SURAU.CO – Di sebuah kampung yang damai, hiduplah dua orang yang berbeda jalan hidupnya. Yang pertama rajin beribadah. Bibirnya basah oleh doa, langkahnya ringan menuju tempat ibadah, dan hatinya selalu berusaha mendekat kepada Alloh.
Yang kedua jarang berdoa. Ia bahkan sering lalai terhadap kewajiban agamanya.
Namun setiap hari ia tetap bangun pagi, masih bisa menghirup udara segar, menikmati sinar matahari, dan merasakan nikmat makanan yang tersedia.
Suatu hari, orang pertama bertanya kepada seorang ulama tua, “Guru, mengapa Alloh masih memberi rezeki, kesehatan, dan kesempatan hidup kepada orang yang jarang berdoa bahkan lalai dalam agamanya?”
Sang ulama tersenyum lalu menunjuk ke langit.
“Lihatlah matahari itu. Apakah ia hanya menyinari rumah orang yang taat?”
“Tidak,” jawab murid.
“Lihatlah hujan itu.
Apakah ia hanya turun di sawah milik orang yang rajin beribadah?”
“Tidak juga.”
Ulama itu melanjutkan, “Itulah salah satu sifat kasih sayang Alloh. Rahmat-Nya di dunia meliputi semua makhluk. Yang berdoa maupun yang tidak, yang taat maupun yang lalai, tetap diberi kesempatan hidup, diberi rezeki, dan diberi jalan untuk kembali kepada-Nya.”
Murid itu mengangguk, tetapi masih bertanya,
“Kalau begitu, apa gunanya berdoa dan beragama?”
Sang ulama menjawab, “Karena tujuan doa bukan sekadar meminta pemberian.
Doa adalah tanda penghambaan
Ibadah bukan untuk menambah kekuasaan Alloh, melainkan untuk memperbaiki hati manusia. Alloh tidak membutuhkan ibadah kita, tetapi kitalah yang membutuhkan petunjuk-Nya.”
Kemudian beliau menambahkan,
“Yang perlu kita renungkan bukan mengapa Alloh masih mengasihi mereka yang lalai. Yang perlu kita tanyakan adalah: apakah kita sudah meneladani sedikit saja kasih sayang Alloh kepada sesama?”
Sering kali manusia mudah marah ketika berbeda pendapat.
Mudah menghina ketika melihat kekurangan orang lain. Mudah menghakimi ketika melihat dosa orang lain.
Padahal Alloh yang Mahakuasa masih membuka pintu rahmat dan ampunan bagi hamba-Nya.
Maka sikap yang lebih utama adalah tetap berpegang teguh pada agama, rajin berdoa, serta memperlakukan sesama dengan kelembutan, bukan kesombongan.
Mengajak dengan hikmah, bukan dengan caci maki. Memberi teladan, bukan sekadar penilaian.
Karena boleh jadi seseorang yang hari ini jauh dari jalan Alloh, esok hari menjadi lebih dekat kepada-Nya daripada kita.
Hikmah
Rahmat Alloh di dunia diberikan kepada seluruh makhluk-Nya.
Doa dan ibadah adalah kebutuhan manusia untuk mendekat kepada Alloh.
Jangan menjadikan agama sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan lebih kuat daripada celaan.
Tugas manusia adalah berusaha dan mengajak kepada kebaikan, sedangkan hidayah adalah hak Alloh semata.
“Jika Alloh Yang Maha Pengasih masih memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berubah, maka sudah sepantasnya kita memberi ruang bagi sesama untuk belajar, bertumbuh, dan kembali kepada jalan kebaikan.”
Selintas Pena “Tanpa Kata, Tanpa Suara, Tapi Masuk Surga”
Tidak semua kebaikan lahir dari pidato yang panjang.
Tidak semua amal membutuhkan tepuk tangan manusia.
Ada tangan yang diam-diam membantu,
ada hati yang diam-diam memaafkan,
ada mata yang diam-diam menangis dalam doa, dan ada jiwa yang diam-diam menjaga keikhlasan.
Tanpa kata yang terdengar,
tanpa suara yang menggema,
namun langit mencatatnya dengan sempurna.
Seorang ibu yang bangun di sepertiga malam mendoakan anaknya.
Seorang ayah yang bekerja tanpa mengeluh demi keluarganya.
Seorang hamba yang menyembunyikan sedekahnya dari pandangan manusia.
Mereka mungkin tidak dikenal di bumi, tetapi dikenal di sisi Alloh.
Kebaikan yang paling indah sering kali lahir dalam kesunyian.
Karena keikhlasan tidak membutuhkan saksi manusia, cukup Alloh Yang Maha Melihat.
Surga bukan milik mereka yang paling banyak dipuji, melainkan bagi mereka yang beriman, beramal saleh, dan mengharap rahmat Alloh dengan tulus. Amal yang ikhlas dan konsisten, meskipun kecil dan tersembunyi, memiliki nilai besar di sisi-Nya.
Maka, jangan kecewa jika kebaikanmu tidak diketahui orang.
Jangan sedih jika pengorbananmu tidak disebut-sebut manusia.
Sebab mungkin jalan menuju surga bukan melalui suara yang paling keras, tetapi melalui hati yang paling ikhlas.
Tanpa kata.
Tanpa suara.
Namun Alloh mendengar, melihat, dan membalasnya dengan surga yang penuh kenikmatan. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
