SURAU.CO – Perdebatan mengenai epistem pengetahuan antara Barat dan Timur (Orientalisme vs Oksidentalisme) seolah menjadi debat kusir yang tak pernah berkesudahan. Selama berabad-abad, narasi Orientalisme menguasai geopolitik pengetahuan. Sebagaimana Edward Said menggugat, Orientalisme bukan sekadar studi akademis, melainkan sebuah upaya diskursif yang mendiskriminasi Timur sebagai yang eksotis, irasional, mistik, dan inferior, untuk menegaskan posisi Barat sebagai subjek yang rasional, modern, dan superior.
Sebagai reaksi atas hegemoni ini, lahirlah Oksidentalisme. Namun, karena kerap lahir dari luka sejarah dan trauma kolonial, Oksidentalisme sering kali terjebak dalam bias akssidental nan emosional. Ia hanya membalikkan keadaan dengan menuduh Barat sebagai peradaban yang dekaden, materialistik, dan kering secara spiritual, sembari mengagungkan Timur secara defensif.
Dalam keadaan ini, kejenuhan terjadi. Kita kerap kali terjebak dalam perang klaim kebenaran: yang satu mendiskriminasi, yang lain merespons dengan emosi. Di tengah jalan buntu ini, proyek filosofis Jacques Derrida, khususnya melalui Dekonstruksi, menawarkan sebuah jalan alternatif yang radikal. Dekonstruksi tidak hadir untuk mendamaikan keduanya secara naif, tidak pula untuk memenangkan salah satunya. Ia hadir untuk membongkar fondasi bagaimana kedua tradisi pengetahuan ini bekerja, lalu memperlihatkannya sebagai satu kesatuan tradisi pengetahuan manusia yang utuh, cair, dan luar biasa kaya.
Melampaui Dikotomi yang Biner
Peradaban Barat sekian lama dikuasai oleh obsesi akut yaitu logosentrisme, sebuah upaya untuk selalu mencari pusat yang tunggal atau kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Di saat yang bersamaan Kebiasaan kita membagi dunia ke dalam pemisahan dikotomi yang saling berlawanan selalu membenarkan upaya ini, dengan sengaja menempatkan satu pihak sebagai superior yang hebat dan pihak lain sebagai inferior yang lemah. Dalam sejarah kolonial, dikotomi yang berlawanan itu dipamerkan secara langsung, Barat danTimur, si Subjek/si Objek, Berperadaban/Primitif.
Kerangka Orientalisme bekerja dengan memposisikan diri pada hierarki yang timpang ini. Ketika Oksidentalisme lahir dan mencoba memukul balik, taktik perlawanan yang dipakainya sering kali hanyalah aksi membalikkan meja (overturning): Timur sekonyong-konyong diklaim sebagai wilayah suci nan spiritual dan Barat dikutuk sebagai peradaban nista yang bobrok. Namun, Derrida memberikan tamparan keras bahwa sekadar membalikkan posisi biner seperti itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Selama kita masih terjebak dalam lingkaran setan “Barat VS Timur”, kita sebenarnya sedang melanggengkan sistem berpikir kolonial yang sama saja: jumud.
Melalui dekonstruksi, kita diajak untuk menyadari bahwa pembatas antara Barat dan Timur ini sebenarnya hanyalah sebuah ilusi di atas kertas. Barat tidak pernah benar-benar murni, steril, atau mandiri dari pengaruh luar. Identitas “Barat yang super rasional” tidak akan akan ada tanpa adanya “Timur yang irasional” yang sengaja mereka ciptakan sebagai pembandingnya. Begitu pula sebaliknya; Oksidentalisme tidak akan pernah punya amunisi kata-kata untuk menggugat dominasi Barat jika konsep tentang “Barat” itu sendiri tidak pernah diciptakan di dalam kepala mereka. Keduanya justru saling membutuhkan, saling membentuk, dan secara diam-diam sebenarnya saling ketergantungan (interdependent).
Différance dan Jejak Pengetahuan yang Hibrida
Melalui konsep simpulannya, Différance, Derrida menunjukkan bahwa makna tidak pernah tunggal, beku, atau selesai. Makna selalu berbeda (to differ) dan selalu ditunda (to defer). Jika membawa konsep ini ke dalam artikel, kita tidak boleh lagi melihat Orientalisme dan Oksidentalisme sebagai dua balok pengetahuan yang kaku dan saling berbenturan di ruang hampa. Keduanya adalah proses pembentukan makna yang terus bergeser dan menunda kesimpulan akhir tentang apa itu “Manusia” dan “Peradaban”.
Di sinilah letak menariknya. Di dalam diskursus Orientalisme yang paling bias sekalipun, selalu ada trace (jejak) kekaguman, dependensi, dan serapan atas teks-teks serta spiritualitas Timur yang tidak bisa disembunyikan. Sebaliknya, di dalam jeritan Oksidentalisme yang paling emosional dan anti-Barat, metodologi kritik, bahasa, bahkan konseptualisasi ruang publik sering kali meminjam perangkat epistemologis dari Barat.
Pengetahuan manusia, pada dasarnya, selalu hibrida (peleburan). Tidak ada formulasi pemikiran yang benar-benar murni dari satu peradaban tanpa menyerap jejak dari peradaban yang dianggapnya sebagai yang lain.
Dinamika Pengetahuan: Kaya karena Tak Pernah Selesai
Ketika dekonstruksi berhasil melarutkan batas-batas tegas antara Orientalisme dan Oksidentalisme, hierarki superior vs inferior otomatis runtuh. Yang tersisa bukan lagi reruntuhan kehancuran, melainkan sebuah ruang epistem yang sangat luas dan inklusif. Kita dipaksa untuk melihat kedua tradisi ini bukan hanya sebagai medan perang kepentingan, melainkan sebagai sebuah jaring-jaring teks raksasa (the great text) yang saling merajut sejarah pemikiran manusia.
Melihat Orientalisme dan Oksidentalisme dari kacamata dekonstruksi Derrida adalah sebuah upaya untuk melampaui dikotomi yang terkesan biner. Tradisi pengetahuan dunia menjadi begitu kaya justru karena adanya ketegangan, dialektika, serap-menyerap, dan negosiasi makna yang tak pernah usai di antara keduanya. Barat dan Timur bukanlah dua entitas yang terpisah oleh jurang eksistensial, melainkan dua subjek yang terus bercermin satu sama lain di dalam teks besar sejarah—sebuah dialog abadi yang menolak untuk diseragamkan, namun selalu mustahil untuk dipisahkan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
