SURAU.CO – Berjalan dalam kehidupan bukan berarti menundukkan diri karena rendah diri, dan bukan pula mendongakkan dada karena kesombongan.
Seorang mukmin berjalan dengan kepala tegak karena yakin kepada Allah, namun tetap menundukkan hati dalam ketawadhuan.
Janganlah hidup dipenuhi rasa hina sehingga kehilangan keberanian berbuat baik. Namun jangan pula dipenuhi kesombongan sehingga lupa bahwa setiap nikmat berasal dari Alloh. Kemuliaan seorang hamba terletak pada iman, ilmu, akhlak, dan ketakwaannya.
Orang yang menundukkan hati di hadapan Alloh akan mampu menegakkan kepalanya di hadapan manusia. Sebaliknya, orang yang membusungkan dada karena merasa hebat akan mudah direndahkan oleh waktu.
Alloh mengajarkan keseimbangan: rendah hati tanpa merasa rendah, percaya diri tanpa menjadi sombong, dan kuat tanpa merendahkan orang lain.
Landasan Al-Qur’an
- Surah Al-Isra ayat 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablughal-jibāla ṭūlā.
Janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh.
Sungguh, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
- Surah Luqman ayat 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Wa lā tuṣa”ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr.
Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Hadis Rasulullah SAW
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rosululloh SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Lā yadkhulul-jannata man kāna fī qalbihi mithqālu dharratin min kibr.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)
Pandangan Ulama
Al-Ghazali
menjelaskan bahwa tawadhu’ bukanlah merendahkan diri secara berlebihan, melainkan menerima kebenaran dan menghormati sesama tanpa kesombongan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
menerangkan bahwa kemuliaan seorang mukmin lahir dari keseimbangan antara keteguhan jiwa dan kerendahan hati kepada Alloh.
Akhir kata
Berjalanlah dengan langkah yang mantap, bukan karena merasa paling hebat, melainkan karena yakin Alloh selalu membersamai.
Jangan menundukkan kepala karena putus asa, dan jangan membusungkan dada karena merasa mulia. Sebab, kemuliaan sejati bukan tampak pada cara melangkah, tetapi pada hati yang dipenuhi iman, akhlak, dan ketakwaan.
Fakta Hidup “Membelah Udara dengan Tangan”
Membelah udara dengan tangan adalah kiasan tentang seseorang yang tampak sibuk membentuk arah, menggiring perhatian, dan memainkan opini, padahal yang dipegang hanyalah ruang kosong.
Ketika opini terus diulang, sebagian orang dapat menganggapnya sebagai fakta, meskipun belum didukung bukti yang benar.
Di zaman ini, menggiring opini lebih mudah daripada mencari kebenaran.
Kalimat yang lantang sering mengalahkan data, sementara emosi lebih cepat diterima daripada tabayun.
Padahal, setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dosa tidak hanya lahir dari perbuatan, tetapi juga dari lisan dan tulisan yang menyesatkan.
Alloh SWT berfirman
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu.” QS. Al-Hujurat [49]: 6
Alloh juga berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” QS. Al-Isra’ [17]: 36
Rosululloh SAW bersabda:
«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim)
Dalam hadis lain beliau bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Ibnu Katsir, ayat tentang tabayun mengajarkan agar seorang mukmin tidak tergesa-gesa menerima dan menyebarkan berita tanpa penelitian, karena penyesalan sering berawal dari keputusan yang dibangun di atas informasi yang keliru.
Sementara Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa lisan adalah cermin hati. Bila hati dipenuhi kejujuran, lisan akan menjaga kebenaran. Sebaliknya, jika hati dikuasai hawa nafsu, lisan mudah memutarbalikkan kenyataan.
Renungan
Membelah udara dengan tangan tidak akan mengubah arah angin. Demikian pula, menggiring opini tidak akan mengubah kebenaran di sisi Alloh.
Mungkin manusia dapat dikelabui oleh kata-kata, tetapi Allah mengetahui isi hati, niat, dan hakikat setiap ucapan.
Makna
Jangan menjadikan opini sebagai pengganti fakta.
Biasakan tabayun sebelum berbicara atau menyebarkan berita.
Jagalah lisan dan tulisan, karena keduanya akan menjadi saksi di hari hisab.
Kebenaran tidak membutuhkan kebohongan untuk menang, tetapi membutuhkan kejujuran untuk ditegakkan.
Akhir kata
“Membelah udara dengan tangan hanyalah gerakan yang tampak hebat di mata manusia. Namun membelah kebatilan dengan kejujuran adalah amal yang bernilai di sisi Alloh. Jangan menggiring opini hingga melupakan dosa, sebab setiap kata akan kembali kepada pengucapnya sebagai pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam.” (Bambang JB.)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
