SURAU.CO – Tanggal 10 Dzulhijjah telah berlalu. Takbir mulai mereda, hewan qurban telah disembelih, dan manusia kembali pada rutinitas kehidupannya.
Namun sesungguhnya, pertanyaan terbesar bukanlah:
“Sudahkah kita berqurban?”
Melainkan:
“Sudahkah dalam diri kita lahir jiwa Ismail?”
Nabi Ismail bukan hanya sosok anak yang taat kepada ayahnya.
Ia adalah lambang keikhlasan total kepada kehendak Alloh SWT.
Ketika perintah datang, beliau tidak memberontak.
Tidak pula bertanya tentang keuntungan dunia.
Beliau justru berkata dengan penuh ketundukan:
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kalimat itu bukan sekadar sejarah
Ia adalah cermin bagi manusia sepanjang zaman. Hari ini banyak manusia mampu menjadi “Ibrahim” dalam ucapan,
tetapi belum tentu mampu menjadi “Ismail” dalam pengorbanan.
Sebab menjadi jiwa Ismail berarti:
rela mengalahkan ego,
rela memotong kesombongan,
rela meninggalkan hawa nafsu, rela taat meski hati belum sepenuhnya mengerti.
Dalam hakikat kehidupan, “penyembelihan” terbesar bukanlah pada hewan qurban, tetapi pada sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia.
Dari sisi syariat, qurban adalah ibadah.
Dari sisi hakikat, qurban adalah pendidikan jiwa.
Dan dari sisi makrifat, qurban adalah perjalanan mendekat kepada Alloh SWT dengan mematikan kesombongan diri.
Sedangkan dalam kehidupan modern dan teknologi, manusia kini hidup di era yang serba cepat:
cepat informasi,
cepat penilaian,
cepat amarah,
cepat merasa paling benar.
Namun jiwa Ismail mengajarkan ketenangan, kepasrahan, dan adab terhadap ketentuan Alloh SWT.
Teknologi dapat mempercepat dunia,
tetapi hanya keikhlasan yang mampu menenangkan jiwa.
Maka setelah 10 Dzulhijjah berlalu, mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah hati ini sudah ikhlas?
Apakah ego masih ingin menang sendiri?
Serta apakah kita mampu menerima takdir dengan sabar?
Apakah kita sanggup menjadi “Ismail” ketika kehidupan meminta pengorbanan?
Karena belum tentu yang paling banyak berbicara tentang agama adalah yang paling dekat kepada Alloh.
Bisa jadi yang paling dekat justru mereka yang diam, sabar, ikhlas, dan rela mengorbankan egonya demi ridho-Nya.
Semoga qurban tidak berhenti pada darah dan daging, tetapi tumbuh menjadi cahaya jiwa yang lembut, sabar, dan tunduk kepada Alloh SWT.Aamiin.
Kisah Hikmah “Belajar Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim dalam Kehidupan”
Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Rahmat. Ia dikenal rajin belajar, cepat memahami pelajaran, dan pandai berbicara.
Namun, ada satu hal yang sering dilupakan oleh dirinya: adab.
Ketika guru berbicara, ia sibuk memotong pembicaraan. Saat orang tua memberi nasihat, ia merasa dirinya lebih tahu karena banyak membaca dari telepon genggam dan internet. Ia mengejar ilmu, tetapi lupa menjaga hati.
Suatu hari Rahmat datang kepada seorang kiai tua di surau kecil pinggir sawah.
“Guru,” katanya, “mengapa ilmu saya terasa sempit, padahal saya belajar siang malam?”
Sang kiai tersenyum lalu menunjuk sebuah kendi berisi air.
“Air itu jernih,” ujar beliau, “tetapi jika wadahnya kotor, maka airnya ikut tercemar.
Begitu pula ilmu. Ilmu yang masuk ke hati tanpa adab akan kehilangan cahaya.”
Rahmat terdiam.
Kiai itu kemudian berkata:
“Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, seorang pencari ilmu diajarkan bahwa sebelum pandai berbicara, ia harus belajar mendengar.
Sebelum ingin dihormati, ia harus belajar menghormati.
Dan sebelum ingin menjadi orang alim, ia harus membersihkan niatnya.”
Pemuda itu mulai berubah.
Ia belajar datang lebih awal ketika mengaji. Ia mendengarkan tanpa menyela. Ia mulai membantu orang tuanya tanpa diminta. Ia tidak lagi memamerkan ilmu di media sosial hanya untuk dipuji manusia.
Hari demi hari, Rahmat merasakan sesuatu yang berbeda. Ilmu yang dahulu terasa berat kini menjadi ringan. Hatinya lebih tenang.
Kata-katanya lebih lembut. Dan orang-orang mulai nyaman berada di dekatnya.
Suatu malam ia kembali bertanya kepada sang kiai:
“Guru, apakah ini yang dinamakan berkah ilmu?”
Sang kiai menjawab perlahan:
“Berkah ilmu bukan hanya banyaknya hafalan, tetapi berubahnya akhlak.
Orang berilmu tanpa adab ibarat lampu terang yang membakar dirinya sendiri.
Sedangkan adab menjadikan ilmu sebagai penerang bagi kehidupan.”
Rahmat menunduk haru
Sejak itu ia memahami bahwa belajar bukan sekadar mengisi pikiran, tetapi juga menata hati.
Karena ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan adab tanpa banyak bicara mampu melahirkan kemuliaan.
Nilai utama dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari memang menekankan pentingnya akhlak, ketulusan niat, penghormatan kepada guru, serta pembentukan karakter dalam proses belajar.
“Ilmu akan mudah masuk ke hati yang dipenuhi adab,
tetapi sulit menetap pada hati yang dipenuhi kesombongan.”
Dan kehidupan pun mengajarkan:
Orang yang tinggi ilmu belum tentu tinggi adabnya.
Namun orang yang tinggi adabnya, biasanya akan dimudahkan menuju kemuliaan ilmu. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
