SURAU.CO – Di tengah kehidupan modern, manusia sering kali dihadapkan pada ukuran-ukuran keberhasilan yang bersifat duniawi. Banyaknya pengikut di media sosial, tingginya jabatan, melimpahnya harta, atau pujian dari orang lain kerap dijadikan tolok ukur kesuksesan. Bahkan, tidak sedikit amal kebaikan yang dilakukan lebih karena ingin dipandang baik daripada benar-benar mengharap wajah Allah. Padahal, bagi seorang mukmin, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah penilaian manusia, melainkan ridha Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.
Allah Swt. berfirman:
«﴿وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾»
«”Dan keridaan dari Allah adalah yang lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 72).¹»
Ayat ini turun dalam konteks penyebutan berbagai kenikmatan surga. Namun, Allah menegaskan bahwa di atas seluruh kenikmatan tersebut masih ada nikmat yang jauh lebih besar, yaitu ridha-Nya. Imam Ibn Kathīr menjelaskan bahwa apabila Allah telah meridhai hamba-Nya, maka Dia tidak akan murka kepadanya selama-lamanya.² Dengan demikian, ridha Allah merupakan puncak kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan apa pun.
Sayangnya, kehidupan modern sering mendorong manusia mengejar pengakuan. Budaya pencitraan membuat sebagian orang lebih sibuk memperlihatkan amal daripada memperbaiki niat. Di era digital, seseorang dapat dengan mudah menampilkan aktivitas ibadahnya kepada ribuan orang. Tidak sedikit yang kemudian merasa kecewa ketika amalnya tidak mendapatkan perhatian atau pujian. Kondisi ini menjadi ujian keikhlasan yang harus diwaspadai oleh setiap muslim.
Islam mengajarkan bahwa amal saleh hanya bernilai apabila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar di hadapan manusia dapat menjadi ringan di sisi Allah. Sebaliknya, amal yang kecil tetapi dilakukan dengan hati yang tulus dapat menjadi sebab datangnya rahmat dan ridha-Nya.
IstiqYang Paling Aku Harapkan: Ridha Allah, Bukan Pujian Manusiaomah dalam Ketaatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
«”Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.”³»
Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas. Allah tidak membebani manusia untuk menjadi yang paling banyak amalnya, tetapi memerintahkan agar tetap istiqamah dalam ketaatan. Istiqamah adalah bukti kejujuran iman. Seseorang yang terus menjaga salat berjamaah, membaca Al-Qur’an setiap hari, bersedekah sesuai kemampuan, serta menjaga lisannya dari keburukan, meskipun sederhana, lebih dicintai Allah daripada amal besar yang hanya dilakukan sesekali demi mendapat pujian.
Lebih jauh lagi, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa amal bukanlah satu-satunya sebab seseorang masuk surga. Beliau bersabda:
«لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ»
«”Tidak ada seorang pun yang akan masuk surga karena amalnya.”»
Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
«وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ»
«”Termasuk aku juga tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.”⁴»
Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam beragama. Seorang muslim harus bersungguh-sungguh dalam beramal, tetapi tidak boleh merasa bangga dengan amalnya. Sebab, amal hanyalah sebab, sedangkan keselamatan hakiki berasal dari rahmat Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap rendah hati (tawaduk), memperbanyak istighfar, dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Para ulama salaf adalah teladan dalam menjaga keikhlasan. Mereka beramal dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap merasa takut amalnya tidak diterima.
Allah menggambarkan sifat orang-orang beriman
«﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ﴾»
«”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedangkan hati mereka merasa takut.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 60).⁵»
Menurut penjelasan Rasulullah ﷺ kepada Aisyah ra., ayat ini bukan tentang pelaku maksiat, melainkan orang-orang yang rajin salat, berpuasa, dan bersedekah, tetapi tetap khawatir amal mereka tidak diterima oleh Allah.⁶ Inilah akhlak seorang mukmin sejati: banyak beramal, tetapi sedikit merasa berjasa.
Pada akhirnya, kehidupan ini bukanlah perlombaan mencari tepuk tangan manusia. Semua pujian akan berakhir ketika manusia kembali ke dalam kuburnya. Yang tersisa hanyalah amal yang diterima dan rahmat Allah yang mengantarkan ke surga.
Karena itu, doa yang seharusnya senantiasa kita panjatkan bukanlah agar dikenal sebagai orang yang paling saleh, paling alim, atau paling dermawan. Akan tetapi:
“Ya Allah, jangan biarkan aku lelah untuk kembali kepada-Mu. Jangan biarkan aku bangga dengan amal yang sedikit. Jangan jadikan aku mencari pujian manusia. Terimalah amal-amalku, ampunilah dosa-dosaku, dan wafatkanlah aku dalam keadaan Engkau meridhai diriku.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas, istiqamah dalam ketaatan, memperoleh rahmat-Nya, dan akhirnya meraih ridha-Nya. Sebab, ridha Allah adalah kemenangan terbesar yang akan mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Āmīn. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
