SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Jenazah Berbicara dan Berjalan

Jenazah Berbicara dan Berjalan

Jenazah Berbicara dan Berjalan
Jenazah Berbicara dan Berjalan

 

SURAU.CO – Jenazah Berbicara dan Berjalan; Tubuh itu telah terbujur kaku. Kain kafan membungkusnya dengan sederhana. Tidak ada lagi pakaian kebesaran, pangkat, jabatan, ataupun gelar yang melekat. Yang tersisa hanyalah amal dan rahmat Alloh.

Namun, seandainya jenazah itu dapat berbicara, mungkin ia akan berkata,

“Wahai manusia yang masih hidup, dahulu aku seperti kalian. Aku sibuk mengejar dunia, menghitung harta, membanggakan diri, bahkan terkadang menunda taubat. Kini aku menyadari bahwa bekal terbaik bukanlah apa yang kusimpan, melainkan apa yang kuamalkan.”

Dan seandainya jenazah itu dapat berjalan, niscaya langkahnya bukan menuju pasar, bukan menuju istana, bukan pula menuju tempat kemegahan. Langkahnya hanya menuju masjid, majelis ilmu, tempat sedekah, dan setiap amal yang dahulu pernah ia lalaikan.

Etika Komunikasi Digital Dalam Perspektif Islam: Memanfaatkan Siaran Langsung (Live Streaming) Sebagai Sarana Dakwah Dan Silaturahim

Bahwa Alloh SWT berfirman:

«كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Kullu nafsin dzā’iqatul maut.

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Al-Qur’an Ali ‘Imran: 185)»

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

Isteri Shalehah: Pilar Ketahanan Keluarga Dan Peradaban Islam

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Aktsirū dzikra hādzimil-ladzdzāt.

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”»

Hadis ini mengajarkan bahwa mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar hidup menjadi lebih bijaksana, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Alloh.

Kenangan yang diwariskan orang yang masih Hidup

Sesungguhnya, “jenazah berbicara dan berjalan” bukanlah kisah tentang mayat yang hidup kembali, melainkan sebuah perumpamaan. Jenazah itu berbicara melalui pelajaran yang ditinggalkannya. Ia berjalan melalui jejak amal, nasihat, ilmu, dan kenangan yang diwariskan kepada orang-orang yang masih hidup.

Hikmah “Tanggal 21 sampai 30 Muharram”

Semoga sebelum tubuh kita benar-benar menjadi jenazah, hati kita telah hidup dengan iman, lisan kita basah oleh zikir, akal kita dipenuhi ilmu, dan tangan kita ringan untuk berbuat kebaikan.

Karena pada akhirnya, setiap langkah kehidupan akan berhenti, tetapi amal saleh akan terus berjalan hingga menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

 

 

 


Belajar Bahasa Angin: hikmah yang mau belajar

Angin tak pernah memiliki huruf, tetapi semua makhluk memahami pesannya. Ia datang tanpa mengetuk pintu, pergi tanpa berpamitan, namun selalu meninggalkan hikmah bagi siapa saja yang mau belajar.

Belajar bahasa angin bukanlah mempelajari bunyinya, melainkan mempelajari isyaratnya. Ketika angin sepoi-sepoi berembus, ia mengajarkan kelembutan. Ketika badai datang menerjang, ia mengajarkan keteguhan. Dan Ketika angin berhenti, ia mengajarkan kesabaran menunggu waktu yang telah ditentukan Alloh.

Daun-daun bergoyang bukan karena ingin dipuji, melainkan karena taat kepada sunnatulloh. Pepohonan tidak memarahi angin yang mengguncangnya. Justru akar mereka semakin menghunjam ke bumi. Demikian pula manusia; ujian bukan untuk merobohkan, tetapi untuk menguatkan iman dan kebijaksanaan.

Alloh berfirman (dengan tafsir):

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira.” (QS. Ar-Rum: 46).

Angin mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat. Ia tidak tampak oleh mata, tetapi pengaruhnya terasa. Begitulah ilmu, adab, doa, dan keikhlasan; sering kali tidak terlihat, namun mampu mengubah kehidupan.

Maka belajarlah bahasa angin. Berbicaralah ketika membawa kesejukan. Diamlah ketika kata-kata hanya menambah badai. Bergeraklah ketika kebaikan memanggil. Berhentilah ketika kesombongan mulai menguasai hati.

Orang yang memahami bahasa angin akan lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak merenung daripada menyalahkan, dan lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Semoga kita menjadi hamba yang mampu membaca tanda-tanda kebesaran Alloh, sebagaimana angin yang senantiasa bertasbih kepada-Nya, membawa rahmat, hikmah, dan pelajaran bagi seluruh alam. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.