SURAU.CO – Jati diri manusia bukanlah terletak pada tingginya kedudukan, banyaknya ilmu, melimpahnya harta, atau banyaknya ibadah yang tampak oleh mata. Jati diri yang sesungguhnya adalah kemampuan mengenali diri sendiri sebagai makhluk yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
Orang yang pandai tidak perlu merendahkan yang belum mengerti. Orang yang kaya tidak perlu memandang rendah yang miskin. Serta Orang yang miskin tidak perlu iri kepada yang kaya. Orang yang agamis tidak perlu mencemooh mereka yang masih belajar memperbaiki diri. Sebab setiap manusia sedang berjalan di jalannya masing-masing menuju pemahaman dan kedewasaan hidup.
Menjadi manusia seutuhnya berarti mampu menghargai sesama tanpa melihat perbedaan status, pengetahuan, harta, maupun penampilan lahiriah. Kerendahan hati adalah pakaian terbaik yang dapat dikenakan oleh siapa saja. Semakin seseorang memahami kehidupan, semakin ia menyadari bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat berubah.
Janganlah merasa lebih tinggi karena ilmu, sebab masih banyak ilmu yang belum diketahui. Jangan merasa lebih mulia karena ibadah, sebab hanya Tuhan yang mengetahui isi hati dan tingkat keikhlasan seseorang. Jangan merasa hina karena kekurangan, sebab kemuliaan manusia tidak diukur dari banyaknya harta atau pujian manusia.
Hidup akan terasa damai ketika kita mampu memandang sesama sebagai saudara dalam kemanusiaan. Menghormati yang berbeda, membantu yang membutuhkan, serta menjaga lisan dari mencela dan menjelekkan orang lain merupakan bagian dari menjaga jati diri yang luhur.
Pada akhirnya, manusia yang utuh bukanlah manusia yang merasa paling benar, paling kaya, paling pandai, atau paling suci. Manusia yang utuh adalah mereka yang terus belajar, bersyukur, rendah hati, dan berusaha memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
“Semakin mengenal diri, semakin sedikit alasan untuk merendahkan orang lain.
Obrolan Hikmah “Manusia Mempunyai Tiga Unsur: Jasad, Jiwa, dan Ruh. Apabila Fisik adalah Manusia, Ruh Tanpa Wujud, Sedangkan Jiwa Kita Apakah Manusia Juga?”
Di sebuah perbincangan hikmah, muncul pertanyaan yang mengajak berpikir lebih dalam: “Manusia terdiri dari jasad, jiwa, dan ruh. Jika jasad adalah manusia yang tampak, ruh adalah rahasia Alloh yang tidak terlihat, lalu jiwa itu apa? Apakah jiwa juga manusia?”
Dalam pemahaman keislaman, jasad adalah bentuk lahir manusia yang dapat dilihat dan disentuh. Ruh adalah unsur kehidupan yang berasal dari perintah Alloh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa pengetahuan manusia tentang ruh sangatlah sedikit.
Adapun jiwa (nafs) berada di antara keduanya. Jiwa bukanlah tubuh yang terlihat, bukan pula ruh yang menjadi rahasia Ilahi. Jiwa adalah pusat kesadaran diri, tempat berkumpulnya keinginan, perasaan, akal, kecenderungan, dan pilihan hidup manusia.
Karena itu, jiwa bukan manusia yang berdiri sendiri. Namun jiwa adalah salah satu unsur yang membentuk kemanusiaan seseorang. Ketika orang berkata, “Aku senang,” “Aku sedih,” “Aku ingin,” maka yang banyak berbicara adalah jiwa melalui jasad yang hidup oleh ruh.
Para ulama tasawuf sering menggambarkan:
Jasad adalah kendaraan.
Jiwa adalah pengemudi yang menentukan arah.
Ruh adalah tenaga kehidupan yang membuat perjalanan dapat berlangsung.
Jika kendaraan bagus tetapi pengemudinya lalai, perjalanan menjadi berbahaya. Jika pengemudi baik tetapi kendaraan rusak, perjalanan juga terhambat. Dan tanpa tenaga kehidupan, semuanya akan berhenti.
Dari sudut hikmah dapat direnungkan:
Jasad menunjukkan bahwa kita adalah manusia secara fisik.
Ruh menunjukkan bahwa hidup adalah karunia Allah.
Jiwa menunjukkan siapa diri kita
sesungguhnya melalui akhlak, pilihan, dan amal perbuatan.
Maka ketika ditanya,
“Apakah jiwa itu manusia juga?”
Jawabannya: jiwa bukan manusia yang terpisah, tetapi jiwa adalah dimensi batin yang menjadikan manusia memiliki kesadaran, kehendak, dan tanggung jawab. Melalui jiwalah tampak kemuliaan atau kerendahan seorang manusia.
Karena itu, mempercantik jasad adalah baik, tetapi lebih penting lagi memperindah jiwa dengan ilmu, keikhlasan, kesabaran, dan dzikir kepada Alloh. Sebab pada akhirnya, kemuliaan manusia tidak diukur dari bentuk jasadnya, melainkan dari kebersihan jiwa dan ketaatannya kepada Sang Pencipta.
Wallohu a’lam bish-shawab. Semoga jasad kita sehat, ruh kita mendapat rahmat, dan jiwa kita senantiasa menuju ketenangan (nafs al-muthma’innah). Aamiin. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
