SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Hewan Bersholawat

Hewan Bersholawat

Hewan Bersholawat
Hewan Bersholawat

SURAU.CO – Burung – burung berkicau menyambut fajar, seakan bertasbih tanpa lelah. Angin berembus menggerakkan dedaunan, mengalunkanHewan Bersholawat dzikir yang tak terdengar telinga.

Semut berjalan dalam barisan,
tak pernah lalai menjalankan amanah.
Ikan berenang di lautan luas,
memuji Alloh di kedalaman yang tak terlihat.

Gunung berdiri tegak dalam diam,
langit membentang dengan ketundukan.
Matahari, bulan, dan bintang beredar,
semuanya tunduk pada perintah Tuhan.

Manusia diberi akal dan hati,
namun sering kalah oleh hawa nafsu.
Saat panggilan sholat menggema,
sebagian masih larut dalam tontonan, pertandingan, urusan dunia, atau kesibukan lainnya, hingga melalaikan kewajiban.

Padahal dunia hanyalah persinggahan,
sedang akhirat adalah tujuan.
Hewan tak memiliki beban syariat,
namun seluruh alam memuji kebesaran-Nya.

Padang Mahsyar: Saat Seluruh Amal Menjadi Nyata: Telaah Ilmiah terhadap QS. Yunus Ayat 30 Berdasarkan Al-Qur’an, Tafsir Al-Muyassar, dan Penjelasan Ulama

Alloh berfirman:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’ [17]: 44)

Dan Alloh berfirman:

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Alloh bersujud siapa yang ada di langit dan di bumi, juga matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan melata, dan banyak di antara manusia.”
(QS. Al-Hajj [22]: 18)

Rosululloh SWT bersabda:

JULAIBIB

“Sesungguhnya Alloh mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. al-Baihaqi)

Maka jangan sampai
burung lebih rajin bertasbih daripada lisan kita, semut lebih taat daripada langkah kita,
dan gunung lebih kokoh dalam ketundukan daripada hati kita.

Mari jadikan dunia sebagai ladang amal,
hiburan sebagai pelengkap, bukan penguasa hati, agar setiap langkah menjadi dzikir,
setiap napas menjadi syukur,
dan setiap kehidupan bermuara pada ridha Alloh SWT.

 

 

Keyakinan Menyimpang Merusak Aqidah: Menjaga Kemurnian Tauhid sebagai Pondasi Kehidupan Seorang Muslim

 


“Soto Siti” Bukan Sekadar Semangkuk Makanan

 

Orang menyebutnya Soto Siti,
semangkuk hidangan yang menghangatkan tubuh.
Namun di balik namanya,
tersimpan renungan yang menghangatkan jiwa.

“Soto Siti” bukan sekadar makanan,
melainkan cermin kehidupan.
Setiap bumbu adalah ilmu,
setiap kuah adalah kasih sayang,
dan setiap suapan mengingatkan manusia
agar tidak melupakan Sang Pemberi rezeki.

Alloh SWT. berfirman:

«”Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)»

Semangkuk soto menjadi nikmat
bukan karena mahal harganya,
melainkan karena halal rezekinya,
bersih cara memperolehnya,
dan penuh syukur ketika menikmatinya.

Rosululloh SAW bersabda:

«”Sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)»

Jangan biarkan makanan mengenyangkan perut, tetapi mengosongkan hati dari dzikir.
Jangan biarkan lidah memuji rasa,
namun lupa memuji Alloh.

Alloh juga mengingatkan:

«”Maka makanlah dari rezeki yang telah diberikan Alloh kepadamu yang halal lagi baik, dan bersyukurlah atas nikmat Alloh.”
(QS. An-Nahl [16]: 114)»

Soto Siti mengajarkan,
bahwa kehidupan yang sederhana
lebih mulia daripada kemewahan yang dipenuhi kesombongan.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa makanan yang halal akan menerangi hati, sedangkan makanan yang diperoleh dengan cara yang batil dapat mengeraskan hati dan menghalangi keberkahan ibadah.

Maka ketika semangkuk Soto Siti terhidang,
ingatlah bukan hanya rempahnya,
tetapi juga asal rezekinya,
bukan hanya nikmatnya,
tetapi juga amanahnya.

Semoga setiap suapan menjadi syukur,
setiap rezeki menjadi ibadah,
setiap kenyang menjadi kekuatan untuk taat kepada Alloh,
dan setiap langkah membawa kita menuju ridho-Nya.

Karena pada akhirnya, bukan semangkuk soto yang akan ditanya, melainkan bagaimana kita mencari, mensyukuri, dan menggunakannya di jalan Alloh. (Bambang JB: Penulis Indonesia)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.