SURAU.CO – Di dasar laut yang tak tersentuh pandangan,
terhampar jalan-jalan kehidupan
yang begitu indah,
tertata,
teratur,
dan dinamis.
Yang besar tidak menindas yang kecil,
yang kecil tidak iri kepada yang besar.
Yang gemuk,
yang kurus,
yang keras,
yang lembut,
masing-masing hidup
menurut ukuran yang telah Alloh tetapkan.
Gelap bukan penghalang,
terang bukan tujuan.
Sebab mereka mengenal Rabb-nya,
bukan sekadar cahaya.
Arus mengalir tanpa membangkang,
ombak bergerak tanpa membantah,
karang berdiri tanpa kesombongan,
ikan berenang tanpa melampaui batas.
Semuanya saling
asah, asih, dan asuh,
menjadi mata rantai kehidupan
yang saling menguatkan,
bukan saling menghancurkan.
Alloh berfirman:
«”Tidaklah Kami menciptakan sesuatu melainkan menurut ukuran.”
(QS. Al-Qamar: 49).»
Dan Dia juga berfirman:
«”Matahari beredar pada tempat peredarannya… dan bulan telah Kami tetapkan manzilah-manzilahnya… Masing-masing beredar pada garis edarnya.”
(QS. Yasin: 38–40).»
Firman-Nya lagi:
«”Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Alloh bersujud siapa saja yang di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan melata, dan banyak manusia.”
(QS. Al-Hajj: 18).»
Rosululloh SAW bersabda:
«”Sesungguhnya Alloh mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. al-Baihaqi).»
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seluruh alam adalah tentara Alloh yang tunduk kepada perintah-Nya, sedangkan manusia diberi pilihan: taat atau ingkar.
Ibn ‘Atha’illah As-Sakandari berkata:
“Janganlah keterlambatan datangnya apa yang engkau harapkan membuatmu berputus asa, sebab Alloh telah menjamin apa yang dipilih-Nya untukmu, bukan apa yang engkau pilih untuk dirimu.”
Maka dasar laut mengajarkan kepada manusia:
bukan tentang dalamnya samudra,
tetapi tentang dalamnya ketaatan.
Bukan tentang gelapnya lautan,
tetapi tentang terang yang lahir dari kepatuhan.
Seluruh makhluk menjalani sunnatulloh tanpa protes,
sementara manusialah yang sering melawan
meski telah diberi akal dan petunjuk.
Wahai jiwa,
belajarlah kepada penghuni dasar laut.
Mereka tidak mengenal riya’,
tidak mengenal kesombongan,
tetapi seluruh hidupnya menjadi tasbih.
“Di dasar laut, aku melihat bukan sekadar kehidupan,
melainkan cermin kepatuhan seluruh makhluk kepada Alloh.
Semoga manusia mengambil pelajaran sebelum kembali kepada-Nya.”
“Hidup Tanpa Pesanan”
Ada yang lahir di tengah kemewahan,
ada yang membuka mata di antara kesederhanaan.
Ada yang sehat,
ada yang membawa ujian sejak pertama.
Tak satu pun dari semua itu
pernah kita pesan.
Kita tidak memilih
siapa ayah dan ibu kita,
di negeri mana kita dilahirkan,
warna kulit,
bahasa,
bahkan detik pertama kita menghirup udara.
Semuanya adalah ketetapan Alloh,
bukan hasil pilihan manusia.
Namun setelah kehidupan diberikan,
manusia sering bertindak
seolah-olah ia adalah pemilik segalanya.
Ia memesan kemuliaan,
tetapi enggan menempuh jalan takwa.
Ia menginginkan keberkahan,
tetapi melupakan kejujuran.
Ia berharap surga,
tetapi lalai mempersiapkan bekalnya.
Alloh berfirman:
«”Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)»
Hidup ini bukanlah pesanan,
melainkan amanah.
Bukan untuk diprotes,
tetapi untuk disyukuri.
Bukan untuk dibandingkan,
tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Rosululloh SAW bersabda:
«”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh nikmat ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)»
Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh berkata:
«”Kebahagiaan seorang hamba terletak pada keridaannya terhadap ketetapan Alloh.”»
Maka jangan habiskan umur
untuk menyesali apa yang tidak pernah kita pesan.
Gunakanlah umur
untuk memperbaiki apa yang telah Alloh titipkan.
Karena pada akhirnya,
Alloh tidak akan bertanya
mengapa engkau tidak menjadi orang lain.
Tetapi Alloh akan meminta pertanggungjawaban
atas amanah hidup yang telah diberikan kepadamu.
Hidup tanpa pesanan adalah bukti kasih sayang Alloh.
Kita tidak memilih untuk dilahirkan,
tetapi kita diberi kesempatan untuk memilih
menjadi hamba yang bersyukur
atau hamba yang mengingkari nikmat-Nya.
Semoga setiap hembusan napas,
setiap langkah,
dan setiap akhir perjalanan,
menjadi jawaban terbaik
atas amanah kehidupan
yang tidak pernah kita pesan,
namun harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Alloh SWT. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
