SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Kemerdekaan dan Keikhlasan

Kemerdekaan dan Keikhlasan

Kemerdekaan dan Keikhlasan
Kemerdekaan dan Keikhlasan

 

SURAU.CO – Kemerdekaan adalah anugerah yang tidak ternilai. Namun, pada kenyataannya, sebagian masyarakat masih memandang kemerdekaan dengan rasa Kemerdekaan dan Keikhlasanpesimis. Kemerdekaan sering diukur hanya dari sisi duniawi, terutama ketika menyaksikan korupsi yang terus terjadi di antara sebagian orang yang diberi amanah oleh rakyat. Silih berganti pemegang amanah datang, tetapi praktik korupsi seolah tidak pernah benar-benar berhenti.

Meskipun demikian, janganlah kita melupakan nikmat kemerdekaan yang telah Alloh anugerahkan. Kita masih dapat hidup di tanah kelahiran, menghirup udara yang bebas, beribadah dengan tenang, bekerja, belajar, dan saling berkomunikasi dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Negeri ini ibarat sebuah lumbung padi. Ketika ada tikus-tikus yang menggerogoti isinya, bukan berarti lumbungnya yang harus dibakar. Yang harus diburu adalah tikus-tikusnya agar lumbung tetap menjadi sumber kehidupan bagi semua. Demikian pula dengan bangsa ini. Jangan karena ulah segelintir orang, kita kehilangan harapan terhadap negeri sendiri.

Namun ada pelajaran yang lebih dalam. Jangan sampai setelah tikus-tikus itu tiada, justru kita berubah menjadi tikus yang baru. Jangan sampai ketika belum memiliki kesempatan kita mengecam korupsi, tetapi ketika memperoleh jabatan dan kekuasaan kita melakukan hal yang sama.

Dasar Laut

Makna perjuangan dan Keikhlasan

Jika perjuangan hanya didorong oleh harapan memperoleh materi, jabatan, atau keuntungan pribadi, maka hakikatnya kita tidak jauh berbeda dengan mereka yang menyalahgunakan amanah. Perbedaannya hanyalah kesempatan. Keikhlasan adalah berjuang karena kebenaran, demi kemaslahatan umat, dan mengharap rida Allah, bukan karena imbalan dunia.

Alloh SWT, berfirman:

«”Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)»

Dan Rosululloh SAW bersabda:

«”Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Keyakinan Menyimpang Merusak Rumah Tangga Muslim

Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari penjajahan hawa nafsu, keserakahan, dan kepentingan diri. Begitu pula keikhlasan adalah kemerdekaan hati, ketika seseorang tetap berbuat baik walaupun tidak dipuji, tidak diberi kedudukan, dan tidak memperoleh keuntungan apa pun selain mengharap ridho Alloh.

Semoga kita menjadi insan yang mampu menjaga kemerdekaan dengan amanah dan mengisi perjuangan dengan keikhlasan, sehingga negeri ini tidak hanya merdeka secara lahir, tetapi juga mulia dalam akhlak dan batin.

 

 


Safar tanggal 16 sampai 30

Memasuki pertengahan hingga akhir bulan Safar, perjalanan waktu mengajarkan bahwa kehidupan terus bergerak. Hari-hari yang telah berlalu tidak akan kembali, sedangkan hari-hari yang akan datang masih menjadi rahasia Alloh.

Pendapatan

Safar bukanlah bulan kesialan sebagaimana anggapan masyarakat jahiliah dahulu. Rosululloh SAW telah meluruskan keyakinan tersebut dengan menolak anggapan adanya kesialan yang melekat pada bulan Safar. Yang membawa manfaat dan mudarat hanyalah Alloh SWT.

Hari ke-16 hingga hari ke-30 Safar adalah kesempatan untuk mengevaluasi diri. Sudahkah lisan dijaga dari dusta? Sudahkah hati dibersihkan dari iri, dengki, dan kesombongan? Dan Sudahkah amanah dijalankan dengan penuh kejujuran?

Kita sering menghitung usia, tetapi lupa menghitung amal. Kita sibuk mengejar dunia, tetapi lalai mempersiapkan bekal menuju akhirat. Padahal setiap detik adalah bagian dari perjalanan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Safar mengajarkan bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya umur, melainkan dari keberkahan waktu yang diisi dengan iman, ilmu, amal saleh, serta akhlak yang mulia.

Bila pada awal Safar kita memohon perlindungan kepada Alloh, maka pada penghujungnya marilah kita memohon agar hati tetap istiqamah, rezeki diberkahi, keluarga dijaga, dan akhir kehidupan ditutup dengan husnul khotimah.

Semoga sisa hari-hari di bulan Safar menjadi kesempatan memperbanyak istighfar, mempererat silaturahmi, menolong sesama, dan semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT.

Karena pada akhirnya, yang akan menemani kita bukan harta, jabatan, atau pujian manusia, melainkan amal yang ikhlas karena Alloh.

“Ya Alloh, jadikan setiap hari yang Engkau berikan lebih baik daripada hari sebelumnya, ampunilah dosa-dosa kami, lapangkan hati kami untuk menerima kebenaran, dan wafatkan kami dalam keadaan beriman.” Wallāhu a’lam bish-shawāb. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.