SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Menghiasi Rumah Tangga Dengan Canda Yang Positif: Seni Bergembira, Menjaga Hati, dan Meneladani Rasulullah ﷺ

Menghiasi Rumah Tangga Dengan Canda Yang Positif: Seni Bergembira, Menjaga Hati, dan Meneladani Rasulullah ﷺ

Menghiasi Rumah Tangga Dengan Canda Yang Positif: Seni Bergembira, Menjaga Hati, dan Meneladani Rasulullah ﷺ
Menghiasi Rumah Tangga Dengan Canda Yang Positif: Seni Bergembira, Menjaga Hati, dan Meneladani Rasulullah ﷺ

SURAU.CO – Rumah tangga tidak hanya membutuhkan nafkah, tempat tinggal, dan pembagian tugas. Rumah tangga juga membutuhkan suasana yang membuat setiap anggota keluarga merasa diterima, dihargai, dan dicintai. Salah satu unsur sederhana yang sering dilupakan adalah canda yang positif.

Canda bukan sekadar membuat orang tertawa. Dalam kehidupan keluarga, canda dapat menjadi jembatan komunikasi, mencairkan ketegangan, menguatkan kedekatan emosional, dan menghadirkan kebahagiaan. Namun, canda juga dapat berubah menjadi luka apabila dibangun di atas kebohongan, penghinaan, membuka aib, atau menyentuh kelemahan pasangan.

Islam tidak mengajarkan kehidupan rumah tangga yang kaku. Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama umat manusia juga menunjukkan bahwa kehidupan keluarga memiliki ruang untuk senyum, kelembutan, perhatian, dan kegembiraan.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Berbicara

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”¹

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan bukan sekadar hidup bersama secara fisik, tetapi menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Rumah ideal adalah tempat seseorang menemukan ketenteraman setelah menghadapi kerasnya kehidupan di luar rumah.

Canda sebagai Bahasa Kasih Sayang

Dalam hubungan suami istri, komunikasi tidak selalu harus berlangsung dalam suasana serius. Ada waktunya pasangan berbicara tentang pekerjaan, ekonomi, pendidikan anak, dan berbagai persoalan keluarga. Tetapi ada pula waktunya mereka tertawa bersama, bercanda, saling menggoda dengan cara yang santun, dan menikmati kebersamaan.

Inilah salah satu bentuk keseimbangan dalam rumah tangga.

Rasulullah ﷺ merupakan teladan dalam hal tersebut. Beliau dikenal sebagai pribadi yang ramah, murah senyum, dan mampu menciptakan suasana hangat bersama orang-orang di sekitarnya.

Sanksi Hukum Islam: Adil Dan yang Terbaik

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa ia pernah berlomba lari bersama Rasulullah ﷺ. Pada suatu perlombaan, Aisyah mengalahkan beliau. Pada kesempatan berikutnya, Rasulullah ﷺ mengalahkannya dan beliau bersabda dengan nada bercanda bahwa kemenangan itu sebagai balasan atas kemenangan sebelumnya.²

Kisah ini memberikan pelajaran penting: kegembiraan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang tercela selama berada dalam batas syariat dan tidak mengandung kebohongan atau penghinaan.

Canda Rasulullah ﷺ bukan canda yang merusak kehormatan. Beliau tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan tertawaan. Beliau juga tidak menjadikan kebohongan sebagai sarana untuk membuat orang tertawa.

Karena itu, canda dalam keluarga seharusnya menjadi bahasa kasih sayang, bukan senjata untuk melukai pasangan.

Rasulullah ﷺ Bercanda, tetapi Tidak Berdusta

Islam mengajarkan kejujuran dalam seluruh keadaan, termasuk ketika seseorang sedang bercanda.

Belajar Memafkan Orang Lain: Merawat Hati, Menguatkan Jiwa, dan Mendekat kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا

“Aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.”

Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah ﷺ bercanda, tetapi canda beliau tetap berada dalam koridor kebenaran.³

Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan rumah tangga.

Jangan mengatakan kepada pasangan, “Saya sudah menceraikanmu,” hanya untuk bercanda. Dan jangan mengatakan, “Saya punya pasangan lain,” hanya untuk melihat reaksi pasangan. Jangan mengatakan, “Anak ini bukan anak saya,” lalu tertawa ketika melihat pasangan panik. Jangan pula membuat kebohongan tentang sesuatu yang sangat sensitif kemudian beralasan, “Kan cuma bercanda.”

Canda yang membuat orang lain takut, gelisah, atau terluka bukanlah canda yang sehat.

Tertawa sesaat tidak sebanding dengan luka yang mungkin tersimpan bertahun-tahun.

“Sebaik-baik Kalian adalah yang Paling Baik kepada Keluarganya”

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”⁴

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran akhlak seseorang tidak hanya terlihat ketika ia berada di masjid, tempat kerja, atau tengah masyarakat. Salah satu ukuran penting justru terlihat dari perilakunya ketika berada di rumah.

Seseorang mungkin sangat ramah kepada orang lain, tetapi kasar kepada istrinya. Bisa jadi ia mudah tersenyum kepada teman, tetapi mudah marah kepada anak. Ia mungkin sopan kepada orang yang baru dikenal, tetapi merendahkan orang yang setiap hari hidup bersamanya.

Padahal keluarga adalah orang-orang yang paling berhak mendapatkan akhlak terbaik.

Karena itu, canda positif merupakan salah satu bentuk kebaikan kepada keluarga apabila dilakukan dengan tepat.

Jangan Menjadikan Kekurangan Pasangan sebagai Bahan Canda

Ada perbedaan besar antara bercanda bersama pasangan dan menertawakan pasangan.

Bercanda bersama berarti kedua belah pihak merasa nyaman dan bahagia. Sementara menertawakan pasangan sering kali menjadikan salah satu pihak sebagai objek penghinaan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka.”⁵

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan keluarga.

Jangan menjadikan bentuk tubuh pasangan sebagai bahan ejekan. Jangan mengejek pendidikan pasangan. Dan Jangan mengungkit keluarganya. Jangan mempermalukan kondisi ekonominya. Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai bahan candaan di depan anak atau keluarga besar.

Menurut Ibn Katsir, larangan dalam ayat tersebut berkaitan dengan tindakan merendahkan dan meremehkan orang lain. Seseorang tidak boleh merasa dirinya lebih tinggi karena boleh jadi orang yang ia hina justru lebih mulia di sisi Allah.⁶

Al-Qurthubi juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia serta larangan melakukan penghinaan yang merusak martabat.⁷

Jika prinsip ini diterapkan dalam rumah tangga, maka pasangan akan merasa aman secara emosional.

Canda Jangan Menjadi Alat Pelampiasan

Kadang seseorang berkata, “Saya cuma bercanda,” setelah mengeluarkan perkataan yang sebenarnya merupakan kemarahan yang disamarkan.

Misalnya:

“Memang kamu dari dulu tidak pernah bisa diandalkan.”

“Makanya jangan sekolah tinggi-tinggi kalau begini.”

“Kalau bukan karena anak-anak, saya sudah pergi.”

“Lihatlah tetangga kita, istrinya lebih pandai mengurus rumah.”

Kalimat-kalimat semacam itu mungkin disampaikan sambil tertawa, tetapi belum tentu diterima sebagai candaan.

Ada kalanya pasangan tersenyum di hadapan kita, tetapi menangis ketika sendirian.

Karena itu, sebelum bercanda, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah perkataan ini benar-benar membuat pasangan bahagia, atau sebenarnya saya sedang menyampaikan kemarahan?

Canda yang sehat membuat hubungan semakin dekat. Canda yang beracun membuat seseorang semakin menjauh.

Memahami Perasaan Pasangan

Setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda.

Ada pasangan yang mudah tertawa ketika digoda. Ada pula yang lebih sensitif terhadap perkataan tertentu. Dan Ada orang yang tidak keberatan ketika masalah tertentu dijadikan candaan. Ada pula yang memiliki pengalaman pribadi sehingga hal tersebut sangat menyakitkan.

Karena itu, suami dan istri perlu mengenal batas masing-masing.

Jika pasangan mengatakan, “Saya tidak suka kalau masalah itu dijadikan bahan bercanda,” maka hargailah.

Cinta bukan hanya mengetahui apa yang membuat pasangan tertawa. Cinta juga mengetahui apa yang tidak boleh dijadikan bahan tertawaan.

Inilah kedewasaan dalam komunikasi rumah tangga.

Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”⁸

Kata-kata yang baik tidak kehilangan nilainya hanya karena disampaikan dalam suasana bercanda.

Canda yang Mendidik Anak

Canda positif juga penting dalam hubungan orang tua dan anak.

Rumah yang terlalu tegang dapat membuat anak takut berkomunikasi. Sebaliknya, rumah yang hangat membuat anak lebih mudah menyampaikan perasaan, kesulitan, dan masalah yang dihadapinya.

Namun, orang tua harus berhati-hati. Jangan menjadikan anak sebagai objek lelucon di depan saudara, teman, atau keluarga besar.

Misalnya, ketika anak melakukan kesalahan membaca, jangan langsung mengatakan:

“Dasar bodoh!”

“Memang kamu tidak bisa apa-apa.”

“Lihat adikmu, dia lebih pintar.”

Mungkin orang tua menganggapnya candaan, tetapi anak dapat menyimpannya sebagai luka.

Anak membutuhkan koreksi, tetapi koreksi tidak harus menghancurkan harga dirinya.

Rasulullah ﷺ memberikan teladan kasih sayang yang sangat besar kepada anak-anak. Beliau mencium, memeluk, dan menunjukkan perhatian kepada mereka.⁹

Dengan demikian, pendidikan dalam keluarga tidak harus selalu menggunakan nada tinggi. Senyum, sentuhan, permainan, dan canda yang sehat juga dapat menjadi bagian dari pendidikan.

Canda Memperkuat Komunikasi Suami Istri

Kehidupan rumah tangga menghadapi banyak tekanan: ekonomi, pekerjaan, pendidikan anak, kesehatan, hubungan sosial, dan berbagai persoalan lainnya.

Jika seluruh percakapan di rumah hanya berisi masalah, maka suasana rumah dapat terasa berat.

Karena itu, pasangan perlu menciptakan ruang untuk menikmati kebersamaan.

Makan bersama sambil bercanda.

Berjalan bersama sambil berbincang.

Mengenang kisah lucu masa lalu.

Membuat lelucon ringan tentang aktivitas sehari-hari.

Menonton sesuatu yang menghibur bersama keluarga.

Semua itu dapat menjadi cara sederhana membangun kedekatan emosional.

Namun, tujuan utamanya bukan sekadar tertawa. Tujuannya adalah membangun hubungan.

Jangan Bercanda tentang Perceraian

Ada satu jenis canda yang sebaiknya sangat dihindari dalam rumah tangga: bercanda dengan menggunakan ancaman perceraian.

“Kalau kamu begini terus, saya ceraikan.”

“Saya nikah lagi saja.”

“Kita berpisah saja.”

Kalimat seperti itu bukan bahan permainan.

Pernikahan adalah akad yang memiliki konsekuensi agama dan sosial yang besar. Karena itu, pembicaraan tentang perceraian, perselingkuhan, atau pernikahan dengan orang lain tidak seharusnya dijadikan bahan permainan emosional.

Bagi pasangan yang sedang menghadapi masalah, kalimat seperti itu dapat menimbulkan rasa tidak aman.

Canda seharusnya menjadi jalan menuju ketenteraman, bukan sumber kecemasan.

Lima Prinsip Canda Positif dalam Rumah Tangga

Agar canda tetap menjadi bagian dari keharmonisan keluarga, ada setidaknya lima prinsip yang dapat diterapkan.

Pertama, jangan berdusta.
Canda tidak boleh dibangun di atas kebohongan yang menipu atau menakut-nakuti.

Kedua, jangan menghina.
Jangan menjadikan fisik, pendidikan, pekerjaan, keluarga, atau kelemahan pasangan sebagai bahan ejekan.

Ketiga, lihat situasi.
Tidak semua keadaan cocok untuk bercanda. Ketika pasangan sedang sedih, marah, sakit, atau menghadapi masalah berat, yang dibutuhkan mungkin bukan lelucon, tetapi empati.

Keempat, jangan membuka aib.
Apa yang terjadi di kamar rumah tangga tidak semuanya layak diceritakan kepada orang lain hanya demi membuat mereka tertawa.

Kelima, pastikan canda membawa kedekatan.
Setelah bercanda, hubungan seharusnya terasa lebih hangat, bukan semakin dingin.

Rumah yang Bahagia Tidak Harus Rumah yang Sempurna

Rumah tangga bahagia bukan berarti tidak pernah bertengkar.

Dan Rumah tangga bahagia bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat.

Rumah tangga bahagia juga bukan berarti seluruh anggota keluarga selalu tertawa.

Rumah tangga bahagia adalah rumah yang memiliki kemampuan untuk kembali kepada kasih sayang setelah menghadapi persoalan.

Di dalamnya ada ruang untuk meminta maaf, memaafkan, berbicara, mendengarkan, tersenyum, dan bercanda.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam membangun kehidupan keluarga. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”¹⁰

Maka, jika ingin membangun rumah tangga yang hangat, jangan hanya belajar bagaimana menyelesaikan konflik. Belajarlah pula bagaimana menciptakan kegembiraan.

Jangan hanya belajar bagaimana menegur pasangan. Belajarlah bagaimana membuat pasangan merasa dihargai.

Jangan hanya belajar bagaimana menjadi kepala keluarga. Belajarlah bagaimana menjadi sahabat bagi pasangan dan anak-anak.

Canda yang Mengandung Pahala

Canda yang baik bukan sekadar hiburan. Ia dapat menjadi bagian dari akhlak mulia apabila diniatkan untuk membahagiakan keluarga dan dilakukan dalam batas yang dibenarkan agama.

Senyuman kepada pasangan dapat menjadi sedekah.

Perkataan yang lembut dapat menguatkan hati.

Pelukan kepada anak dapat menumbuhkan rasa aman.

Canda yang santun dapat mencairkan ketegangan.

Dengan demikian, kebahagiaan rumah tangga tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah sebuah senyuman ketika pasangan pulang.

“Bagaimana harimu?”

“Sudah makan?”

“Terima kasih sudah berjuang hari ini.”

Lalu disusul canda kecil yang membuat suasana menjadi hangat.

Hal-hal sederhana semacam itu dapat memiliki makna besar dalam perjalanan sebuah keluarga.

Penutup: Jadikan Rumah Tempat Hati Pulang

Rumah seharusnya menjadi tempat hati pulang.

Di luar rumah mungkin seseorang menghadapi persaingan, tekanan pekerjaan, kritik, dan berbagai persoalan. Namun ketika pintu rumah dibuka, ia berharap menemukan ketenangan.

Karena itu, jangan menjadikan rumah sebagai tempat menumpahkan semua kemarahan.

Jangan menjadikan pasangan sebagai sasaran ejekan.

Jangan menjadikan anak sebagai bahan perbandingan.

Dan jangan menjadikan canda sebagai alasan untuk melukai orang yang kita cintai.

Hiasilah rumah tangga dengan doa, ibadah, komunikasi yang baik, saling menghargai, dan canda yang positif.

Tertawalah bersama, tetapi jangan menertawakan pasangan.

Bercandalah, tetapi jangan berdusta.

Berguraulah, tetapi jangan merendahkan.

Buatlah pasangan tersenyum, tetapi jangan membuatnya menangis karena candaan kita.

Sebab rumah tangga yang indah bukan rumah yang tidak pernah menghadapi masalah. Rumah tangga yang indah adalah rumah yang di dalamnya setiap orang merasa dicintai, dihargai, dimengerti, dan aman.

Pada akhirnya, kebahagiaan keluarga tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang ia tumbuh dari kata-kata sederhana, senyum yang tulus, perhatian yang kecil, dan canda yang membuat hati berkata:

“Inilah rumahku. Di sinilah aku dicintai.”

Catatan Kaki

  1. Al-Qur’an, QS. al-Rum [30]: 21; Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, ed. Sami ibn Muhammad Salamah, ed. ke-2 (Riyadh: Dar Tayyibah li al-Nashr wa al-Tawzi‘, 1999), tafsir QS. al-Rum [30]: 21.

  2. Abu Dawud Sulayman ibn al-Asy‘ats, Sunan Abi Dawud, Kitab al-Jihad, hadis no. 2578.

  3. Muhammad ibn ‘Isa al-Tirmidhi, Jami‘ al-Tirmidhi (Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1998), Kitab al-Birr wa al-Silah, bab tentang canda Rasulullah ﷺ.

  4. Al-Tirmidhi, Jami‘ al-Tirmidhi, hadis no. 3895. Lihat pula Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, Kitab al-Nikah.

  5. Al-Qur’an, QS. al-Hujurat [49]: 11.

  6. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Hujurat [49]: 11.

  7. Muhammad ibn Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, ed. Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfayyish (Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964), tafsir QS. al-Hujurat [49]: 11.

  8. Al-Qur’an, QS. al-Baqarah [2]: 83.

  9. Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, bab tentang rahmat kepada anak dan menciumnya; Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Fada’il.

  10. Al-Qur’an, QS. al-Ahzab [33]: 21.

  11. Al-Qur’an, QS. Ali ‘Imran [3]: 159; Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 159.

  12. Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 159, mengenai kelembutan sebagai bagian penting dalam hubungan manusia.

  13. ‘Abdullah Nasih ‘Ulwan, Tarbiyat al-Awlad fi al-Islam (Kairo: Dar al-Salam, 1992), pembahasan tentang pendidikan anak melalui kasih sayang, perhatian, dan pendekatan psikologis.

  14. Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, ed. Shu‘ayb al-Arna’ut (Beirut: Mu’assasat al-Risalah, 2001), berbagai riwayat mengenai akhlak, kelembutan, dan interaksi Rasulullah ﷺ bersama keluarga dan masyarakat.

  15. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadis-hadis tentang kasih sayang dan kelembutan dalam hubungan antarmanusia.

Daftar Pustaka

Abu Dawud, Sulayman ibn al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Al-Maktabah al-‘Asriyyah, n.d.

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir, 2002.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Diedit oleh Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfayyish. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964.

Al-Tirmidhi, Muhammad ibn ‘Isa. Jami‘ al-Tirmidhi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1998.

Ibn Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad ibn Hanbal. Diedit oleh Shu‘ayb al-Arna’ut. Beirut: Mu’assasat al-Risalah, 2001.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Diedit oleh Sami ibn Muhammad Salamah. Edisi ke-2. Riyadh: Dar Tayyibah li al-Nashr wa al-Tawzi‘, 1999.

Ibn Majah, Muhammad ibn Yazid. Sunan Ibn Majah. Kairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, n.d.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, n.d.

‘Ulwan, ‘Abdullah Nasih. Tarbiyat al-Awlad fi al-Islam. Kairo: Dar al-Salam, 1992. (Tengku Iskandar)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.