempat, tetapi awal perubahan besar dalam kehidupan umat. Dari situ, masyarakat berubah menjadi lebih baik. Dari yang tidak teratur menjadi lebih tertib, dari yang kurang jujur menjadi lebih menjunjung amanah. Nabi juga membangun persaudaraan dan mengajarkan tanggung jawab dalam kehidupan bersama.

Menghadapi Darurat Mental Koruptif

Jika kita melihat kondisi hari ini, maka hijrah yang paling mendesak bagi Indonesia adalah hijrah dari mental koruptif. Sebab masalah terbesar bangsa ini tidak hanya pada kasus korupsinya, tetapi pada cara berpikir yang melahirkannya.

KEHEBATAN SISTEM KEDOKTERAN NABI MUHAMMAD (THIBB NABAWI) DALAM MENYEMBUHKAN WABAH PENYAKIT: PERSPEKTIF AL-QUR’AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, ILMU KEDOKTERAN, DAN ILMU FARMASI (FARMAKOLOGI)

Mental koruptif muncul ketika seseorang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama. Amanah tidak lagi menjadi sebuah tanggung jawab, tetapi sebagai kesempatan untuk mencari keuntungan. Pelan-pelan, jabatan berubah dari ruang pengabdian menjadi alat memperkaya diri, dan ketidakjujuran pun mulai dianggap hal yang biasa.

Data Memprihatinkan Korupsi Daerah

Jika kita melihat data, masalah ini masih sangat serius. KPK mencatat sekitar 51 persen kasus korupsi terjadi di lingkungan Pemerintah Daerah. Artinya, lebih dari separuh perkara melibatkan pejabat di tingkat daerah, baik eksekutif maupun legislatif.

Hal yang sama juga terjadi pada pengelolaan dana desa. Dalam satu dekade terakhir, tercatat ratusan kasus korupsi dengan hampir seribu pelaku. Banyak di antaranya berasal dari aparat desa sendiri. Padahal, dana desa seharusnya digunakan untuk membangun desa dan mengurangi kemiskinan. Namun ketika diselewengkan, yang hilang adalah harapan masyarakat.

Dari sini kita melihat bahwa korupsi tidak lagi hanya berada di tingkat atas, tetapi sudah sampai ke akar rumput. Ini menunjukkan bahwa krisis integritas kita cukup serius. Seharusnya, perangkat desa menjadi pelayan masyarakat, bukan justru sebaliknya.

Di sisi lain, masyarakat juga sedang menghadapi tekanan ekonomi. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan semakin tinggi, dan banyak keluarga masih berjuang untuk hidup layak. Karena itu, setiap rupiah uang negara seharusnya benar-benar dijaga dan digunakan untuk kepentingan rakyat.

SISTEM BELADIRI RASULULLAH TANPA SENJATA PERSPEKTIF AL-QUR’AN, HADITS, DAN ILMU BELADIRI

Dampak Buruk Pengkhianatan Amanah

Pada akhirnya, korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah publik. Uang yang diselewengkan berarti berkurangnya layanan kesehatan, terhambatnya pembangunan, dan hilangnya kesempatan pendidikan bagi yang membutuhkan.

Lebih jauh lagi, korupsi juga mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Padahal, kepercayaan adalah fondasi penting dalam pembangunan. Tanpa kepercayaan, kebijakan yang baik sekalipun akan sulit berjalan dengan baik.

Revolusi Integritas Melalui Hijrah

Hijrah yang dicontohkan Rasulullah Saw bukan hanya perubahan simbol atau penampilan, tetapi perubahan karakter dan integritas. Karena itu, Indonesia hari ini membutuhkan hijrah dari budaya koruptif menuju budaya amanah.

Perubahan ini harus dimulai dari semua lapisan. Pemimpin perlu mendahulukan kepentingan rakyat. Aparatur sipil negara harus bekerja dengan jujur dan berintegritas. Kepala desa harus menjaga setiap rupiah dana publik. Guru dan orang tua juga perlu menanamkan nilai kejujuran sejak dini.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58).

9 JEBAKAN WAKTU YANG MEMBUAT KITA MERUGI

Ayat ini menegaskan bahwa amanah menjadi fondasi kehidupan sosial. Ketika kita menjaga amanah, keadilan tumbuh. Sebaliknya, ketika kita mengkhianati amanah, kerusakan meluas.

Muharam hadir setiap tahun sebagai pengingat. Namun, kita tidak bisa memaknai pergantian waktu tanpa mengubah diri. Karena itu, bangsa ini membutuhkan revolusi integritas, bukan sekadar membangun fisik yang megah. Para pengelola menentukan masa depan Indonesia melalui kualitas moral yang mereka miliki.

Kesimpulannya, kita perlu berhijrah dari mental koruptif menuju budaya amanah sebagai kebutuhan paling mendesak hari ini. Mari kita jadikan Muharam tahun ini sebagai titik balik untuk memajukan bangsa. (kareemustofa)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.